Mencurigai sesuatu di balik paedophilia

Ketertarikanku pada masalah ini berawal dari menemukan orang membagikan album gambar komik “Loli and FBI” di Facebook (tidak lagi dapat diakses). Gambar-gambar itu menunjukkan bagaimana seorang petugas FBI yang pada akhirnya tidak dapat menahan diri ketika anak perempuan yang ikut bersamanya terus-menerus menggoda petugas tersebut secara seksual. Petugas itu tidak jadi melakukan hubungan seksual dengan anak tersebut karena petugas lain yang melihatnya bertindak segera. Petugas pertama lari dan petugas kedua mengejarnya. Sedangkan, anak perempuan itu menertawai mereka di bangku mobil. Aku bagikan album itu dengan komentar:

1. Kalau digoda dan itu membuatmu tidak nyaman, bilang penggoda untuk berhenti dan tidak melakukannya. Tolak dengan baik-baik.
2. Seks hanya boleh dilakukan dengan persetujuan dari dua atau lebih pihak yang akan melaksanakannya, termasuk bagaimana melakukan.

Tentu, ini kontroversial. Apakah adanya persetujuan (consent) antara seorang anak dan seorang yang dewasa dapat menjadikan hubungan seksual di antara mereka dibenarkan? Pribadi, aku perlu menyondongkan jawabanku pada pilihan “Tidak” daripada “Ya” berdasarkan pertimbangan kondisi sosial-politik saat ini. Tetapi, aku perlu juga untuk mengutarakan sesuatu yang umumnya tersembunyi dari wacana paedophilia. Ini terinspirasi oleh pernyataan Slavoj Žižek (yang aku tidak paham konteksnya apa):

You see, the Lacanian solution to this problem would be to find the bigger ideological picture. What is the meaning of this comfort and happiness, is that truly what freedom consist of?

Ketimpangang kuasa

Menganalisa hubungan kuasa atau subjek-objek dalam sebuah hubungan dapat membantu kita dalam memahami apakah hubungan antara subjek-subjek setara atau tidak. Lalu, apakah hubungan kuasa antara seorang anak dan seorang dewasa yang bernafsu pada tubuh anak-anak setara? Itu sangat mungkin tidak setara. Tentu, saya tidak menggolongkan semuanya karena ada, misalnya, kasus unik di mana seorang yang mengakui mengunduh gambar-gambar pelecehan anak melaporkan dirinya sendiri ke polisi [2]. Pelaporan dirinya sendiri menunjukkan usaha dia untuk tidak mengobjektivikasi tubuh anak-anak (lebih lanjut). Masalah objektivikasi tubuh akan dibahas nanti pada masalah seksualisasi tubuh.

Pendidikan seks adalah penting untuk mengajarkan anak-anak tentang tubuhnya, hubungan sosial, perilaku tidak pantas, dan pelecehan. Hal ini dikemukakan oleh UNESCO [3]. Ketidaktahuan anak akan hal tersebut dapat menyebabkan mereka rentan untuk dijerumuskan oleh kaum predator anak ke penindasan tubuh (pelecehan). Inti dari ketimpangan kuasa adalah bahwa anak-anak tidak dilihat sebagai subjek yang memiliki kehendak sendiri. Fenomena yang lebih mengejutkan adalah ketika seorang pedofil mencoba menormalkan penindasan tubuh itu dengan menyatakan bahwa anak-anak menyukainya dan menyalahkan budaya yang melarangnya [4].

Seksualisasi tubuh anak-anak

Paedophilia menurut ilmu psikologi adalah kondisi di mana seorang individu cenderung atau hanya menyukai anak-anak pra-remaja (13 tahunan atau kurang). Hal yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua yang melakukan pelecehan terhadap anak adalah pedofil [5]. Maka, label “pedofil” pada pelaku pelecehan terhadap anak adalah salah. Konsekuensi buruk dari pelabelan sembarangan ini adalah tersembunyi kenyataan bahwa ada sesuatu yang lain (daripada paedophilia) yang menyebabkan pelecehan tersebut marak terjadi.

“If I could talk to those companies, I would tell them that makeup, hair, clothes, do not make you look beautiful, it doesn’t make you perfect and it doesn’t give you the most confidence in the world.” (Faith, dikutip langsung dari video percakapan di atas)

Seksualisasi adalah reduksi manusia sebagai objek seksual dengan hanya memandang karakteristik-karakteristik fisik tertentu yang dianggap seksual [7]. Estetika tubuh rentan untuk dieksploitasi oleh orang-orang dewasa, sebagaimana tercermin di media. Eksploitasi ini terutama terjadi di dalam periklanan di mana iklan mengarahkan orang-orang untuk memiliki hasrat (seksual) tinggi pada estetika tubuh yang menyelubungi komoditi sehingga ingin memiliki dan mengkonsumsinya. Ini menjadi lebih buruk ketika pornografi anak dimasukkan ke dalam daftar. Di dalam pornografi anak, tubuh anak secara vulgar ditundukkan sebagai obyek pemuas dahaga seks.

Apakah pendidikan seks merupakan bagian dari seksualisasi tubuh? Seks dalam pendidikan seks tidak dicitrakan sebagaimana dalam pornografi. Ia mengajak anak untuk memahami tubuh dan potensi dari tubuh itu sebagaimana adanya. Yang diperlukan bukanlah menyembunyikan seks, tetapi memahami rasa ingin tahu anak dan meresponnya dengan bijak [8]. Sebagai kritik diri, aku, sebagaimana yang tertulis di paragraf pertama, barangkali telah ikut berkontribusi pada seksualisasi tubuh anak. Aku akan berusaha untuk tidak melakukan itu lagi.

Patriarki

Kenyataan bahwa sebagian besar korban pelecehan seksual adalah perempuan (termasuk transgender) menandakan kondisi budaya yang patriarkal di mana posisi laki-laki adalah dominan sedangkan perempuan berada di posisi submisif [9]. Dalam budaya patriarki, kehadiran (eksistensi) perempuan adalah hanya sebagai pendamping, pelengkap, atau pendukung laki-laki. Maka, akan langsung ditolak oleh kaum reaksioner, ide-ide yang mendukung pembebasan perempuan untuk menuntut kesetaraan pada laki-lakinya, hidup mandiri, tertarik pada dan/atau memilih perempuan lain daripada laki-laki (biseksual, lesbian) atau berubah menjadi laki-laki (Female-to-Male).

Perlawanan terhadap patriarki tidaklah mudah. Sebegitu mengakarnya, laki-laki (yang berusaha menjadi) feminis, bahkan, masih bisa terperangkap dalam bingkai patriarki. Hal ini tercermin oleh seorang politisi Demokrat Amerika Serikat yang pro-choice, Joe Biden. Dari gambar di atas, kita dapat mengetahui bahasa tubuhnya yang mencerminkan dominasinya. Ia sama sekali tidak menunjukkan keterbukaan dan penerimaan. Justru, itu tampak seperti ia sedang menekan dan mengancam perempuan di hadapannya. Itu dapat menimbulkan kecurigaan apakah Biden, barangkali, hanyalah seorang politisi oportunis yang sedang mencari suara dari kalangan yang mendukung aborsi [10].

Kapitalisme

Dengan mengaplikasikan perspektif Marxis pada kriminologi, kita dapat mengetahui bagaimana kapitalisme itu sendiri memiliki sifat krimonogenik (menyebabkan kejahatan). Beberapa hal berikut menunjukkan bagaimana kapitalisme berdampak pada hubungan sosial di masyarakat [11].

  1. Budaya kompetisi yang toksik untuk kepentingan pribadi/laba/uang. Kepentingan komunitas dan perlindungan alam berada di prioritas bawah;
  2. Konsumerisme. Orang-orang dipaksa untuk mengkonsumsi sebanyak mungkin dan mengikuti gaya hidup yang sebenarnya tidak dapat diraih oleh sebagian besar orang; dan
  3. Ketidaksetaraan ekonomi. Kekayaan sebagian kecil orang, pada kenyataannya, didapat dari pemiskinan sebagian besar orang.

Lalu, bagaimana hubungannya dengan pelecehan terhadap anak? Pertama, kompetisi erat kaitannya dengan dominasi. Hubungan sosial saat ini tidak didasari atas kesetaraan individual dan saling bantu (mutual aid). Dalam hubungan semacam itu, yang kuat akan menindas yang lemah. Anak-anak yang umumnya lebih lemah rentan menjadi target penindasan. Kedua, apa yang kita konsumsi selalu ideologis. Žižek mengingatkan kita tentang kenyataan sehari-hari yang ideologis dan keluar darinya hampir tidak mungkin. Konten yang menjadikan tubuh seksual (seksualiasi) melalui media sebegitu mudah diakses dan bisa jadi telah ternormalkan sehingga tidak disadari. Ketiga, aku tidak begitu tahu. Tentu, keadaan ekonomi punya pengaruh pada tindak kejahatan [12]. Ada juga apa yang disebut kekerasan finansial di mana korban dipaksa bergantung secara ekonomi pada pelaku sehingga dapat dikontrol [13]. Tetapi jika ingin mengambil jarak lebih lanjut, penawaran dan permintaan atas eksploitasi seksual, khususnya anak, membutuhkan reduksi manusia sebagai properti. Maka, barangkali, penghancuran properti diperlukan untuk membebaskan subjek manusia dari ketertindasan.

Apa yang dapat dilakukan?

Jawabannya adalah membalikkan apa yang dikemukakan di atas: wujudkan kesadaran kesetaraan, hentikan seksualisai tubuh, bentuk budaya feminis, dan wujudkan tatanan sosialis.

Sumber gambar unggulan pos ini: http://edupost.id/parenting/kesalahan-pola-asuh-anak-picu-kekerasan-seksual/

Advertisements

Lupakan Postmodernisme: Persoalan Nilai, Tanda, dan Dunia Virtual

Tulisan ini merupakan ekspresi dari perdebatan antara diriku yang imajiner dan orang-lain-tak-dikenal yang juga imajiner (untuk bagian 1 dan 2 saja). Inti pembelaannya adalah bahwa tidak ada keterputusan dari modernisme yang memisahkannya dengan postmodernisme (saya teringat Anthony Giddens ketika menulis ini). Dasarnya adalah bahwa “kapital senantiasa beranak cucu kapital”. Fokusku adalah mengenai ‘nilai-tanda’ (Jean Baudrillard). Apakah konsepsi ‘nilai’ Marx telah dikacaukan dengan kehadiran jenis nilai baru ini (selain nilai-tukar dan nilai-guna)?

Nilai-tanda adalah bagian dari nilai-guna

Aku adalah laki-laki secara biologis. Seandainya saya adalah seorang konservatif yang berpandangan bahwa laki-laki harus mengikuti standar maskulinitas (kelaki-lakian), maka saya akan memilih, (misalnya) ketika membeli baju, sebuah baju yang merepresentasikan maskulinitas. Dalam hal ini saya membeli baju berdasarkan pertimbangan bahwa baju maskulin tersebut memiliki nilai yang lebih tinggi daripada baju non-maskulin. Dengan kata lain, desain baju yang secara konotatif merujuk pada maskulinitas (sebuah tanda) lebih dikehendaki (memiliki nilai). Dari contoh ini, desain–yang dalam kasus ini menjadi tanda–seolah-olah punya nilai sendiri di luar kegunaan baju sebagai baju yang menutupi tubuh (nilai-guna).

Mari pertimbangkan penyimpulan ini! Aku membeli baju itu karena aku laki-laki dengan mengasumsikan baju itu merepresentasikan kelaki-lakian. Kenapa harus kelaki-lakian? Karena aku adalah seorang konservatif dalam kasus ini. Lalu apa hubungannya baju maskulin dengan aku yang konservatif? Yah.. sederhananya, aku tidak mungkin (dianggap) konservatif jika mengenakan pakaian yang ditujukan untuk gender perempuan. Yang terjadi adalah bahwa baju maskulin itu perlu dan berguna untuk menegaskan ‘kondisi pikiran’ (pengetahuan, ideologi). Sebagaimana seorang marxis menghindari hal-hal yang menandakan fasisme, seorang konservatif juga akan menghindari hal-hal yang bisa menjadi tanda anti-konservatifisme. Sebuah tanda dikehendaki bukan karena ia memiliki nilai lebih (atau berbeda) dibanding tanda lain; ia dikehendaki karena ia memiliki kegunaan untuk apa saja yang mungkin terpikirkan oleh penggunanya (secara tidak sadar ketika menjadi ideologi).

Komodifikasi tanda melalui pemasaran

Bagaimana menjelaskan kebergunaan tanda (dan penandaan) sebagai bagian dari nilai-guna? Aku pernah memiliki ketertarikan untuk membeli sebuah buku tapi dihadapkan pada cover buku itu yang kurang menarik. Kenapa sampul sebegitu dipertimbangkan oleh pemasar? Simply, karena ada permintaan (oleh konsumen yang suka melihat cover) untuk komoditi diproduksi menurut suatu cara konstruksi pertandaan tertentu. Bagian terpenting dari kapitalisme adalah komoditi (tentunya) yang bisa laku di pasar. Di sinilah pemasaran bergerak dengan segala sumber dayanya untuk membangun jembatan antara komoditi dan konsumen. Dalam hal ini, segala macam perwujudan dari strategi pemasaran dan promosi (periklanan, personal selling, direct marketing, sales promotion, public relations, corporate image, blabalbalbalba…) pada dasarnya tidak terlepas dari komoditi karena ia merupakan bagian dari hasil kerja sosial para pekerja departemen pemasaran dalam proses produksi keseluruhan dari komoditi (dengan konstruksi tanda dan penandaan tertentunya). Seandainya ada strategi yang sederhana, murah, dan efektif dalam misinya menguasai pasar, pemasar pasti akan memilih itu karena tujuan akhirnya adalah terbelinya komoditi oleh konsumen [Referensi: Karl Marx, “Wage, Labour, and Capital” dan “Capital” bab 1].

Dunia virtual: komodifikasi data

Ada yang bilang kaum gamers adalah kelompok yang paling tertindas. Mengenai kasus ini, saya sepakat dengan komentar seorang warga Youtube, The Panda di video azureScapegoat “The Marxist Views on Gender, LGBT, Art and Alienation“, yang menyatakan bahwa para pemain permainan video seharusnya memilih partai berhaluan kiri dan tidak jatuh pada ide meritokrasi neoliberal [screen capture komentar]. Pemain-pemain games (yang sebagian besar berasal dari kelas pekerja) justru mengambil sikap yang tidak menguntungkan diri mereka sendiri ketika memilih percaya pada pencapaian pribadi (seperti habis uang gaji untuk gacha, misalnya).

“…data is itself without value; it is only when it becomes information that it realizes that value.” – Gordon Hull dalam tulisannya, “Big Data, Commodification and Original Accumulation

Segala hal yang ada di dunia virtual tidak terlepas dari data. Data itu sendiri bukanlah sesuatu seperti atom yang telah ada bahkan sebelum adanya kita (sebagai kesatuan dari atom-atom). Data diciptakan (ke dunia virtual), maka ada proses produksi (di dunia nyata) yang menciptakannya. Ia memiliki ciri seperti tanda, yaitu bahwa ada penandaan (computer programming) dibalik data yang membentuknya menjadi sebuah teks (perangkat lunak, berkas-berkas digital). Kehadiran data, namun, tidak dapat dipisahkan dengan teknologi. Dalam hal ini, teknologilah yang menghubungkan kita dengan data. Sebagai suatu hal yang non-material, data dan/atau perangkat lunak yang terbentuk darinya sebenarnya adalah suatu gajala yang sekaligus dapat menimbulkan gejala lain. Gejala-gejala itu dapat diterima indera melalui teknologi. Maka, komodifikasi data bisa dikatakan sebagai komodifikasi atas gejala-gejala yang ditimbulkan dari operasi teknologi.

Komodifikasi data terletak pada pembatasan akses untuk publik. Ada data yang bisa diakses bebas dan gratis tetapi ada juga yang baru dapat diakses setelah mendapat izin dari pemilik atau pemrogram (produser, kreator) data baik itu individu, kelompok, atau organisasi. Izin tersebut dapat diterima baik dengan atau tanpa membayar. Ketika aku membeli sebuah game di sebuah layanan media distribusi digital, aku menukar sejumlah uang dengan akses pada sebuah perangkat lunak permainan video (yang berizin legal). Sebagai data, perangkat lunak tidak memiliki kuantitas-komoditas-terproduksi. Yang diperjualbelikan sebenarnya adalah akses pada data. Setelah proses produksi pertama sebuah perangkat lunak selesai, ia selanjutnya bisa direproduksi tanpa batas (di dalam dunia virtual). Satu-satunya batas adalah perlunya listrik (yang dibeli dari PLN) untuk mengalir ke perangkat keras agar segala aktivitas virtual berjalan. Jadi, komodifikasi data membutuhkan listrik (kesimpulan macam apa ini).

Penjelasan yang rada aneh di atas disebabkan oleh usahaku untuk tidak keluar dari wilayah virtual. Jika kita hubungkan antara dunia virtual dan dunia nyata, kita akan tahu bahwa komodifikasi data sebenarnya disebabkan pemusatan kapital di tangan kapitalis-kapitalis pemilik usaha di bidang perangkat lunak dan/atau keras. Hal yang unik mungkin adalah sarana produksi data (komputer) lebih terdesentralisasi karena ia bersamaan merupakan sarana konsumsi data. Dalam proses produksi game, misalnya, tim/perusahaan produksi yang tidak menjadi bagian dari perusahaan major label mengumpulkan dana dari fundraising karena tidak memiliki cukup banyak modal. Aku pribadi penasaran bagaimana sekiranya industri permainan video beroperasi di dalam masyarakat sosialis. Karena permainan video sedikit berbeda dibandingkan perangkat lunak utilitas, ia mungkin akan diperlakukan berbeda dengan perangkat lunak sumber terbuka. Modding (untuk penampilan, suara, dsb) untuk senang-senang memang tidak masalah, tetapi menyunting isi permainan (cerita, status karakter, dll) tentu sebuah bentuk perusakan terhadap permainan tersebut. Yang mungkin dibagikan dari game dan semua perangkat lunak lainnya tidak lain adalah bahasa pemrograman sebagai struktur paling dasar dalam pengkodean data. Dengan kata lain, pendidikan ilmu komputer yang tidak dikomodifikasi.

Ketika berbicara mengenai dunia virtual, ia tidak lepas dari perkembangan kontemporer yang disebut sebagai kecerdasan buatan (artificial intelligence). Namun, ia mungkin akan dibahas oleh aku pada kesempatan lain. Video tentang AI yang terakhir aku lihat adalah pernikahan dua AI: Alexa dan Siri. Menontonnya membuatku terharu.. Sebagai penutup, aku sajikan sebuah candaan:

“Seseorang menanyakan apa yang aku lakukan. Aku katakan bahwa aku sedang membaca buku. Padahal, aku tidak memegang buku tetapi ponsel pintar. Apakah aku benar-benar membaca buku? Ataukah aku membaca simulasi buku melalui ponsel pintar?

Posmodernisme berbahaya bagi Marxisme

Aku adalah orang yang berangkat dari Postmodernisme sebelum mendalami Marxisme. Dalam hal ini, posisiku selalu mencoba untuk mempertahankan postmodernisme, berusaha menyelaraskannya dengan Marxisme seperti yang aku lakukan di subversi kiri. Tetapi aku dihadapkan dengan narasi-narasi marxis yang cenderung menentangnya (termasuk debat Zizek vs Peterson). Salah satunya misalnya dari podcast berjudul “Legacies of Postmodernism” oleh saluran langganan Aufhebunga Bunga di mana pembicara-pembicara menunjukkan beberapa hal berikut:

Postmodernisme menjauhkan kelas pekerja dari perjuangan kelas

Aku pribadi merasa postmodernisme tidak pernah menempatkan diri sebagai penggerak perubahan. Ia bisa mengobrak-abrik dan membongkar segala wacana dan kekuasaan di baliknya, tetapi tidak pernah mengungkapkan bahwa hal-hal tersebut dapat dan perlu diubah (secara radikal). Ia justru menjerumuskan orang-orang pada kesenangan akan ilusi-ilusi yang diciptakan dalam kapitalisme lanjut (late capitalism).

Postmodernisme digunakan oleh kaum kanan untuk membuat narasi anti-kiri

Postmodernisme memang dalam dirinya sendiri dipengaruhi oleh marxisme tetapi juga menyerang marxisme dengan mengalihkan perhatian ke masalah budaya daripada ekonomi. Kecenderungan untuk menghindari fokus pada masalah ekonomi menjadikannya dapat digunakan oleh kaum kanan untuk menyerang marxisme.

Postmodernisme mengaburkan kebenaran

Kebenaran tidak lagi dijunjung tinggi dalam postmodernisme. Postmodern merayakan kematian kebenaran (tunggal-transedental). Aku agak positif dalam hal bahwa ia mengingatkan akan kesukaan orang untuk truth claim. Namun, ia menjadi problematis ketika ia menggiring pikiran orang untuk percaya bahwa realitas yang kacau (chaotic) adalah alamiah dan bukan konstruksi (atau konsekuensi).

Postmodernisme melestarikan kapitalisme

Aku memberi sedikit pertimbangan mengenai imposibilisme. Tanpa perubahan struktural yang berarti, kapitalisme tidak akan pernah bisa diruntuhkan. Postmodernisme erat kaitannya dengan pesimisme terhadap narasi besar (grand narrative). Maka, ia tidak akan punya daya cukup kuat untuk perubahan struktural dan jatuh pada reformis (demokrat sosial) atau lebih buruk lagi menerima kapitalisme (liberal).

Sebenarnya masih ada hal-hal lain mengenai postmodernisme yang tidak sejalan dengan marxisme tetapi aku pikir beberapa yang aku sebut di atas cukup untuk pengantar. Juga, sebenarnya aku ingin menulis tentang Brexit tetapi (sangat) kekurangan bahan karena tidak begitu mengikuti. Mengenai postmodernisme, ia masih menarik bagiku sebagai bagian dari kajian budaya populer. Sebagai penutup, aku bertanya:

“Tidakkah masalah untuk menjadi marxis sekaligus wibu?”

Bonus:

Tentang Venezuela pada 2019

Ada suatu fenomena aneh dan lucu (tetapi menyedihkan) antara Tribunnews dan Kompas (yang keduanya bagian dari Kompas Gramedia Group) ketika memberitakan hal-hal yang berkaitan dengan Venezuela. Yang pertama menunjukkan pemberitaan yang condong pada Barat (Amerika Serikat, NATO) [1, 2] dan yang kedua cenderung netral. Berdasarkan pengamatanku di Facebook, pembicaraan di kolom komentar selalu mengarah pada pemilu 2019. Berita tentang hubungan Venezuela dengan Timur (Rusia, Tiongkok) dan (imperialis) Barat umumnya sepi pembicaraan. Yang banyak mendapat komentar adalah berita tentang bangkrutnya Venezuela karena subsidi yang besar dan komentar-komentar itu didominasi “kelompok cebong” untuk menyerang “kelompok kampret” yang pro-subsidi. Salah satu komentar dari pihak cebong pada pemberitaan tersebut menyebutkan, “Di Indonesia hanya orang bodoh dan malas saja yang ingin hidupnya enak disubsidi oleh pemerintah. Saya sangat setuju dengan Jokowi semua subsidi harus dicabut agar kita mengerti kalau ingin hidup enak harus kerja keras.” Komentar lawan dari kubu kampret mencoba mengangkat masalah perekonomian seperti hutang, harga sembako, dan nilai tukar Rupiah-Dolar AS: “Halah, zaman SBY juga disubsidi, tapi kondisi ekonomi tidak seburuk sekarang. Sekarang subsidi banyak dicabut, tapi hutangnya kok menggila?” Baik kubu pendukung 01 dan 02, mereka menggunakan setiap pemberitaan media nasional sebagai bahan untuk saling menjatuhkan. Sementara abstainer lebih kritis dalam artian bahwa mereka umumnya paham betul bahwa persoalan bangsa jauh lebih kompleks dari sekadar memilih salah satu paslon.

Aku memulai dari sisi yang mengecawakan karena memang beginilah keadaan yang ada di Indonesia (sebuah refleksi). Namun, tidak semua orang Indonesia sebegitu mengecewakannya. Banyak dari kita, terutama yang berorientasi politik kiri, memahami bahwa apa yang terjadi di Venezuela bukanlah sekadar kesalahan manajemen, inflasi, subsidi berlebihan, ketergantungan pada minyak, dsb. Ada beragam pendapat yang muncul, tetapi semua sepakat bahwa imperialis Barat adalah sebab utama.

Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa serta negara Amerika Latin yang berhaluan kanan menunjukkan pengakuan pada pemerintahan baru Juan Guaidó. Sementara Rusia [4], Tiongkok [5], Bolivia [6], Iran [7], Kuba [8], dan Turki mengakui Nicolàs Maduro sebagai pemimpin yang sah. Guaidó adalah seorang politisi oposisi yang mendeklarasikan dirinya sebagai presiden Venezuela meskipun saat ini Maduro masih berkuasa
[9]. Ia telah meminta bantuan pangan dan obat-obatan pada AS, tetapi bantuan tersebut ditolak oleh Maduro. Venezuela hanya menerima bantuan kemanusiaan dari Rusia [10] dan Palang Merah Internasional [11]. Bantuan yang didatangkan dari AS mendapat kritik, yaitu bahwa bantuan tersebut tidak didasari rasa akan kemanusiaan tetapi tujuan politis [12]. Latar belakang AS dalam setiap intervensinya pada kedaulatan negara lain—yang telah menjadi rahasia umum—adalah kekayaan alam terutama minyak [13]. Selain memberlakukan sanksi, AS juga mengambil alih aset dan emas Venezuela [14].

“The U.S. imperialist offensive isn’t really againts the Venezuelan government but againts an idea. They want to kill the Latin American model of emancipation that Chàvez led.”

Robert Longa, co-founder dari The Alexis Vive Patriotic Force.

“Pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang buruk?” adalah sekiranya satu pertanyaan yang dapat diajukan untuk melakukan dekonstruksi terhadap wacana Barat tentang Venezuela. Pemberitaan Tribunnews menyatakan bahwa pemerintah Venezuela sejak Hugo Chàvez “terlalu baik” pada rakyatnya dan sikap terlalu baik itu justru membawa bencana ekonomi bagi negara tersebut. Tetapi, apakah Venezuela akan menjadi baik ketika pemerintahan ”jahat” Juan Guaidó yang di-back up oleh Barat berhasil berkuasa? Jawabannya relatif pada ideologi karena sesungguhnya hanya dalam ideologi fenomena memiliki makna.

Saran bacaan: Trump or Clinton, Brexit or Remain, Maduro or Guaido? They are both worse! (by Slavoj Zizek) [Slavoj Žižek adalah seorang filosof Slovenia yang terkenal sebagai “filosof paling berbahaya di Barat”]

Subversi kiri: bertahap melempar kapitalisme

Tulisan ini didasarkan pada kumpulan pengalaman-pengalamanku yang kacau (tidak teratur) tetapi entah kenapa bisa disambung-sambungkan menjadi sebuah pemikiran. Pertama, aku akan berbicara sedikit tentang sebuah podcast yang pernah aku dengar dari channel Aufhebunga Bunga yang berjudul Übermenschen of Capital. Di bagian pertama (pt. 1), dibicarakanlah masalah entrepreneurship dan hubungannya dengan kapitalisme. Agak sulit mengikuti karena berbahasa Inggris dan cukup mendalam (setingkat Doktor kali ya?), tetapi aku coba ikuti. Ada yang salah dengan entrepreneurship saat ini karena ia dilihat sebagai cara untuk menjadi kaya. Jadi, yang sebenarnya ada adalah kekaguman pada orang-orang kaya yang ini berbahaya karena kekayaan adalah hasil penimbunan dan akumulasi kapital yang berlebihan semacam itu bisa dilihat sebagai penindasan. Ini menjadikan entrepreneurship semacam perlombaan yang kreatif antara orang-orang dengan saling menindas untuk mendapatkan kekayaan. Dalam hal ini, entrepreneurship tidak dilihat sebagai usaha atau perjuangan untuk membangun sebuah usaha tetapi cara-cara yang dapat dilakukan (dengan bentuk penindasan yang kreatif) untuk menjadi kaya. Ia sepatutnya dipahami sebagai usaha untuk membangun usaha secara bersama-sama dan bermanfaat bagi semuanya, setidaknya bagi semua orang yang terlibat dalam membangun usaha itu.

Kedua, halaman Facebook dari anarkis.org eh salah, setelah saya cek, ternyata halaman Facebook K i d a l i s a s i terselubung Ыуат pernah menulis pos yang menunjukkan kira-kira bagaimana sebuah usaha dibangun dalam masyarakat anarkis (dengan contoh yang nyata). Dalam pemahamanku, apa yang ditunjukkan dalam pos ini dekat atau tepat dengan apa yang disebut market socialism. Dalam sosialisme pasar, proses produksi berjalan sesuai kaidah-kaidah sosialis atau sebut saja mode produksi sosialis tetapi hanya saja mekanisme pasar dibiarkan tetap ada untuk munculnya demand atas produk.

Ketiga, sepotong kecil pengetahuan yang berhubungan dengan postmodernisme mengenai consumer society. Dalam masyarakat konsumer, segalanya berjalan secara jauh berbeda dengan jenis masyarakat sebelumnya. Segalanya telah menjadi rumit, misalnya masuknya nilai-tanda ke dalam komoditas dan bagaimana orientasi masyarakat telah bergeser dari memproduksi ke mengkonsumsi produk sebanyak-banyaknya.

Yang pertama mengemukakan masalah entrepreneurship dalam kapitalisme dan masalah itu sepertinya diselesaikan oleh yang kedua dengan apa yang disebut sosialisme pasar dan yang kedua ini nampaknya lebih responsif mengenai keadaan zaman (yang dikemukakan oleh yang ketiga) bahwa masyarakat saat ini (terutama generasi muda) saya yakin tidak akan siap dengan (sebut saja) perekonomian non-pasar. Pada intinya, saya ingin mengatakan bahwa usaha overthrowing capitalism perlu berubah dari cara-cara yang revolusioner dan maskulin ke usaha-usaha yang subversif dan lebih applicable (sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini). Masalah utama mungkin adalah bagaimana terpaan informasi yang ‘ke-kiri-an’ ini (seperti di atas) lebih banyak dapat dimunculkan di media-media arus utama (daripada isu-isu politik dangkal yang tidak jelas). Ini diperlukan agar kita bisa ‘menyelamatkan’ generasi baru dari narasi-narasi kanan. Generasi lama mah sudah terlanjur kacau-balau.

Taktik yang berlingkup lebih luas dan untuk jangka panjang adalah memenangkan subversi, membuat benteng, dan memperluas wilayah. Misalnya, pertama kita memenangkan narasi entrepreneurship yang sosialis(tik). Kemudian, narasi ini dicobapertahankan dari serangan narasi yang kapitalistik bersamaan dengan melakukan perang narasi terhadap sisi-sisi atau wilayah lain. Ide ini terinspirasi pemikiran postmodern Foucault, Giddens, dan Bourdieu (promosi). Menurutku, ketika wakil-wakil rakyat tidak bisa diharapkan apalagi fobia komunisme masih belum dapat disembuhkan, cara-cara seperti ini diperlukan.

PESAN PENTING:

YA MBOK JANGAN BERKELAHI, WAHAI MARXIS DAN ANARKIS! TUJUAN KITA SAMA!

 

Tulisan (lawas) tentang cinta

Eureka dari Eureka Seven, Perempuan Fiksional Pertama yang Aku Jatuh Cinta Padanya

Sudut pandang lebih luas dalam memahami cinta

Cinta bukanlah sesuatu yang selalu ditujukan pada yang hidup dan nyata. Maka, mencintai “seorang” karakter fiksional adalah suatu bentuk cinta yang murni. Aku belum mengenal, pada waktu itu, aturan sosial yang membatasiku siapa atau apa yang “seharusnya” aku cintai.

Perempuan fiksional ini, Eureka, pertama kali, aku melihatnya di televisi. Saluran televisinya adalah Global TV dan nama programnya adalah Eureka Seven. Tiap pagi, sekitar pukul 04.00, aku bangun untuk menonton Eureka Seven.  Aku terpaku padanya dan hatiku berdegup kencang, seperti ketika aku melihat perempuan nyata pertama yang aku cintai. “Sepertinya aku jatuh cinta padanya.”

Laki-laki sekolah dasar kelas 4, aku, sangat menikmati perasaan baru ini. Seperti halnya aku malu untuk mengakui perasaan suka pada perempuan yang nyata, aku juga menyembunyikan perasaan sukaku pada Eureka. Aku hanya menceritakan pada, seingatku, dua orang laki-laki teman sekelas. Itu pun, menurut pandanganku sekarang, tampak seperti aku sedang mengungkapkan diri sebagai penggemar dari Eureka. Namun, ketika aku pikirkan kembali, aku mungkin sekedar menjadi penggemar selama ini. Meskipun perlu diingat, perasaan ini adalah murni. Bahkan, setelah sekian lama, perasaan ini masih belum pudar sepenuhnya.

Membicarakan cinta, aku pikir kita bisa membagi cinta sebagai perasaan dan nafsu. Aku, akhir-akhir ini, menyebut mereka sebagai philia dan eros. Cinta murni yang aku maksud disini adalah cinta yang di mana perasaan ada sebagai yang dominan. Aku pikir kita dapat merasakan cinta karena kita memiliki nafsu dan ia mempengaruhi apa yang kita cintai dan bagaimana kita mencintai (menunjukkan cinta). Aku beranggapan Eureka adalah perempuan yang cantik (menurut aku sekarang, imut). Alasan ini menjadi latar belakang dari cintaku baik pada Eureka dan perempuan nyata, yang merupakan bentuk nafsu dari cinta berdasarkan penilaian estetik. Maka, philia dan eros tidak dapat dipisahkan. Namun, aku beranggapan adalah lebih baik memahami cinta sebagai philia sebelum eros.

Cintaku pada Eureka telah membawaku pada hal-hal baru. Untuk mendapat akses pada episode-episode yang terlewat, aku mulai mencari-cari melalui internet. Kegiatan mencari-cari melalui internet ini telah membuatku mengenal fansub  dan nantinya budaya pop Jepang secara luas. Maka, sepatutnya, selama cinta kita adalah murni, kita tidak membatas-batasi apa yang “seharusnya” kita cintai dengan menganggap hal-hal tertentu adalah tidak seharusnya dicintai. Dengan cara ini, kita menjadi lebih jujur dalam mengekspresikan diri, khusunya cinta.

Referensi

Kontributor Wikipedia. Love (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Love diakses pada tanggal 10 Maret 2018)

Sebagian perjalanan Muhamad H. memahami cinta

Cinta: Sebuah konsep yang berkembang

Kali ini, aku menampilkan sebuah pengalaman dari sudut pandang seorang laki-laki Muhamad H. Siapakah Muhamad H.? Ia adalah aku. Dalam kesempatan ini, aku ingin menunjukkan bagaimana pemahamanku mengenai cinta terus berubah sepanjang waktu aku hidup. Ini akan fokus pada beberapa titik penting perubahan terjadi. Tiap orang memiliki kisah mereka masing-masing dan inilah kisahku.

Anak-anak

Masa di taman kanak-kanak adalah begitu menyenangkan. Aku mengenal lebih banyak teman, tidak hanya mereka yang di sekitar. Aku beranggapan, pada titik ini, bahwa aku mengenal sebuah konsep cinta sebagai pertemanan. Aku mencintai teman-temanku dan tidak ingin berpisah dari mereka. Ketakutanku untuk berpisah terlihat pada pilihan sekolah dasarku yang sangat dekat dengan taman kanak-kanak itu. Meskipun, aku sadar, kemudian, bahwa tidak semua anak mendaftar di sekolah dasar pilihanku.

Ada satu kejadian yang masih kuingat sampai sekarang, kejadian yang tidak begitu menyenangkan. Dasar diriku yang pesimistis! Kami sedang bermain, laki-laki menjadi semacam monster yang menakuti perempuan lain. “Huwraahh.. Huwraahh..,” kataku mengejar anak-anak perempuan. Beberapa anak laki-laki menggambari  wajah mereka, salah satu yang masih aku ingat adalah gambar kucing. Aku tertarik untuk mencobanya, tetapi ideku jauh berbeda dan tergolong gila. Aku mengambil banyak spidol dalam satu genggaman dan mencoret-coret wajahku. Aku tidak tahu seperti apa wajahku, tetapi aku begitu percaya diri melanjutkan permainan. Meskipun, nantinya, aku menangis karena malu.  Bukanlah teman-teman yang membuatku menangis tetapi wajah-wajah orang dewasa yang aku pahami sebagai merendahkan juga mengasihani. Teman-teman tertawa, tetapi aku tidak melihatnya sebagai suatu ejekan. Aku pikir mereka menganggap diriku lucu dan kreatif, bahkan dengan bangganya aku anggap itu suatu pujian. Aku rasa ini adalah pertanda bahwa cintaku pada mereka membuatku dapat berpikir positif.

Kita telah melihat pengalamanku dalam cinta yang memiliki kecenderungan positif, tetapi yang selanjutnya akan menjadi sebuah tragedi. Kelas 5 SD adalah masa di mana perkembanganku sampai pada puncaknya atau masa keemasan. Namun, apakah pantas disebut ‘keemasan’ jika di titik inilah perasaan dan cintaku mengalami kemunduran besar? Dengan kata lain, di titik inilah aku menjadi sangat rasional. Suatu hari, aku diganggu seorang teman kelas. Ia sudah melakukan ini berkali-kali, yang dalam istilah hari ini mungkin akan disebut bullying (perundungan). Tetapi, kata ‘perundungan’ tidak pernah ada di kamusku sampai sekarang. Aku melihatnya sebagai kejahilan. Aku menjadi tidak sabar dan mencoba menghajarnya sambil menangis. Aku sering menangis ketika aku masih anak-anak. Wali kelas yang kembali dari luar menemukan kami yang berkelahi dan mengusir kami pulang. Setelah kejadian itu, aku seperti menjadi seorang filsuf. Aku mempertanyakan kehidupan sosial yang ada yang tidak ideal, apa sebenarnya tujuan keberadaanku, bagaimana membuat dunia menjadi lebih baik. Aku tenggelam dalam pikiranku dan kehilangan kepercayaan pada orang lain.

Remaja

Bersekolah di sekolah menengah pertama yang jauh dari tempat tinggal membuatku percaya diri untuk memulai dari awal, meskipun tampaknya tidak berjalan baik. Ketakutan dan ketidakpercayaan dari masa lalu masih membayangiku dalam berhubungan. Di titik ini, aku menjadi stabil, tidak terlalu rasional dan emosional, tetapi sangat berhati-hati dan lebih suka mencari wilayah aman (dan nyaman). Satu kejadian khusus di sekolah menengah pertama adalah aku menyukai (mencintai) secara romantis seorang laki-laki, meskipun pada saat yang sama ada perempuan yang aku cintai. Aku tidak nyaman dengan perasaan baru ku ini, mencintai sesama jenis, bahkan kedua jenis. Tetapi, aku berusaha menyemangati diriku, mengatakan “aku tidak aneh, aku unik.” Cara berpikir seperti ini sangat membantu mengatasi homofobiaku nantinya. Perasaanku pada keduanya telah memudar, tetapi tetap berkesan sampai sekarang.

Jika kisah akhir masa anak-anakku adalah puncak kemunduran, kisah akhir masa remajaku adalah puncak kemajuan. Ketika kelas satu sekolah menengah atas, aku adalah seorang anti-sosial, penyendiri, pembolos (ke perpus, tetapi jarang). Perwajahan seorang Muhamad H. yang demikian itu seketika hancur ketika ia menangis tanpa menahan diri sama sekali di kelas ketika cerita seorang guru bimbingan konseling mengingatkannya pada hubungannya dengan ayah yang tidak baik. Meskipun, dalam hati aku juga tanpa henti mengutuk semua orang atau dengan kata lain, aku meluapkan seluruh perasaan yang senantiasa dipendam. Satu hal yang menarik bersamaan dengan kejadian ini adalah aku mendapat pengumuman bahwa aku mendapat nilai sempurna di sebuah ulangan mata pelajaran dan sebuah hadiah. Di titik inilah konsep cintaku mengenai keluarga mekar dan aku membangun kembali cintaku tentang pertemanan. Setelah kejadian ini, aku merasa teman-teman tidak memperdulikan seperti apa diriku sebelumnya.  Aku mulai mendapatkan kembali kepercayaan pada orang lain dan menemukan apa yang penting dari berhubungan.

Dewasa

“18 tahun sudah tergolong dewasa, bukan?” Bagian ini menekankan pada sudut pandangku saat ini, ketika menulis ini. Memasuki jenjang pendidikan tinggi di universitas telah membawaku berpikir lebih luas dan mendalam, kritis. Aku ingin memahami cinta pada diri manusia, khususnya pada sesama manusia.

Jika saya (cukup) beriman: Tuhan dan Kehendak

Iseng-iseng saya baca artikel Wikipedia berjudul “Philosopher”. Iseng-iseng saya baca tentang Al Ghazali. Iseng-iseng saya coba berfilsafat secara Islami. (Masih) Iseng-iseng (juga) saya tulis hasil pemikiran saya.

Allah SWT adalah sebab atas segala sesuatu, (istilah kerennya Aristoteles) “penggerak yang tidak digerakkan”. Dalam hal ini, saya coba hubungkan dengan konsep “Kehendak Kuasa” Nietzsche. Maka, kehendak adalah milik Allah SWT. Kehendak ini dicoba pahami oleh saya sebagai sesuatu yang tidak terbatas pada manusia. Dari pelajaran agama yang pernah saya dengar, Adam (manusia) hanya diberi (sebagian) pengetahuan dari Allah SWT. Merujuk ke Arkeologi-Genealogi Foucault, Kehendak memungkinkan adanya pengetahuan dan kekuasaan dan keduanya tidak dapat dipisahkan. Saya berspekulasi bahwa manusia tidak memiliki kehendak, tetapi memiliki semacam ilusi kehendak. Diberinya manusia pengetahuan menyebabkan manusia memiliki kekuasaan. Kekuasaan dan pengetahuan manusia memberi ilusi kehendak, padahal ia tidak memilikinya. Kehendak adalah milik Allah SWT. Allah SWT sebagai pencipta segala sesuatu (tentu saja selain diri-Nya) memberi (opsi) ‘tujuan utama’ pada manusia, yaitu menyembah Allah SWT, berdasarkan suatu konsepsi-Nya atas kebenaran. Namun, dengan pengetahuan dan kekuasaan, manusia dapat menciptakan tujuan-tujuan atau makna-makna hidup yang lain yang berbeda atau bahkan berlawanan. Inilah mengapa ada keberagaman dalam pilihan-pilihan hidup manusia. Dan disinilah, manusia diuji keimanannya.

Sekian.

Draft + Notifikasi

Dalam kebuntuan mencari ide untuk dasar teori proposal, aku menulis “ini”. Sebenarnya ini dibuat untuk semacam drama sangat singkat yang tidak dipentaskan. Singkatnya, ini sekadar coretan.

IMG_20181111_094443532.jpg

Aku akan pastikan ada semacam keteraturan dalam jadwal pos, seperti tiap minggu atau bulan. Juga, sekiranya agar tetap menjaga nuansa ketidakstabilan, isinya akan bermacam.

Komodifikasi atas Gurun Pasir

Banyak acara mengedukasi orang cara jadi kaya dan banyak kesempatan tersedia untuk membunuh keberadaan orang yang tidak ingin kaya. Banyak acara menandakan terpenuhinya hak dan banyak kesempatan merampas kepedulian atas nama pemenuhan hak. Tulisan ini adalah perwujudan dari pikiran saya (penulis), yang masih diberi kesempatan oleh Tuhan sehingga bisa berpikir (sedangkan para buruh kita terlalu lelah setelah bekerja).

Dunia itu seperti gurun pasir. Kepanasan dan kedinginan, plus kelaparan, memang menyiksa tetapi masih ada hujan dan pohon-pohon, serta bahkan surga genangan air. Tetapi manusia berpikir. Gurun pasir itu berhasil sebagiannya diubah jadi surga ternikmat di dunia. Hanya saja, ada tembok transparan. Kenikmatan itu ada di depan mata tetapi tidak dapat diraih. Beruntunglah orang-orang yang sudah berada di sisi dalam. Lebih parah, yang di sisi dalam “juga” saling membunuh. Sebagai orang yang (masih) percaya Tuhan, mungkin ini adalah dosa manusia karena berusaha tahu dan melampaui batas.

Apa yang tertulis di paragraf sebelumnya tidak merujuk fenomena yang sekarang disebut oleh Albert Einstein (Why Socialism?) “kejahatan terburuk kapitalisme” atau Dede Mulyanto (Geneologi Kapitalisme: Antropologi dan Ekonomi Politik Pranata Eksploitasi Kapitalistik) “akumulasi dalam anarki” (judul bab 4). Tetapi saya melihat ada suatu fenomena dunia yang statis terus ada bahkan sejak Adam dan Hawa (Eve) tinggal di bumi. Seperti, Qabil (Cabil) yang membunuh saudaranya demi mendapat tubuh perempuan yang ‘lebih cantik’. Sebagai catatan, tubuh adalah bagian dari gurun pasir karena pasir sama dengan tanah dan (menurut Islam) Adam diciptakan dari tanah, plus Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam. Mungkin ini bisa jadi inspirasi untuk pengejar nomena (esensi).

Kritisisme itu terkadang menghampakan. Analogi “gurun pasir” ini sebenarnya terinspirasi Jean Baudrillard “Amerika adalah Gurun Pasir” yang saya temukan di buku Akhyar Yusuf Lubis, Postmodernisme: Teori dan Metode. Setelah membaca bagian buku itu, kehampaan menggerogoti diri saya selama seminggu. Setelah seminggu itu, saya jatuh kembali ke hingar-bingar gurun pasir. Terus terang, kehampaan itu sedikit terasa ketika menulis ini. Namun, berfilsafat adalah mencintai kebijaksaan. Hampa sebentar sebagai refleksi tidak apa-apa tetapi sebaiknya jangan kebablasan.

Saya tidak ingin menjadi sok tahu tetapi, jika kita lihat masalah politik global, seorang Sigmund Freud pun mengaku sedih melihat imperialisme Israel (baca di Tirto.id, Yahudi yang Anti-Zionis, Yahudi yang Pro-Palestina). Dan bukan bermaksud mempromosikan” jalan kiri”, negara-negara dan partai-partai, tidak lupa individu-individu, sosialis (disebut komunis juga tidak apa-apa) sangat aktif membela Palestina. Melihat ini, saya jadi teringat waktu semester lalu ketika saya didebat adik saya yang masih belajar di bangku Sekolah Menengah Pertama kelas 3 karena mengatakan bahwa manusia adalah akar dari segala masalah di dunia yang maka masalah akan terselesaikan dengan ketiadaan manusia. Argumen dia mungkin rada antroposentris karena melihat dunia sebagai diciptakan oleh Yang Maha Kuasa untuk manusia. Lupakan kiri-kanan sejenak, cobalah tonton video Youtube Egoistic Altruism oleh Kurzgesagt – In a Nutshell!