Subversi kiri: bertahap melempar kapitalisme

Tulisan ini didasarkan pada kumpulan pengalaman-pengalamanku yang kacau (tidak teratur) tetapi entah kenapa bisa disambung-sambungkan menjadi sebuah pemikiran. Pertama, aku akan berbicara sedikit tentang sebuah podcast yang pernah aku dengar dari channel Aufhebunga Bunga yang berjudul Übermenschen of Capital. Di bagian pertama (pt. 1), dibicarakanlah masalah entrepreneurship dan hubungannya dengan kapitalisme. Agak sulit mengikuti karena berbahasa Inggris dan cukup mendalam (setingkat Doktor kali ya?), tetapi aku coba ikuti. Ada yang salah dengan entrepreneurship saat ini karena ia dilihat sebagai cara untuk menjadi kaya. Jadi, yang sebenarnya ada adalah kekaguman pada orang-orang kaya yang ini berbahaya karena kekayaan adalah hasil penimbunan dan akumulasi kapital yang berlebihan semacam itu bisa dilihat sebagai penindasan. Ini menjadikan entrepreneurship semacam perlombaan yang kreatif antara orang-orang dengan saling menindas untuk mendapatkan kekayaan. Dalam hal ini, entrepreneurship tidak dilihat sebagai usaha atau perjuangan untuk membangun sebuah usaha tetapi cara-cara yang dapat dilakukan (dengan bentuk penindasan yang kreatif) untuk menjadi kaya. Ia sepatutnya dipahami sebagai usaha untuk membangun usaha secara bersama-sama dan bermanfaat bagi semuanya, setidaknya bagi semua orang yang terlibat dalam membangun usaha itu.

Kedua, halaman Facebook dari anarkis.org eh salah, setelah saya cek, ternyata halaman Facebook K i d a l i s a s i terselubung Ыуат pernah menulis pos yang menunjukkan kira-kira bagaimana sebuah usaha dibangun dalam masyarakat anarkis (dengan contoh yang nyata). Dalam pemahamanku, apa yang ditunjukkan dalam pos ini dekat atau tepat dengan apa yang disebut market socialism. Dalam sosialisme pasar, proses produksi berjalan sesuai kaidah-kaidah sosialis atau sebut saja mode produksi sosialis tetapi hanya saja mekanisme pasar dibiarkan tetap ada untuk munculnya demand atas produk.

Ketiga, sepotong kecil pengetahuan yang berhubungan dengan postmodernisme mengenai consumer society. Dalam masyarakat konsumer, segalanya berjalan secara jauh berbeda dengan jenis masyarakat sebelumnya. Segalanya telah menjadi rumit, misalnya masuknya nilai-tanda ke dalam komoditas dan bagaimana orientasi masyarakat telah bergeser dari memproduksi ke mengkonsumsi produk sebanyak-banyaknya.

Yang pertama mengemukakan masalah entrepreneurship dalam kapitalisme dan masalah itu sepertinya diselesaikan oleh yang kedua dengan apa yang disebut sosialisme pasar dan yang kedua ini nampaknya lebih responsif mengenai keadaan zaman (yang dikemukakan oleh yang ketiga) bahwa masyarakat saat ini (terutama generasi muda) saya yakin tidak akan siap dengan (sebut saja) perekonomian non-pasar. Pada intinya, saya ingin mengatakan bahwa usaha overthrowing capitalism perlu berubah dari cara-cara yang revolusioner dan maskulin ke usaha-usaha yang subversif dan lebih applicable (sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini). Masalah utama mungkin adalah bagaimana terpaan informasi yang ‘ke-kiri-an’ ini (seperti di atas) lebih banyak dapat dimunculkan di media-media arus utama (daripada isu-isu politik dangkal yang tidak jelas). Ini diperlukan agar kita bisa ‘menyelamatkan’ generasi baru dari narasi-narasi kanan. Generasi lama mah sudah terlanjur kacau-balau.

Taktik yang berlingkup lebih luas dan untuk jangka panjang adalah memenangkan subversi, membuat benteng, dan memperluas wilayah. Misalnya, pertama kita memenangkan narasi entrepreneurship yang sosialis(tik). Kemudian, narasi ini dicobapertahankan dari serangan narasi yang kapitalistik bersamaan dengan melakukan perang narasi terhadap sisi-sisi atau wilayah lain. Ide ini terinspirasi pemikiran postmodern Foucault, Giddens, dan Bourdieu (promosi). Menurutku, ketika wakil-wakil rakyat tidak bisa diharapkan apalagi fobia komunisme masih belum dapat disembuhkan, cara-cara seperti ini diperlukan.

PESAN PENTING:

YA MBOK JANGAN BERKELAHI, WAHAI MARXIS DAN ANARKIS! TUJUAN KITA SAMA!

 

Advertisements

Tulisan (lawas) tentang cinta

Eureka dari Eureka Seven, Perempuan Fiksional Pertama yang Aku Jatuh Cinta Padanya

Sudut pandang lebih luas dalam memahami cinta

Cinta bukanlah sesuatu yang selalu ditujukan pada yang hidup dan nyata. Maka, mencintai “seorang” karakter fiksional adalah suatu bentuk cinta yang murni. Aku belum mengenal, pada waktu itu, aturan sosial yang membatasiku siapa atau apa yang “seharusnya” aku cintai.

Perempuan fiksional ini, Eureka, pertama kali, aku melihatnya di televisi. Saluran televisinya adalah Global TV dan nama programnya adalah Eureka Seven. Tiap pagi, sekitar pukul 04.00, aku bangun untuk menonton Eureka Seven.  Aku terpaku padanya dan hatiku berdegup kencang, seperti ketika aku melihat perempuan nyata pertama yang aku cintai. “Sepertinya aku jatuh cinta padanya.”

Laki-laki sekolah dasar kelas 4, aku, sangat menikmati perasaan baru ini. Seperti halnya aku malu untuk mengakui perasaan suka pada perempuan yang nyata, aku juga menyembunyikan perasaan sukaku pada Eureka. Aku hanya menceritakan pada, seingatku, dua orang laki-laki teman sekelas. Itu pun, menurut pandanganku sekarang, tampak seperti aku sedang mengungkapkan diri sebagai penggemar dari Eureka. Namun, ketika aku pikirkan kembali, aku mungkin sekedar menjadi penggemar selama ini. Meskipun perlu diingat, perasaan ini adalah murni. Bahkan, setelah sekian lama, perasaan ini masih belum pudar sepenuhnya.

Membicarakan cinta, aku pikir kita bisa membagi cinta sebagai perasaan dan nafsu. Aku, akhir-akhir ini, menyebut mereka sebagai philia dan eros. Cinta murni yang aku maksud disini adalah cinta yang di mana perasaan ada sebagai yang dominan. Aku pikir kita dapat merasakan cinta karena kita memiliki nafsu dan ia mempengaruhi apa yang kita cintai dan bagaimana kita mencintai (menunjukkan cinta). Aku beranggapan Eureka adalah perempuan yang cantik (menurut aku sekarang, imut). Alasan ini menjadi latar belakang dari cintaku baik pada Eureka dan perempuan nyata, yang merupakan bentuk nafsu dari cinta berdasarkan penilaian estetik. Maka, philia dan eros tidak dapat dipisahkan. Namun, aku beranggapan adalah lebih baik memahami cinta sebagai philia sebelum eros.

Cintaku pada Eureka telah membawaku pada hal-hal baru. Untuk mendapat akses pada episode-episode yang terlewat, aku mulai mencari-cari melalui internet. Kegiatan mencari-cari melalui internet ini telah membuatku mengenal fansub  dan nantinya budaya pop Jepang secara luas. Maka, sepatutnya, selama cinta kita adalah murni, kita tidak membatas-batasi apa yang “seharusnya” kita cintai dengan menganggap hal-hal tertentu adalah tidak seharusnya dicintai. Dengan cara ini, kita menjadi lebih jujur dalam mengekspresikan diri, khusunya cinta.

Referensi

Kontributor Wikipedia. Love (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Love diakses pada tanggal 10 Maret 2018)

Sebagian perjalanan Muhamad H. memahami cinta

Cinta: Sebuah konsep yang berkembang

Kali ini, aku menampilkan sebuah pengalaman dari sudut pandang seorang laki-laki Muhamad H. Siapakah Muhamad H.? Ia adalah aku. Dalam kesempatan ini, aku ingin menunjukkan bagaimana pemahamanku mengenai cinta terus berubah sepanjang waktu aku hidup. Ini akan fokus pada beberapa titik penting perubahan terjadi. Tiap orang memiliki kisah mereka masing-masing dan inilah kisahku.

Anak-anak

Masa di taman kanak-kanak adalah begitu menyenangkan. Aku mengenal lebih banyak teman, tidak hanya mereka yang di sekitar. Aku beranggapan, pada titik ini, bahwa aku mengenal sebuah konsep cinta sebagai pertemanan. Aku mencintai teman-temanku dan tidak ingin berpisah dari mereka. Ketakutanku untuk berpisah terlihat pada pilihan sekolah dasarku yang sangat dekat dengan taman kanak-kanak itu. Meskipun, aku sadar, kemudian, bahwa tidak semua anak mendaftar di sekolah dasar pilihanku.

Ada satu kejadian yang masih kuingat sampai sekarang, kejadian yang tidak begitu menyenangkan. Dasar diriku yang pesimistis! Kami sedang bermain, laki-laki menjadi semacam monster yang menakuti perempuan lain. “Huwraahh.. Huwraahh..,” kataku mengejar anak-anak perempuan. Beberapa anak laki-laki menggambari  wajah mereka, salah satu yang masih aku ingat adalah gambar kucing. Aku tertarik untuk mencobanya, tetapi ideku jauh berbeda dan tergolong gila. Aku mengambil banyak spidol dalam satu genggaman dan mencoret-coret wajahku. Aku tidak tahu seperti apa wajahku, tetapi aku begitu percaya diri melanjutkan permainan. Meskipun, nantinya, aku menangis karena malu.  Bukanlah teman-teman yang membuatku menangis tetapi wajah-wajah orang dewasa yang aku pahami sebagai merendahkan juga mengasihani. Teman-teman tertawa, tetapi aku tidak melihatnya sebagai suatu ejekan. Aku pikir mereka menganggap diriku lucu dan kreatif, bahkan dengan bangganya aku anggap itu suatu pujian. Aku rasa ini adalah pertanda bahwa cintaku pada mereka membuatku dapat berpikir positif.

Kita telah melihat pengalamanku dalam cinta yang memiliki kecenderungan positif, tetapi yang selanjutnya akan menjadi sebuah tragedi. Kelas 5 SD adalah masa di mana perkembanganku sampai pada puncaknya atau masa keemasan. Namun, apakah pantas disebut ‘keemasan’ jika di titik inilah perasaan dan cintaku mengalami kemunduran besar? Dengan kata lain, di titik inilah aku menjadi sangat rasional. Suatu hari, aku diganggu seorang teman kelas. Ia sudah melakukan ini berkali-kali, yang dalam istilah hari ini mungkin akan disebut bullying (perundungan). Tetapi, kata ‘perundungan’ tidak pernah ada di kamusku sampai sekarang. Aku melihatnya sebagai kejahilan. Aku menjadi tidak sabar dan mencoba menghajarnya sambil menangis. Aku sering menangis ketika aku masih anak-anak. Wali kelas yang kembali dari luar menemukan kami yang berkelahi dan mengusir kami pulang. Setelah kejadian itu, aku seperti menjadi seorang filsuf. Aku mempertanyakan kehidupan sosial yang ada yang tidak ideal, apa sebenarnya tujuan keberadaanku, bagaimana membuat dunia menjadi lebih baik. Aku tenggelam dalam pikiranku dan kehilangan kepercayaan pada orang lain.

Remaja

Bersekolah di sekolah menengah pertama yang jauh dari tempat tinggal membuatku percaya diri untuk memulai dari awal, meskipun tampaknya tidak berjalan baik. Ketakutan dan ketidakpercayaan dari masa lalu masih membayangiku dalam berhubungan. Di titik ini, aku menjadi stabil, tidak terlalu rasional dan emosional, tetapi sangat berhati-hati dan lebih suka mencari wilayah aman (dan nyaman). Satu kejadian khusus di sekolah menengah pertama adalah aku menyukai (mencintai) secara romantis seorang laki-laki, meskipun pada saat yang sama ada perempuan yang aku cintai. Aku tidak nyaman dengan perasaan baru ku ini, mencintai sesama jenis, bahkan kedua jenis. Tetapi, aku berusaha menyemangati diriku, mengatakan “aku tidak aneh, aku unik.” Cara berpikir seperti ini sangat membantu mengatasi homofobiaku nantinya. Perasaanku pada keduanya telah memudar, tetapi tetap berkesan sampai sekarang.

Jika kisah akhir masa anak-anakku adalah puncak kemunduran, kisah akhir masa remajaku adalah puncak kemajuan. Ketika kelas satu sekolah menengah atas, aku adalah seorang anti-sosial, penyendiri, pembolos (ke perpus, tetapi jarang). Perwajahan seorang Muhamad H. yang demikian itu seketika hancur ketika ia menangis tanpa menahan diri sama sekali di kelas ketika cerita seorang guru bimbingan konseling mengingatkannya pada hubungannya dengan ayah yang tidak baik. Meskipun, dalam hati aku juga tanpa henti mengutuk semua orang atau dengan kata lain, aku meluapkan seluruh perasaan yang senantiasa dipendam. Satu hal yang menarik bersamaan dengan kejadian ini adalah aku mendapat pengumuman bahwa aku mendapat nilai sempurna di sebuah ulangan mata pelajaran dan sebuah hadiah. Di titik inilah konsep cintaku mengenai keluarga mekar dan aku membangun kembali cintaku tentang pertemanan. Setelah kejadian ini, aku merasa teman-teman tidak memperdulikan seperti apa diriku sebelumnya.  Aku mulai mendapatkan kembali kepercayaan pada orang lain dan menemukan apa yang penting dari berhubungan.

Dewasa

“18 tahun sudah tergolong dewasa, bukan?” Bagian ini menekankan pada sudut pandangku saat ini, ketika menulis ini. Memasuki jenjang pendidikan tinggi di universitas telah membawaku berpikir lebih luas dan mendalam, kritis. Aku ingin memahami cinta pada diri manusia, khususnya pada sesama manusia.

Jika saya (cukup) beriman: Tuhan dan Kehendak

Iseng-iseng saya baca artikel Wikipedia berjudul “Philosopher”. Iseng-iseng saya baca tentang Al Ghazali. Iseng-iseng saya coba berfilsafat secara Islami. (Masih) Iseng-iseng (juga) saya tulis hasil pemikiran saya.

Allah SWT adalah sebab atas segala sesuatu, (istilah kerennya Aristoteles) “penggerak yang tidak digerakkan”. Dalam hal ini, saya coba hubungkan dengan konsep “Kehendak Kuasa” Nietzsche. Maka, kehendak adalah milik Allah SWT. Kehendak ini dicoba pahami oleh saya sebagai sesuatu yang tidak terbatas pada manusia. Dari pelajaran agama yang pernah saya dengar, Adam (manusia) hanya diberi (sebagian) pengetahuan dari Allah SWT. Merujuk ke Arkeologi-Genealogi Foucault, Kehendak memungkinkan adanya pengetahuan dan kekuasaan dan keduanya tidak dapat dipisahkan. Saya berspekulasi bahwa manusia tidak memiliki kehendak, tetapi memiliki semacam ilusi kehendak. Diberinya manusia pengetahuan menyebabkan manusia memiliki kekuasaan. Kekuasaan dan pengetahuan manusia memberi ilusi kehendak, padahal ia tidak memilikinya. Kehendak adalah milik Allah SWT. Allah SWT sebagai pencipta segala sesuatu (tentu saja selain diri-Nya) memberi (opsi) ‘tujuan utama’ pada manusia, yaitu menyembah Allah SWT, berdasarkan suatu konsepsi-Nya atas kebenaran. Namun, dengan pengetahuan dan kekuasaan, manusia dapat menciptakan tujuan-tujuan atau makna-makna hidup yang lain yang berbeda atau bahkan berlawanan. Inilah mengapa ada keberagaman dalam pilihan-pilihan hidup manusia. Dan disinilah, manusia diuji keimanannya.

Sekian.

Draft + Notifikasi

Dalam kebuntuan mencari ide untuk dasar teori proposal, aku menulis “ini”. Sebenarnya ini dibuat untuk semacam drama sangat singkat yang tidak dipentaskan. Singkatnya, ini sekadar coretan.

IMG_20181111_094443532.jpg

Aku akan pastikan ada semacam keteraturan dalam jadwal pos, seperti tiap minggu atau bulan. Juga, sekiranya agar tetap menjaga nuansa ketidakstabilan, isinya akan bermacam.

Komodifikasi atas Gurun Pasir

Banyak acara mengedukasi orang cara jadi kaya dan banyak kesempatan tersedia untuk membunuh keberadaan orang yang tidak ingin kaya. Banyak acara menandakan terpenuhinya hak dan banyak kesempatan merampas kepedulian atas nama pemenuhan hak. Tulisan ini adalah perwujudan dari pikiran saya (penulis), yang masih diberi kesempatan oleh Tuhan sehingga bisa berpikir (sedangkan para buruh kita terlalu lelah setelah bekerja).

Dunia itu seperti gurun pasir. Kepanasan dan kedinginan, plus kelaparan, memang menyiksa tetapi masih ada hujan dan pohon-pohon, serta bahkan surga genangan air. Tetapi manusia berpikir. Gurun pasir itu berhasil sebagiannya diubah jadi surga ternikmat di dunia. Hanya saja, ada tembok transparan. Kenikmatan itu ada di depan mata tetapi tidak dapat diraih. Beruntunglah orang-orang yang sudah berada di sisi dalam. Lebih parah, yang di sisi dalam “juga” saling membunuh. Sebagai orang yang (masih) percaya Tuhan, mungkin ini adalah dosa manusia karena berusaha tahu dan melampaui batas.

Apa yang tertulis di paragraf sebelumnya tidak merujuk fenomena yang sekarang disebut oleh Albert Einstein (Why Socialism?) “kejahatan terburuk kapitalisme” atau Dede Mulyanto (Geneologi Kapitalisme: Antropologi dan Ekonomi Politik Pranata Eksploitasi Kapitalistik) “akumulasi dalam anarki” (judul bab 4). Tetapi saya melihat ada suatu fenomena dunia yang statis terus ada bahkan sejak Adam dan Hawa (Eve) tinggal di bumi. Seperti, Qabil (Cabil) yang membunuh saudaranya demi mendapat tubuh perempuan yang ‘lebih cantik’. Sebagai catatan, tubuh adalah bagian dari gurun pasir karena pasir sama dengan tanah dan (menurut Islam) Adam diciptakan dari tanah, plus Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam. Mungkin ini bisa jadi inspirasi untuk pengejar nomena (esensi).

Kritisisme itu terkadang menghampakan. Analogi “gurun pasir” ini sebenarnya terinspirasi Jean Baudrillard “Amerika adalah Gurun Pasir” yang saya temukan di buku Akhyar Yusuf Lubis, Postmodernisme: Teori dan Metode. Setelah membaca bagian buku itu, kehampaan menggerogoti diri saya selama seminggu. Setelah seminggu itu, saya jatuh kembali ke hingar-bingar gurun pasir. Terus terang, kehampaan itu sedikit terasa ketika menulis ini. Namun, berfilsafat adalah mencintai kebijaksaan. Hampa sebentar sebagai refleksi tidak apa-apa tetapi sebaiknya jangan kebablasan.

Saya tidak ingin menjadi sok tahu tetapi, jika kita lihat masalah politik global, seorang Sigmund Freud pun mengaku sedih melihat imperialisme Israel (baca di Tirto.id, Yahudi yang Anti-Zionis, Yahudi yang Pro-Palestina). Dan bukan bermaksud mempromosikan” jalan kiri”, negara-negara dan partai-partai, tidak lupa individu-individu, sosialis (disebut komunis juga tidak apa-apa) sangat aktif membela Palestina. Melihat ini, saya jadi teringat waktu semester lalu ketika saya didebat adik saya yang masih belajar di bangku Sekolah Menengah Pertama kelas 3 karena mengatakan bahwa manusia adalah akar dari segala masalah di dunia yang maka masalah akan terselesaikan dengan ketiadaan manusia. Argumen dia mungkin rada antroposentris karena melihat dunia sebagai diciptakan oleh Yang Maha Kuasa untuk manusia. Lupakan kiri-kanan sejenak, cobalah tonton video Youtube Egoistic Altruism oleh Kurzgesagt – In a Nutshell!

Hidup Dalam Arus Kompetensi

“Aku penakut, maka aku ‘like’ dan ‘retweet’. Aku penakut, jadi harus selalu mengutip. Aku takut waktuku tak lama lagi, takut belum sempat berucap sekali pun.” – Muhamad Hardiyanto @HardAkito

Kutipan di atas adalah tweet saya (penulis) yang saya sematkan. Apa artinya? Artinya saya seorang yang gagal. Gagal untuk merasakan pengalaman hidup sebagaimana yang ditentukan. Dengan tanda harga yang rendah melekat di punggung.

Apa yang tertulis di paragraf sebelumnya, silakan abaikan! Tidak, abaikan keseluruhan tulisan ini! Karena memanglah tidak berguna, toh tidak berkontribusi pada pertambahan kapital. Yah, jika saja Anda sadar bahwa alam telah menulis hukumnya sendiri: (menurut bahasa manusia) bencana dan kiamat.

“Aku tidak pernah menyukai kehidupan normal. Jam kerja tetap, eksistensi waktu, di mana seluruh kegiatan kalian terhenti karena suara bel; di mana semua dipersiapkan dari awal hingga akhir selama berabad-abad dari generasi ke generasi.” —Gustave Flaubert, 2017, Memoirs of A Madman hal. 21

Kegilaan adalah berpikir di luar struktur berpikir orang tidak gila. Oleh karenanya, orang tidak gila akan kesulitan memahami pikiran orang gila. Dan oleh karenanya juga, orang tidak gila akan kesulitan memahami mengapa orang gila bangga dan bahagia dengan kegilaannya. Seperti, kenapa saya merasakan kenikmatan eksistensial dengan menulis ini?

Menjadi gila, namun, tidak selalu membahagiakan. Jati dirinya mungkin bahagia, tetapi struktur berbahagia yang mapan senantiasa menjatuhkan dari segala arah. Seperti, kenyataan bahwa saya belum pernah merasakan IP mencapai 3; kenyataan akan CV yang kosong karena tidak mengalami menjadi bagian organisaasi; kenyataan tentang kebisuan di hadapan wawancara; kenyataan atas waktu yang tak lama lagi.

Dari perspektif manusia-manusia yang mengenal sejak saya masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, saya tampak bodoh. Dari sudut pandang manusia-manusia yang mengenal sejak saya masuk Sekolah Menengah Atas, saya punya nilai tidak rendah. Seperti, kenyataan bahwa saya menulis, untuk pementasan kelas se-SMA, naskah drama tragedi eksklusif bertema gelap tentang kedewaan, pengulangan waktu, dan keberadaan; kenyataan akan menjadi kamus Inggris-Indonesia yang berjalan; kenyataan tentang kecintaan pada nuklir dan pikiran anti-kendaraan-bermotor; kenyataan atas self-proclaim sebagai tukang diperintah yang paling loyal.

“Yang membedakan manusia beradab dengan yang primitif terutama adalah prudensi, atau dalam istilah yang agak lebih luas, berwawasan ke depan.” — Bertrand Russel, 2002, Sejarah Filsafat Barat hal. 18

Mengikuti arus kompetensi berarti berusaha mengamankan kepastian akan masa depan. Saya adalah manusia (in-)kompeten yang hidup dalam diskursus bernama “pemberontakan”. Ah~!

Mengapa aku ke kiri?

Mengapa aku pindah haluan ke Sosialisme (Demokratis)?

Pada masa SMA dulu, aku penggilanya liberalisme-kapitalis. “Kesengsaraanmu (kemlaratan) adalah kesalahanmu,” pikir saya dulu.

Aku beruntung ketika kuliah dapat “pencerahan”, kenal ilmu sosial-politik dan filsafat. “Wah, gila ini! Harus diubah ini!” Sebenarnya dari dulu, bahkan sejak kelas 5 SD, aku sudah merasa ada yang ganjil atau tidak benar dengan masyarakat ini tetapi tidak tahu apa sebenarnya yang salah itu. “Kenapa orang-orang seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya diriku dulu. Karena aku tipe orang yang suka memberontak (radikal), negara yang condong ke “kanan”, kapitalisme, ini perlu putar setir ke “kiri”, sosialisme.

Ketika aku belajar sosialisme, aku lihat sosialisme (negara) yang ada di USSR (Uni Soviet) tidaklah tepat. Membunuh kebebasan individu adalah salah. Itu tidak sesuai dengan filsafat negara Indonesia, yaitu Pancasila. Pancasila menghargai tiap individu sebagai bagian dari masyarakat: masyarakat dibentuk oleh individu dan individu hanya akan berharga ketika menjadi bagian dari masyarakat (kata buku LKS PKn SMA).

Kebetulan melihat dinamika politik di AS (Amerika Serikat) yang ada “Democratic Socialism”, aku merasa “wow” dengan yang satu ini, sosialisme yang menghargai kebebasan individu (dengan imbuhan kata “demokratis”). Kecewaku adalah cita-cita mulia sosialis untuk keadilan sosial terlanjur dapat “citra buruk” dari kegagalan sosialis terdahulu dan orang partai komunis yang “kehilangan arah”.

Kapitalisme yang sangat jelas “ketidaksempurnaannya” menjadi seolah-olah seperti hukum alam yang tak dapat ditolak. Berbeda dengan sosialisme-komunisme yang adalah “ciptaan manusia”, kapitalisme itu muncul secara alami sebagai produk modernisasi-industrialisasi. Namun, yang sekadar ciptaan manusia itulah yang telah membuka mata orang, yang telah berkontribusi menggeser pikiran orang untuk tidak memeluk “kapitalisme murni”.

Sosialisme adalah “counter hegemony”-nya kapitalisme. Jika orang tidak diberitahu alternatif bahwa ada jalan “kiri” selain jalan “kanan”, orang akan beranggapan jalan yang ada hanya satu itu saja. Namun, sosialis tidaklah merasa yang paling benar, sosialis tidak antikritik. Aku masih terbuka untuk alternatif lain karena mungkin saja tidak hanya ada kanan dan kiri (mungkin masih ada depan dan belakang atau atas bawah atau yang ada di dimensi ke-empat, entahlah).

Pancasila menjamin keadilan sosial tetapi kapitalisme (hampir) tidak. Alasan itu menjadi motivasi (etis) saya menentang “keserakahan kapitalis”, selain itu, juga ada dampak lingkungan dari eksploitasi sumber daya alam. Aku menyambut baik hadirnya neokapitalisme, yaitu versi yang lebih berkeadilan dan mempersatukan (hutang sosial nol) dari kapitalisme. Meskipun aku bukan orang pintar dan orang bejo, aku juga (berusaha) berinovasi.

Mengangkat kembali guyonan lamaku: “Aku belum mau mati. Negaraku masih seperti ini.”

Tanggal dan bulan lahirku sama seperti Karl Marx 😀

My sexuality

Coming out? I’m a queer.

I never expected I will come to a conclusion that I am a queer. People who reject traditional gender identities and seek a broader and deliberately ambiguous alternative to the label LGBT may describe themselves as queer (Wikipedia, “Queer”). I’m 19 now (birthdate: May 5). In my old post (“I’m Indonesian but I love Yuri”), I told my story concerning sexuality. When I was 14, I was falling in love (having a romantic feeling) to a male friend. At the same time, I was liking a female friend. I still have a feeling for them, yet I never confess (I will! But my feelings are rather different now so it’s not to get a yes). That post was my self-proclaim as a yuri fan. I liking yuri has no influence on me liking the two since it happened before my proclaim.

How did I come this conclusion? I kept asking myself about my sexuality (more precisely my sexual orientation). Once I entered university, I got chances studying this (no, I actually studied yuri @_@” ). This kind of logic (what logic?) below took me to this conclusion.

  • Am I a heterosexual? I doubt I am. I do see some girls (&womans \(~o~)/ ) attractive, but I develop no romantic feeling.
  • Am I a gay? I doubt I am. I do see some guys attractive, but no difference.
  • Am I a bi? No. The two above explain it.
  • Interested being a trans? “I adore females! I want to become like them!” That’s me in elementary school. I still like cute (feminine) things, but I’m not sure. I’m grateful the way I am now.

What left is queer. It’s likely I don’t fit to any stated above (so it’s my only choice (°-°) ). I love yuri and read lots of yuri texts. Yeung Kayi’s thesis (2017), “Alternative Sexualities/Intimacies? Yuri Fans Community in Chinese Context” explains it. Briefly, I embrace an alternative sexuality, a pure relationship named Yuri love. A pure relationship involves mutual self-disclosure to each other in which their trust is built upon communication and the mutual disclosure (Giddens, 1991 in Kayi, 2017: 125).

What is queer, anyway? =_= I don’t really understand what it is. It’s just what the logic (what logic!?) leads me. I have tendencies to care my relationship with males more than females. Does it mean I am a gay? I’M A GAY! SERIOUSLY! But if we see homosexuality (and heterosexuality) as a continuum, everyone is gay (and heterosexual) at some point. Is it necessary to make this distinction in the first place? Yes, but…

Asexual? I think… I’m.. not an asexual. No. I read lots of R-18 manga, after all (@_@).

Celotehan tertulis – Pendidikan bag.1

Ketika membicarakan pendidikan, itu sungguh membuat kepalaku pusing. Mengapa tidak? Ada kurikulum.. karakter.. kompetensi.. blah blah.. menyebalkan. Namun saya peduli dengan ini. Ada perbedaan antara pekerja dan pelajar. Masalahnya adalah ‘belajar’ dianggap ‘pekerjaan’ atau ‘kebutuhan’. Keduanya sebenarnya bukan masalah besar.

Mengapa tidak setiap orang rajin? Itu susah bagiku untuk menjelaskan. Apakah pelajar yang menghabiskan waktu untuk hal non Akademis itu berarti dia malas? Apakah pelajar yang hebat di akademis dan buruk di non Akademis disebabkan karena pelajar tersebut rajin? Entahlah. Jika ‘belajar’ adalah ‘pekerjaan’, siswa belajar untuk mencapai target. Jika ‘belajar’ adalah ‘kebutuhan’, siswa belajar untuk mendapat apa yang dibutuhkannya. Mereka sama, kelihatannya.

Itu bukan masalahnya, ya? Bagaimana dengan ‘kebiasaan’ dan ‘kesukaan’? Akan bagus jika setiap pelajar belajar karena itu adalah ‘kebiasaan’ atau ‘kesukaan’, benar? Apa kita membicarakan No Game No Life? Pelajar dengan ‘kebiasaan’ belajar lebih seperti.. pelajar yang biasa membaca atau semacamnya, aku pikir. Umumnya orang mempelajari sesuatu karena dia menyukai sesuatu itu.

Suka, ya? Orang menyukai sesuatu.. “Ini menarik.” “Menakjubkan.” “Itu menyenangkan.” Jika aku mengambil bagian “Itu menyenangkan”, maka.. aku akan melihat-lihat pendidikan di negaraku. Untuk menyukseskan pendidikan, Indonesia mencoba sebuah konsep.. ‘kelas yang menyenangkan’. Bukan ide buruk sebenarnya. Tetapi apa yang ‘menyenangkan’? Apakah itu sesuatu yang membuat siswa menikmati kelas atau sekedar pelelepasan stres? Aku tidak tahu, aku bukan siswa yang merasakan kurikulum 2013 terevisi.

Jika aku mengambil bagian “Ini menarik”, maka.. aku akan melirik masa lalu sedikit. Biarkan aku berimajinasi! Seorang siswa terjun ke dunia keputusasan, namun dia menemukan sebuah harapan yang memberinya sayap untuk meninggalkan keputusasaan itu. Harapan itu adalah “Pelajaran ini menarik”.

Apa yang telah aku lakukan? Aku seharusnya mengerjakan pekerjaan rumahku, bukannya membuang waktu melakukan ini? Harus bagaimana lagi, sangat lama sejak aku menerbitkan pos semacam ini. Mari lanjutkan!

..