Feminis Marxis Seharusnya Inklusif Transgender: Tentang Kasus Partai Komunis Britania Raya (Marxis-Leninis)

Ada sebuah posisi yang mengejutkanku dari Partai Komunis Britania Raya (Marxis-Leninis), yaitu bahwa mereka menolak transgenderisme. Mengenai posisi tersebut, aku baru mengetahuinya ketika menonton video berikut, perbincangan Caleb Maupin dengan Joti Brar, seorang anggota dari partai tersebut. Hal ini juga sebenarnya disampaikan dalam kongres ke-8 partai tersebut yang tulisan mengenai ini ada di situs jejaring partai itu berjudul The reactionary nightmare of ‘gender fluidity’.

Perbincangan ini sebenarnya cukup bagus. Ia membahas banyak hal tentang marxisme dan posisi partai komunis ini dalam beberapa masalah. Pada menit ke-28 dari video, Maupin mencoba mengangkat masalah transgender dan meminta Brar untuk memberi penjelasan mengenai posisi kontroversial dari partainya mengenai hal tersebut. Aku menonton kembali video ini, khusus di bagian masalah itu, dan menemukan beberapa hal yang menjadi argumen CPGB (ML) untuk menolak “ideologi transgenderisme”.

Permasalahan yang menjadi fokus sebenarnya adalah ideologi (bukan orang-orang transgender) yang ditimpakan (pushed) ke orang-orang bahwa “You are what you think you are” (kamu adalah apa yang kamu pikirkan). Sebagai seorang marxis, Joti Brar melihat bahwa ideologi transgenderisme ini merupakan sebuah konsepsi yang idealis dan bukannya materialis. Ia juga sempat menyebut “I think, therefore I am” (aku memikirkan, maka itulah aku) yang merupakan pernyataan Rene Descartes. Menurut Brar, seorang marxis tidak melihat kenyataan sebagai sesuatu yang dipikirkan melainkan sebagai apa yang ada secara material dan ‘kenyataan material’-lah yang menjadi dasar bagi pemikiran marxis. Jadi, ada materi, lalu otak kita menginterpretasinya, muncullah ide. Dari sini, kita tahu bahwa Brar paham betul mengenai posisi materialis-nya marxis.

Mengenai gender, ia melihat itu sebagai sesuatu yang tidak berbeda dengan seks (jenis kelamin). Stereotip gender-lah yang menurut dia seharusnya dipahami, yang mana ini merupakan sebuah konstruk sosial yang sebagian memiliki dasar material (tubuh) dan sebagian lainnya tidak. Ide transgender tampak menerima dan bahkan mendorong stereotip mengenai maskulinitas dan femininitas ini daripada melawannya. Dia menyatakan bahwa penampilan seorang transpuan yang sebegitu memaksakan femininitas yang terseksualisasi justru merupakan hal yang menekan (opresif) bagi perempuan-perempuan pekerja biasa yang ‘terlahir sebagai perempuan’ karena sesungguhnya yang diharapkan oleh semua perempuan adalah hilangnya stereotip-stereotip ini dari sejarah manusia ke depannya.

Sampai di sini, ini menjadi sebuah kritisisme yang menarik mengenai perjuangan pembebasan LGBT. Tetapi! Tambak bagiku, CPGB (ML) mengalami suatu macam ketakutan berlebihan pada pemikiran-pemikiran baru yang dicurigainya sebagai ideologi-ideologi borjuis yang akan memiliki tujuan melemahkan perjuangan rakyat pekerja di dunia. Sebenarnya partai ini mengambil posisi yang tepat, sebagaimana sosialis-sosialis pada umumnya, dengan melakukan perlawanan terhadap ‘politik identitas’. Hanya saja, aku akan menggunakan pada kesempatan ini saja (karena aku tidak sepakat dengannya) istilah ‘reduksionisme kelas’ untuk menjelaskan posisi CPGB (ML). Adalah benar melihat internasionalisme proletarian sebagai hal penting karena pada dasarnya semua rakyat pekerja di dunia dari berbagai negeri, dari berbagai latar belakang etnik, agama, ras dll, termasuk juga seksualitas, sedang berhadapan dengan musuh yang sama, yaitu bourgeoisie. Yang menjadi masalah adalah pengabaian pada pengalaman spesifik dari orang-orang yang berbeda ini. Ada beberapa alasan mengenai ini yang aku rasa diketahui oleh kawan-kawan yang barangkali masih memiliki keraguan dalam mengambil posisi yang tepat.

Gender perlu dipisahkan dengan seks karena konstruk gender biner yang kita kenal merupakan sesuatu yang dapat dikatakan baru dalam perjalanan sejarah manusia, bukan hal yang ada sejak masyarakat (komunisme) primitif. Itu berarti ia tidak berkaitan langsung dengan sifat alami manusia atau dasar tubuh biologis. Penindasan terhadap kelompok LGBTQIA+, khususnya pada zaman kapitalisme, berkaitan erat dengan bentuk institusi keluarga yang menguntungkan bagi efisiensi reproduksi tenaga kerja (dan pasukan cadangannya) jika dipertahankan. Sherry Wolf (2009, Haymarket Books) dalam bukunya Sexuality and Socialism: History, Politics, and Theory of LGBT Liberation menulis penjelasan yang bagus mengenai ini.

“LGBT oppression, like women’s oppression, is tied to the centrality of the nuclear family as one of capitalism’s means to both inculcate gender norms and outsource care for the current and future generations of workers at little cost to the state…In addition, the oppression of LGBT people under capitalism, like racism and sexism, serves to divide working-class people from one another, especially in their battles for economic and social justice….women’s oppression derives from the structure of the family, in which the reproduction and maintenance (child care, housework, cooking, etc.) of the current and future generations of workers are foisted upon individual families rather than being the responsibility of society. Capitalism depends on privatised reproduction to raise the next generation of workers at little expense to itself. Likewise, the oppression of LGBT people stems from the implicit challenge that sexual minorities pose to the nuclear family and its gender norms.” (dikutip dari Communist Party of India (Marxist-Leninist) Liberation, “Marxism, The Bolshevik Revolution and LGBT Liberation”)

(Penindasan LGBT, sebagaimana penindasan perempuan, berkaitan dengan sentralitas dari keluarga inti sebagai salah satu cara kapitalisme untuk baik menanamkan norma-norma gender dan penemuan sumber dari luar untuk menghidupi generasi-generasi pekerja-pekerja saat ini dan masa depan dengan biaya rendah bagi negara… Sebagai tambahan, penindasan orang-orang LGBT di bawah kapitalisme, seperti rasisme dan seksisme, berguna untuk memecah rakyat kelas pekerja dari satu sama lain, khususnya dalam pertarungan mereka untuk keadilan sosial dan ekonomi… penindasan perempuan berasal dari struktur keluarga, yang mana reproduksi dan pemeliharaan (pengurusan anak, kerja rumah tangga, memasak, dll) dari generasi-generasi pekerja-pekerja saat ini dan masa depan dipaksakan kepada tiap-tiap keluarga daripada menjadi tanggung jawab dari masyarakat. Kapitalisme bergantung pada reproduksi yang diprivatisasi untuk membesarkan generasi pekerja-pekerja berikutnya dengan biaya rendah bagi [berjalannya proses produksi dalam] dirinya. Seperti halnya, penindasan orang-orang LGBT timbul dari tantangan implisit yang minoritas-minoritas seksual tujukan pada keluarga inti dan norma-norma gendernya.)

Tulisan oleh Partai Komunis India (Marxis-Leninis) Pembebasan yang menjadi sumber kutipan di atas menyebutkan bagaimana revolusi sosialis 1917 di tanah Rusia sangat peka terhadap beragam pengalaman ketertindasan dari kelas pekerja. Misalnya, mengenai masalah seksualitas, negara tidak akan campur tangan sama sekali selama tidak ada yang dirugikan. Ini memberi kita kejelasan seberapa pentingnya keberpihakan sosialis pada kelompok LGBT.

It declares the absolute noninterference of the state and society into sexual matters, so long as nobody is injured, and no one’s interests are encroached upon. [Penekanan sesuai sumber asli]

([Undang-Undang Soviet] menyatakan non-interferensi sepenuhnya dari negara dan masyarakat mengenai masalah-masalah seksual, selama tidak ada seseorang yang terluka, dan tidak ada kepentingan-kepentingan seorangpun yang diganggu.)

CPI (ML) Liberation juga mengkritisi pemerintahan Soviet pada masa Stalin yang mengkriminalisasi kembali homoseksual. Mengutip Sherry Wolf, kembalinya kebijakan yang patriarkal dan homofobik berkaitan erat dengan kepentingan Uni Republik-Republik Sosialis Soviet untuk memiliki ketersediaan tenaga kerja sebesar-besarnya yang berarti membutuhkan tingkat kelahiran yang tinggi. CPI (ML) Liberation menilai ini sepatutnya bisa dihindari, berpendapat cara lain dapat dipilih bahkan dengan mempertimbangkan keadaan URSS pada masa itu.

Aku pikir aku akan mengakhiri di sini. Sebagai penutup, aku ingin mengatakan bahwa kepekaan kita pada pengalaman-pengalaman dari pekerja-pekerja dengan latar belakang berbeda adalah penting. Selain sebagai wujud solidaritas antara pekerja-pekerja, ia juga penting untuk terwujudnya internasionalisme proletarian, persatuan semua pekerja di dunia, yang dengan itu perjuangan kita tidak terpecah belah.

“United We Stand, Divided We Fall – An Injury to One is an Injury to All.” (dikutip dari Communist Party USA, “Proletarian internationalism”)

(Bersatu Kita Tegak, Terbelah Kita Jatuh – Satu Luka bagi Satu Orang adalah Luka bagi Semuanya.)

Touhou 14: Shining Needle Castle, Tentang Kegilaan dan Pemberontakan Kelas Tertindas (Yang Gagal)

Setelah beberapa waktu tidak bermain, aku kembali mencoba memainkan Touhou dan kebetulan versi yang aku mainkan adalah versi 14, atau nama lengkapnya Touhou Kishinjou (Shining Needle Castle) ~ Double Dealing Character yang ceritanya memiliki latar pemberontakan kelompok youkai lemah (youkai = istilah yang merujuk ke berbagai macam makhluk supernatural yang biasanya ada di cerita rakyat masyarakat Jepang) . Pemberontakan ini merupakan sebuah balas dendam kelompok tertindas yang melibatkan perebutan kekuasan politik dari kelas penguasa untuk menggulingkan tatanan masyarakat. Di sini, namun, aku barangkali akan lebih banyak mengambil referensi dari Touhou Wiki, terutama untuk mengakses salinan percakapan tertulis yang ada di permainannya. Aku juga akan memasukkan beberapa hal yang aku temukan di versi 14.3-nya, Danmaku Amanojaku ~ Impossible Spell Card. Sebagai catatan, aku hanya akan mengambil cerita inti dan mengabaikan keragaman alur yang diakibatkan oleh pilihan karakter dalam permainan. Selain itu, aku mencoba menghadirkan beragam interpretasi yang mungkin dengan membawa kemari juga beberapa cerita karya penggemar untuk dijadikan pertimbangan. LOTS OF SPOILER ALERT

Sebuah ilustari karya penggemar yang menampilkan tiga tokoh yang terlibat pemberontakan: Raiko Horikawa (kiri), Shinmyoumaru Sukuna (kanan), dan Seija Kijin (belakang). [sumber]

Kisah latar belakang

Jauh di masa lalu, seorang dari spesies bertubuh kecil (inchling) bernama Issun-Boushi mengalahkan satu oni (semacam setan) dan mendapatkan hartanya, yaitu “Miracle Mallet” (Palu Ajaib). Alat ini dikatakan dapat mengabulkan semua permintaan. Issun-Boshi tahu bahwa ia harus menggunakan alat ini secara hati-hati karena alat ini merupakan kepunyaan oni. Oleh keturungan-keturunan setelahnya, alat ini digunakan untuk menciptakan sebuah istana dan berkuasa atas orang-orang. Ketika kekuatan alat ini habis, istana ini tenggelam ke dalam bumi, membawa bersamanya seluruh ras ‘orang kecil’. Menyadari kesalahan ini, orang-orang kecil yang tersisa menyegelnya sekali lagi. Dalam perjalanan waktu, kisah tentang Miracle Mallet akhirnya terlupakan.

Adalah Seija Kijin, satu amanojaku (sejenis youkai yang dapat memprovokasi orang dan mengajak pada keburukan, sejenis arwah dari kontradiksi dan kesesatan) yang berkeinginan menggunakan alat ini untuk menggulingkan tatanan yang ada di Gensokyo (nama dari dunia dalam permainan yang memiliki arti “tempat fantasi”). Ia menggunakan seorang putri dari ras orang kecil yang tidak tahu apapun mengenai Miracle Mallet, Shinmyoumaru Sukuna karena hanya orang-orang kecil yang mampu menggunakannya. Seija meyakinkan Shinmyoumaru dengan menceritakan sejarah palsu tentang bagaimana youkai di Gensokyo merendahkan orang-orang kecil pada masa lalu.

Amanojaku melawan dunia

“Nobody would benefit… you say? None of you understand how much we, the weak, have been oppressed.”

(Tidak ada yang diuntungkan… kau bilang? Tidak ada satupun dari kalian yang mengerti seberapa buruknya kami, yang lemah, telah ditindas.)

– Seija Kirin menanggapi Reimu yang menyatakan pergolakan sosial semacam ini tidak bermanfaat bagi siapapun dalam rute Reimu B

Masalah amanojaku sebenarnya terletak pada kemampuan kontradiktif dalam diri mereka. Dalam kasus Seija, segalanya adalah kebalikan, segalanya terjungkirbalikkan. Yang bagi orang-orang hal baik, itu adalah hal yang buruk bagi Seija. Seija menyukai hal-hal yang dibenci orang-orang. Dia sedih melihat seseorang bahagia. Ini membuatnya tidak disukai, tetapi tidak disukai tentu membuat dirinya bahagia. Ketika sekutu-sekutunya meninggalkannya dan berbalik memusuhinya, dia tidak mempermasalahkannya. Kondisi Seija yang seperti ini membuat dirinya sangat tidak masuk akal. Barangkali kenyataan baginya adalah skizofrenik. ‘Kegilaan’ ini digambarkan dengan baik oleh Uu Uu Zan dalam komik karya penggemarnya yang judulnya mengambil dari judul salah satu musik latar belakang dalam permainan, Reverse Ideology (tautan baca ke terjemahan bahasa Inggris di Dynasty Reader, tidak dapat diakses melalui IP lokal). Komik tersebut terbagi dalam dua cerita yang kontradiktif sepenuhnya. Ketika membacanya, kamu akan dihadapkan pada pertanyaan bagian cerita mana yang benar dan yang salah, mana yang kebenaran nyata dan mana yang merupakan hasil penjungkirbalikan dari itu.

Penghuni-penghuni Gensokyo, termasuk juga media massa mereka yang ikut menyebarkan pandangan yang ideologis, melihat Seija sebagai satu pemberontak yang akan menciptakan kekuasaan bagi dirinya sendiri atas semua orang. Bias yang nyata dari pandangan ini adalah bahwa mereka mengabaikan kondisi yang tidak biasa yang dialami Seija. Sebenarnya cukup sulit memahami posisi Seija karena kita tidak bisa memastikan kapan dia menjadi dirinya sendiri kapan dia ‘dibelokkan’ oleh kemampuannya sebagai amanojaku. Misalnya, ketika dia menyatakan dirinya sebagai golongan yang tertindas dan melakukan perlawanan, apakah itu pembelokan dari hasrat berkuasa atau ada dasar yang dapat membenarkannya? ‘Kegilaan’ yang dia alami tidak memungkinkan kita memahami kondisinya dengan (hanya) mendasarkan pada pikirannya, kata-katanya. Maka, kita perlu memandang masalahnya dengan pendekatan yang lebih materialis (meskipun ini adalah dunia fantasi supernatural). Tetapi, bagaimana caranya?

Kenyataan bahwa bukti-bukti yang kita miliki hanyalah salinan percakapan tertulis, tidak berarti segalanya hanyalah dunia ide karena segala percakapan ini terikat pada konteks. Coba amati percakapan antara Seija dan Sakuya dalam rute Sakuya B!

Seija: Do you want to become stronger? (Kau ingin menjadi lebih kuat?)

Sakuya: Well… I suppose so. (Yah.. aku rasa iya.)

Seija: Then become my ally. We are a force of resistance. We will re-draw the political borders of Gensokyo! (Kalau begitu jadilah sekutuku. Kami adalah sebuah kekuatan perlawanan. Kami akan menggambar ulang batas-batas politis Gensokyo!)

Sakuya: A resistance force!? Well, well… I think I just overheard something important. (Sebuah kekuatan perlawanan!? Wah, wah… Aku pikir aku baru saja secara kebetulan mendengar sesuatu yang penting.)

Seija: So? Will you join our cause? (Jadi? Akankah kau bergabung dengan pergerakan kami?)

Sakuya: Unfortunately, I am already attached to another political power. To me, a resistance force means a revolt against us. I never had the choice of becoming your ally from the start. (Sayang sekali, aku sudah terikat pada kekuatan politis lain. Bagiku, sebuah kekuatan perlawanan berarti sebuah pemberontakan melawan kami. Aku tidak pernah memiliki pilihan menjadi sekutumu sejak awal.)

Seija: I see… That is unfortunate. If none of you can imagine how much we, the weak, have been oppressed… Then… In this inverted castle where everything is turned upside-down, I’ll give you a taste of the humiliation the weak have suffered! (Begitu ya… Sayang sekali. Jika tidak ada dari kalian dapat membayangkan seberapa buruk kami, yang lemah, telah ditindas… Maka… Di istana yang terbalik ini di mana semuanya terjungkirbalikkan, aku akan memberimu rasa dari penghinaan yang kaum lemah rasakan.)

Percakapan ini terjadi pada posisi waktu yang sama dengan kutipanku atas Seija yang sebelumnya. Dari dua kutipan ini, aku ingin menunjukkan bahwa dua tokoh yang mendapat posisi protagonis ketika kita memainkan permainan ini, Reimu dan Sakuya (ada satu lagi bernama Marisa) telah memiliki kedudukan dalam peta politik di Gensokyo yang maka kehadiran pergerakan perlawanan adalah sebuah ancaman bagi ‘ketertiban’ yang ada (yang menguntungkan bagi mereka). Apalagi, pergerakan ini dimulai oleh satu amanojaku, kelompak youkai yang dipandang lemah, rendahan, dan hina di dalam hierarki sosial penghuni-penghuni Gensokyo (kecuali satu amanojaku bernama Sagume Kishin yang merangkap sebagai “dewi” di permainan versi lain). Betapa memalukan dan menghinakannya, jika pergerakan pemberontakan ini berhasil, bagi mereka yang selama ini memiliki kekuasaan, kelas-kelas penguasa itu. Ini juga menjelaskan kenapa dalam permainan versi 14.3-nya, ada mobilisasi besar-besaran untuk menghancurkan pergerakan perlawanan ini, hanya untuk mengalahkan satu amanojaku. Peraturan-peraturan yang membatasi diperbolehkan untuk dilanggar jika itu ditujukan untuk menangkap/mengalahkan Seija. Barangkali ini adalah momen di mana kelas-kelas penguasa demi mempertahankan posisi mereka berubah menjadi fasis.

Selain Seija dan Shinmyoumaru, tiga karakter lain yang terlibat pemberontakan secara tidak langsung atau lebih tepatnya memanfaatkan pergolakan sosial ini untuk kepentingan mereka mempertahankan kebebasan baru yang mereka dapat adalah Raiko Horikawa, Benben Tsukumo dan Yatsuhashi Tsukumo. Ketiganya adalah tsukumogami (sejenis youkai yang bangkit dari alat atau objek yang ditinggali satu dewa) yang mendapat kekuatan aneh dan perasaan mendendam dikarenakan penggunaan Miracle Mallet oleh Shinmyoumaru. Mendapat kekuatan baru ini, Benben dan Yatsuhashi mencoba melakukan penggulingan masyarakat seperti yang Seija lakukan demi pembebasan semua alat-alat, terutama mereka yang memiliki pengalaman tertindas. Di sisi lain Raiko lebih memilih untuk mencari cara agar kemerdekaan dan kekuatan barunya dapat dipertahankan sekaligus membangun kerja sama dengan tsukumogami-tsukumogami lainnya untuk menciptakan sebuah surga di mana alat-alat dapat hidup bebas/merdeka. Melihat penggunaan alat-alat yang sembarangan oleh Seija, mereka bertiga nantinya bergabung dengan dunia melawan Seija.

Sebuah ilustrasi karya penggemar pasangan Shinmyoumaru x Seija [sumber, tidak dapat diakses dengan IP lokal]

Shinmyoumaru yang bersimpati dan Seija yang (barangkali) mulai korup

Shinmyoumaru yang sempat ditangkap (merujuk ke akhir cerita permainan versi 14) meskipun telah menyadari kenyataan yang ada, masih memiliki simpati pada Seija. Shinmyoumaru mencoba meyakinkan Seija untuk berhenti dan menyerahkan Miracle Mallet kepada dirinya karena posisi Seija yang semakin terpojok dan ketidakmauan Shinmyoumaru memusuhi youkai di Gensokyo. Tetapi, Seija bersikeras untuk melawan dunia sebagai amanojaku. Hal ini dapat diketahui dari percakapan di antara mereka di dalam permainan versi 14.3 pada hari ke-8 adegan 1 sebagai berikut

Shinmyoumaru: Hey, Seija. Isn’t it about time for you to give them back?
The mallet’s remaining power, that is. (Hei, Seija. Bukankah ini sudah waktunya kamu mengembalikannya? Kekuatan yang tersisa dari Mallet itu, kau tahu.)

Seija: Eh? What are you talking about? It’s only just begun—the true social upheaval. (Eh? Apa yang kau bicarakan? Ini baru saja dimulai — pergolakan sosial yang sesungguhnya.)

Shinmyoumaru: Uhhh… Unfortunately… Upheaval is impossible at this point. We’ve already lost this fight. (Uhhh… Pergolakan tidaklah mungkin lagi pada titik ini. Kita telah kalah dalam pertarungan ini.)

Seija: Even if you complain… There’s nothing to worry about.
As long as we have at least this much cheating power, we can put the youkai throughout Gensokyo under our control at any time. (Sekalipun kamu mengeluh… Tidak ada apapun untuk dikhawatirkan. Selama kita memiliki kekuatan mencurangi [dari alat-alat ini] setidaknya sebesar ini, kita dapat meletakkan youkai di seluruh Gensokyo di bawah kendali kita kapanpun.)

Shinmyoumaru: It’s all right, it’s all right, now. Let’s just surrender. I’m not going to antagonize the youkai of Gensokyo. (Tidak apa-apa, tidak apa-apa, sekarang. Kita menyerah saja. Aku tidak akan memusuhi youkai di Gensokyo.)

Seija: I appreciate the offer, but… Nope! I ain’t surrendering to nobody. (Aku menghargai tawaranmu, tetapi… Tidak! Aku tidak akan menyerah pada siapapun.)

Shinmyoumaru: Well, I figured you’d say that. In that case, I’ll make you return that power to me. By the way, in case you were going to resist~ I told e-very-one to seriously try and capture you. Like the saying, “a live dog is better than a dead lion,” right? (Baiklah, aku menyadari kamu akan berkata demikian. Oleh karena itu, aku akan membuatmu mengembalikan kekuatan itu padaku. Ngomong-ngomong, seandainya kamu mencoba melawan~ Aku sudah bilang pada se-mu-a o-rang untuk sunguh-sungguh mencoba dan menangkapmu. Seperti pepatah, “anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati,” benar?)

Seija: No matter who’s after my life, I have no reason to return this wonderful power. For I am Seija. An amanojaku since birth! (Tidak peduli siapa yang mengincar nyawaku, aku tidak memiliki alasan untuk mengembalikan kekuatan menakjubkan ini. Karena aku adalah Seija. Seorang amanojaku sejak lahir!)

Di titik ini, aku merasa (curiga) Seija mulai menjadi semakin tidak stabil (meskipun dari awal dia sudah sangat tidak stabil atau katakanlah ‘gila’). Sebagai amanojaku, menjadi musuh dunia tentu saja adalah sesuatu yang menyenangkan. Dalam hal ini, akhir cerita dari permainan ver 14.3 tidak memberi tahu kita apapun tentang apa terjadi pada Seija. Jadi, bagaimana nasib Seija pada akhirnya tidak diketahui.

Mengenai Seija sebagai amanojaku, ada sebuah komik karya penggemar (18+) oleh Hisame* berjudul Little Happiness (terjemahan bahasa Inggris di The Yuri Reader!) yang menghadirkan pandangan berbeda mengenai kondisi emosionalnya, lebih positif daripada yang aku gambarkan di atas. Menurutnya, kemampuan konradiktif amanojaku sebenarnya merupakan sifat kecenderungan (yang kuat) sehingga Seija meskipun tidak bisa menghilangkan kecenderungannya berpikir berkebalikan, ia masih memiliki kontrol atas emosinya sampai tingkat tertentu.

Pandangan yang berada di tengah antara kegilaan dan ketidakstabilan (dan kelicikan) ditunjukkan oleh Schichil dalam komik komedi karya penggemarnya berjudul Vector Spectacle (terjemahan bahasa Inggris di Dynasty Reader, tidak dapat diakses denga IP lokal) di mana Seija adalah buronan yang tidak memiliki apa-apa lagi dan hanya kabur dari satu tempat ke tempat lain dst. Seija sekalipun memiliki kesadaran, hampir tidak pernah dapat berpikiran positif dan akan melakukan apapun untuk tujuannya mengubah posisinya dalam hierarki sosial, misalnya dalam kasus Shinmyoumaru, ia mencoba membohongi, merayu, memanfaatkan perasaan cinta Shinmyoumaru lagi untuk mendapatkan kekuatan Miracle Mallet.

Yang menarik dari karya Schichil adalah bagaimana Shinmyoumaru atas keputusan sendiri berpihak lagi pada Seija dan dengan berbagai usaha yang menemui kesulitan mencoba mengubah Seija menjadi orang yang baik. Tentu ada konflik yang hebat terjadi di kepala Seija. Sebagai amanojaku, segala hal baik yang ditunjukkan dan diajarkan oleh Shinmyoumaru sesuatu yang tidak masuk akal atau aneh. Apalagi, ada dorongan dalam diri Seija yang tidak bisa berhenti memikirkan Shinmyoumaru, seorang kawan lama dalam perjuangan yang bertemu kembali dan seorang yang mau mempercayainya sepenuhnya. Seija dapat berubah, tetapi sebuah konsekuensi yang nyata. Kini, Seija tidak lagi dapat melihat Shinmyoumaru sebagai alat, tetapi sebagai orang yang berharga. Dalam posisi yang sungguh-sungguh terpojok sebagai buron, ia lebih memilih membiarkan Shinmyoumaru diambil pergi oleh musuh-musuhnya, namun, bisa hidup daripada bertarung bersama dengan risiko dia kehilangan Shinmyoumaru.

Penutup: revolusi yang gagal

Satu amanojaku melakukan pemberontakan yang hampir menggulingkan tatanan dunia. Tidak ada lagi harapan untuk revolusinya berhasil. Tetapi, itu ada artinya, bukan?

Mengenai Tembok Berlin, Trotskyite, dan Stalin Yang Menunggu Kebenaran

Sungguh, aku triggered sejak melihat judulnya saja. Ambil judul Runtuhnya Tembok Jerman dan Runtuhnya Stalinisme, tetapi sama sekali tidak memberikan argumentasi jelas, malah menyebarkan propaganda anti-komunis. Hal-hal mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Jerman, atau khususnya Republik Demokratik Jerman, hanya dibahas sedikit sekali. Kuliah ini hanya sekadar propaganda anti-Stalin belaka yang tidak menarik. Berikut adalah beberapa kenyataan yang ada.

Pertama, tuduhan totaliter pada Stalin (Stalinisme), telah dibuktikan oleh penelitian-penelitian terakhir, adalah kebohongan yang diproduksi barat kapitalis, kaum revisionis (seperti Khrushchev dalam Pidato Rahasia nya), oposisi kanan (yang mana Trotsky menjadi bagian), dan pemerintah fasis (yang mana Trotsky berkolaborasi dengan mereka). Akses ke sumber-sumber penting yang menyatakan hal ini dapat ditemukan di bagian akhir tulisan ini. Aku tidak menyatakan bahwa Stalin adalah suci, bebas dari segala kesalahan. Aku mengakui beberapa kesalahan dari Stalin dan pemerintah Soviet pada masa itu, tetapi kesalahan-kesalahan tersebut haruslah diakui tidak termasuk kejahatan sebagaimana dituduhkan.

“The common or “mainstream” view of Stalin as a bloodthirsty tyrant is a product of two sources: Trotsky’s writings of the 1930s and Nikita Khrushchev’s “Secret Speech” to the XX Party Congress in February, 1956. This canonical history of the Stalin period – the version we have all learned — is completely false. We can see this now thanks mainly to two sets of archival discoveries: the gradual publication of thousands of archival documents from formerly secret Soviet archives since the end of the USSR in 1991; and the opening of the Leon Trotsky Archive at Harvard in 1980 and, secondarily, of the Trotsky Archive at the Hoover Institution (from where I have just returned).” – Grover Furr, “The Ukrainian Famine: Only Evidence Can Disclose the Truth”

Kedua, pemecahan Jerman menjadi Timur dan Barat bukanlah kehendak Stalin, melainkan kapitalis-kapitalis barat yang ingin menguasai industri-industri besar yang ada di bagian barat negeri itu. Stalin hanya meminta Jerman dimerdekakan sebagai negara netral dengan tanggung jawab membayar kerugian perang pada Uni Republik-Republik Sosialis Soviet.

The creation of the GDR was a reaction to the creation of the Federal Republic of Germany in 1949, after the Western-controlled sectors of Berlin introduced a separate currency so as to undermine the economic stability of the Eastern side. Contrary to what is taught in the capitalist education system, the Soviet Union and its allies never wanted a partitioned Germany, instead favouring a unified but neutral state. But in 1952 the Soviet proposals for German reunification were rejected by the West, under its chancellor, Konrad Adenauer. West Germany was later armed and financed by the United States. – Graham Harrington, “The Berlin Wall, thirty years later”

Ketiga, Tembok Berlin berdiri pada masa Khrushchev. Tembok itu didirikan pada tahun 1961 sebagai opsi terakhir atas dasar kepentingan melindungi rakyat Jerman Timur dari kehilangan orang-orang terpelajar yang dibutuhkan untuk pembangunan masyarakat yang sejahtera. Kesempatan bisnis dan godaan upah yang lebih tinggi mengakibatkan migrasi yang menurunkan populasi sebesar 10 persen. Alasan lain juga adalah ancaman spionase dan sabotase oleh CIA dan BND (intelijen Jerman Barat). Tentu jika memungkinkan, berbagai penghalang, pemisah antara Barat dan Timur ini tidak pernah ada. Paradigma anti-komunis mencoba mengatakan bahwa tembok ini adalah penjara, tetapi latar belakang dari didirikannya tembok ini adalah sebagai pelindung.

“By 1961, the East German government decided that defensive measures needed to be taken, otherwise its population would be depleted of people with important skills vital to building a prosperous society. East German citizens would be barred from entering West Germany without special permission, while West Germans would be prevented from freely entering the GDR. The latter restriction was needed to break up black market currency trading, and to inhibit espionage and sabotage carried out by West German agents. [27] Walls, fences, minefields and other barriers were deployed along the length of the East’s border with the West. Many of the obstacles had existed for years, but until 1961, Berlin – partitioned between the West and East – remained free of physical barriers. The Berlin Wall – the GDR leadership’s solution to the problems of population depletion and Western sabotage and espionage — went up on August 13, 1961. [28]” – Stephen Gowans, “Democracy, East Germany and the Berlin Wall”

Keempat, mengenai keterkaitan kejadian ini dengan stalinisme, aku juga merasa itu adalah tuduhan absurd. Sebenarnya apa itu stalinisme? Apakah barangkali kata Stalinisme merujuk pada rezim sosialis di berbagai negeri dengan partai berideologi marxis-leninis, yang tidak menerapkan teori-teori Trotsky? Tentu saja, seorang Bolshevik, seorang komunis tidak akan mengikuti Trotskyisme. Teori Trotsky adalah kombinasi antara Bolshevisme dan Menshevisme. Ia mengambil dari Bolshevik perjuangan revolusioner proletarian dan pengambilan kekuasaan oleh kaum buruh, tetapi dari Menshevik, ia mengambil posisi “menolak” peran kaum tani dalam revolusi, atau dengan kata lain menolak “kediktatoran proletarian dan tani demokratik” yang merupakan gagasan Lenin, seorang Bolshevik.

“A whole decade—the great decade of 1905-15—has shown the existence of two and only two class lines in the Russian revolution. The differentiation of the peasantry has enhanced the class struggle within them; it has aroused very many hitherto politically dormant elements. It has drawn the rural proletariat closer to the urban proletariat (the Bolsheviks have insisted ever since 1906 that the former should be separately organised, and they included this demand in the resolution of the Menshevik congress in Stockholm). However, the antagonism between the peasantry, on the one hand, and the Markovs, Romanovs and Khvostovs, on the other, has become stronger and more acute. This is such an obvious truth that not even the thousands of phrases in scores of Trotsky’s Paris articles will “refute” it. Trotsky is in fact helping the liberal-labour politicians in Russia, who by “repudiation” of the role of the peasantry understand a refusal to raise up the peasants for the revolution!” – V.I. Lenin, “On the Two Lines in the Revolution” (1915)

Kelima, tuduhan “sosialisme di satu negeri” mengabaikan internasionalisme sangatlah tidak Marxis dan Leninis. Revolusi sosialis memanglah akan mendunia, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk revolusi terjadi di satu negeri terbelakang (mata rantai terlemah dari imperialisme).

“Revolusi di satu negeri tidak harus merupakan permulaan dari Revolusi Dunia, tapi revolusi dunia akan terus berjalan karena dimulai dengan kemenangan baru di negeri-negeri di mana kapitalisme lemah untuk satu periode waktu sejarah yang panjang. Kematangan tak merata dari kondisi untuk meletusnya revolusi meniadakan terjadinya revolusi secara bersamaan di tiap negeri” – Tatiana Lukman, 2016, “Trotskyisme? Sosialisme di Satu Negeri atau Revolusi Permanen?” hlm. 143

Terakhir, aku hanya ingin mengatakan bahwa pembelaanku terhadap Stalin didasarkan ketersediaanku melakukan kritik diri mengenai posisiku. Aku dulu sempat menjadi pengikut Trotsky untuk waktu yang sebentar sebelum aku mempelajari Marxisme-Leninisme. Aku juga kenal beberapa kawan sosialis yang pemikirannya banyak mengambil dari Trotsky. Aku diam saja karena tidak ingin menyulut konflik. Awalnya aku mengambil judul “Kebodohan Trotskyite” karena rasa kesal, namun kemudian aku ralat. Tetapi, sungguh, aku pikir para pengikut Trotsky harus mau menerima berbagai ‘kebenaran-kebenaran’ mengenai Stalin dan Trotsky yang awalnya untukku sendiri tidak menyenangkan.

Beberapa sumber penting:

Penelitian oleh Grover Furr yang dituangkan dalam buku-bukunya, Khrushchev lied : the evidence that every “revelation” of Stalin’s (and Beria’s) “crimes” in Nikita Khrushchev’s infamous “secret speech” to the 20th party congress of the Communist Party of the Soviet Union on February 25, 1956, is provably false (tautan baca ke Internet Archiev),

Blood Lies: The Evidence that Every Accusation against Joseph Stalin and the Soviet Union in Timothy Snyder’s Bloodlands Is False (tautan baca ke The Materialist Reader’s Omnibus),

Stalin and the Struggle for Democratic Reform (tautan baca ke Cultural Logic: A Journal of Marxist Theory & Practice: bagian pertama, bagian kedua),

The Murder of Sergei Kirov: History, Scholarship and the Anti-Stalin Paradigm (tautan beli ke Erythrós Press and Media), dan

The Mystery of the Katyn Massacre: The Evidence, The Solution (tautan beli ke Erythrós Press and Media)

Tulisan oleh Jules Humbert-Droz berjudul Nikolai Bukharin on the Use of Individual Terror Against Stalin (tautan baca ke Revolutionary Democracy)

Presentasi Grover Furr di 7th World Socialism Forum, World Socialism Research Center berjudul Trotsky’s Lies – What They Are, and What They Mean (tautan baca ke Grover Furr’s Home Page)

Tulisan oleh Grover Furr dan Vladimir Bobrov berjudul Bukharin’s “Last Plea”: Yet Another Anti-Stalin Falsification (tautan baca ke Grover Furr’s Home Page) dan

Stalin’s Justice: Not Subject to Appeal (tautan baca ke Grover Furr’s Home Page)

Tulisan oleh Grover Furr dalam jurnal Cultural Logic: A Journal of Marxist Theory & Practice berjudul Evidence of Leon Trotsky’s Collaboration with Germany and Japan (tautan baca) dan

Nikolai Bukharin’s First Statement of Confession in the Lubianka (tautan baca)

Tulisan oleh Grover Furr dalam jurnal Socialism and Democracy berjudul The “Official” Version of the Katyn Massacre Disproven?: Discoveries at a German Mass Murder Site in Ukraine (tautan baca)

Tulisan oleh Grover Furr berjudul New Light On Old Stories About Marshal Tukhachevskii : Some Documents Reconsidered (tautan baca Grover Furr’s Home Page)

Tulisan oleh D.N. Pritt berjudul The Zinoviev Trial (tautan baca ke Revolutionary Democracy)

Tulisan oleh D.N Pritt dan Pat Sloan The Moscow Trial Was Fair (tautan baca ke Marxists Internet Archieve)

Otobiografi oleh Joseph E. Davies, Mission To Moscow (tautan baca ke Internet Archieve)

Tulisan oleh Mark Tauger berjudul Stalin, Soviet Agriculture and Collectivization dalam buku Food and Conflict in Europe in the Age of the Two World Wars, yang disunting oleh Frank Trentmann dan Flemming Just (tautan baca ke New Cold War: News and Analysis of the Multipolar World)

Tulisan oleh Mark Tauger berjudul Natural Disaster and Human Actions in the Soviet Famine of 1931–1933 dalam jurnal The Carl Beck Papers in Russian and East European Studies (tautan baca)

Tulisan oleh Mark Tauger berjudul The 1932 Harvest and the Famine of 1933 dalam jurnal Slavic Review edisi 1991 (tautan baca ke New Cold War: News and Analysis of the Multipolar World)

Tulisan oleh Harry Haywood berjudul Trotsky’s Day in Court dalam bukunya, Black Bolshevik: Autobiography of an Afro-American Communist (tautan baca ke Marxists Internet Archieve)

Marxisme vs Liberalisme: Wawancara J.V. Stalin dengan H.G. Wells (23 Juli 1934)

Teks ini merupakan terjemahan dari Marxism Versus Liberalism: An Interview with H.G. Wells (gambar di atas bersumber dari tautan tersebut). Belum ada perubahan sejak diterbitkan.

Wells: Saya sangat berterima kasih kepada Anda, Bapak Stalin, untuk bersedia menemui saya. Saya pergi ke Amerika Serikat baru-baru ini. Saya memiliki perbincangan yang panjang dengan Presiden Roosevelt dan mencoba mengetahui apa ide-ide terkemukanya. Sekarang Saya di sini akan menanyai Anda apa yang Anda sedang lakukan untuk mengubah dunia. . .

Stalin: Tidak terlalu banyak.

Wells: Saya berkelanana ke berbagai tempat di dunia sebagai pria biasa dan, sebagai pria biasa, mengamati apa yang sedang terjadi di sekitar saya.

Stalin: Orang-orang terkenal seperti diri Anda bukanlah “orang-orang biasa”. Tentu, sejarah sendiri dapat menunjukkan seberapa pentingnya orang terkenal ini atau itu; dalam semua hal, Anda tidak melihat dunia sebagai seorang “pria biasa”.

Wells: Saya tidak sedang berlaku rendah diri. Apa yang saya maksudkan adalah bahwa saya mencoba untuk melihat dunia melalui mata dari pria biassa, dan tidak sebagai seorang politisi partai atau seorang pengurus yang bertanggung jawab. Kunjungan saya ke Amerika Serikat menggairahkan pikiran saya. Dunia finansial lama sedang runtuh; kehidupan ekonomi negara ini sedang di reorganisasi berdasarkan garis-garis baru. Lenin berkata: “Kita harus belajar menjalankan bisnis, belajar ini dari kapitalis-kapitalis.”

Hari ini kapitalis-kapitalis perlu belajar dari Anda, untuk memahami semangat sosialisme. Tampak bagi saya bahwa apa yang sedang berlangsung di Amerika Serikat adalah reorganisasi mendalam, penciptaan ekonomi, terencana, yang adalah ekonomi sosialis. Anda dan Roosevelt memulai dari dua titik awal yang berbeda. Tetapi apakah tidak ada hubungan dalam ide-ide, suatu kekerabatan ide-ide, antara Moscow dan Washington? Di Washington saya dikejutkan oleh hal yang sama dengan yang saya lihat sedang berlangsung di sini; mereka membangun kantor-kantor, mereka membuat sejumlah badan-badan regulasi negara, mereka mengelola Pelayanan Sipil yang sudah lama dibutuhkan. Kebutuhan mereka, seperti Anda, adalah kemampuan mengatur.

Stalin: Amerika Serikat sedang menempuh sebuah tujuan yang berbeda dari yang kami sedang tempuh di URSS.

Tujuan yang orang-orang Amerika sedang tempuh, bangkit keluar dari masalah-masalah ekonomi, keluar dari krisis ekonomi. Orang-orang Amerika ingin membebaskan diri mereka dari krisis pada basis aktivitas kapitalis privat, tanpa merubah basis ekonominya. Mereka mencoba mengurangi ke tingkat minimum keruntuhannya, kerugiannya yang disebabkan oleh sistem ekonomi yang ada. Di sini, namun, sebagaimana Anda ketahui, di tempat basis ekonomi lama yang telah dihancurkan, sebuah basis ekonomi baru, yang sepentuhnya berbeda, telah diciptakan. Bahkan jika orang-orang Amerika yang Anda sebutkan mencapai tujuan mereka sebagian saja, semisalnya, mengurangi kerugian-kerugian ke tingkat minimum, mereka tidak akan menghancurkan akar-akar dari anarkinya yang adalah sifat melekat dalam sistem kapitalis yang ada. Mereka mempertahankan sistem ekonomi yang tidak dapat dihindari pasti akan membawa, pada anarki dalam produksi. Maka, pada keadaan sebaik-baiknya, ini akan menjadi sebuah masalah, bukan mengenai reorganisai masyarakat, bukan mengenai pelenyapan sistem sosial lama yang menumbuhkan anarki dan krisis-krisis, tetapi mengenai pembatasan pada sekian keberlimpahannya. Secara subyektif, mungkin, orang-orang Amerika ini berpikir mereka sedang melakukan reorganisasi masyarakat; secara obyektif, namun, mereka sedang mempertahankan basis masyarakat yang ada.

Itulah mengapa, secara obyektif, tidak akan ada reorganisasi masyarakat.

Begitu pula tidak akan ada ekonomi terencana. Apa itu ekonomi terencana? Apa saja beberapa cirinya? Ekonomi terencana mencoba menghapuskan pengangguran. Mari kita katakan adalah mungkin, dengan mempertahankan sistem kapitalis, untuk mengurangi pengangguran ke suatu tingkat minimum.

Tetapi tentunya, tidak ada kapitalis yang akan menerima penghapuskan pengangguran sepenuhnya, untuk menghapuskan barisan penganggur cadangan, tujuannya yang mana membawa tekanan pada pasar tenaga kerja, memastikan ketersediaan tenaga kerja murah. Di sini Anda memiliki satu dari koyakan-koyakan dalam “ekonomi terencana”-nya masyarakat borjuis. Lebih lanjut, ekonomi terencana mensyaratkan luaran yang ditingkatkan di cabang-cabang industri yang memproduksi barang-barang yang massa butuhkan secara khusus. Tetapi Anda tahu bahwa ekspansi produksi di bawah kapitalisme berlangsung untuk motif yang sepenuhnya berbeda, bahwa kapital menglair ke cabang-cabang ekonomi dimana tingkat laba adalah tertinggi. Anda tidak akan memaksa seorang kapitalis untuk memikul kerugian pada dirinya sendiri dan setuju mengurangi tingkat laba demi memuaskan kebutuhan orang-orang. Tanpa menyingkirkan kapitalis-kapitalis, tanpa melenyapkan prinsip properti pribadi dalam sarana produksi, adalah tidak mungkin menciptakan ekonomi terencana.

Wells: Saya setuju dengan banyak hal mengenai apa yang Anda telah katakan.

Tetapi saya ingin menekankan pokok bahwa jika sebuah negeri sepenuhnya mengadopsi prinsip ekonomi terencana, jika pemerintahnya, secara bertahap, langkah demi langkah, mulai secara konsisten mengaplikasikan prinsip ini, oligarki finansial akan pada akhirnya dilenyapkan dan sosialisme, dalam makna Anglo-Saxon dari kata tersebut, akan terhadirkan. Dampak dari ide-ide “New Deal”-nya Roosevelt adalah yang paling kuat, dan menurut opini saya itu adalah ide-ide sosialis. Tampak bagi saya bahwa daripada menitikberatkan antagonisme antara dua dunia, kita seharusnya, dalam kenyataan hari ini, berusaha untuk membangun sebuah bahasa bersama untuk semua kekuatan yang membangun.

Stalin: Berbicara mengenai ketidakmungkinan merealisasikan prinsip ekonomi terencana sementara mempertahankan basis ekonomi dari kapitalisme, saya tidak sedikitpun menghendaki untuk meremehkan kualitas-kualitas personal yang luar biasa dari Roosevelt, inisiatif, keberanian, dan tekadnya. Tidak diragukan, Roosevelt menonjol sebagai satu dari figur-figur kuat di antara semua kapten-kapten dunia kapitalis kontemporer. Itulah mengapa saya ingin, sekali lagi, menekankan pokok tentang keyakinan bahwa ekonomi terencana tidaklah mungkin di bawah kondisi-kondisi kapitalisme, tidak berarti bahwa saya memiliki keraguan tentang kemampuan personal, bakat dan keberanian dari Presiden Roosevelt. Tetapi jika kondisi-kondisinya tidak mendukung, kapten paling berbakat tidak dapat mencapai tujuan yang Anda tunjukkan..

Secara teoritis, tentu, kemungkinan untuk berproses secara gradual, langkah demi langkah, di bawah kondisi-kondisi kapitalisme, kepada tujuan yang Anda sebut sosialisme dalam artian Anglo-Saxon dari kata tersebut, tidaklah terhindarkan.

Tetapi akan jadi “sosialisme” seperti apa ini? Yang paling baik, mengendalikan sampai batas tertentu, representasi-representasi individual dari laba kapitalis yang paling tidak terkekang, sedikit peningkatan dalam aplikasi dari prinsip regulasi ekonomi nasional. Itu semua adalah sangat baik. Tetapi segera setelah Roosevelt, atau kapten siapapun lainnya dalam dunai borjuis kontemporer, maju untuk mengusahakan sesuatu yang serius melawan fondasi dari kapitalsime, ia akan mau tidak mau menderita kekalahan total. Bank-bank, industri-industri, perusahaan-perusahan besar, sawah-sawah persar tidak berada di tangan Roosevelt. Semua ini adalah properti privat. Rel-rel kereta, kapal-kapal niaga, semua ini dipunyai pemilik-pemilik privat. Dan akhirnya, barisan pekerja berketrampilan, insinyur-insinyur, teknisi-teknisi, mereka juga tidak dalam komando Roosevelt, mereka ada di dalam komando pemilik-pemilik privat; mereka semua bekerja untuk pemilik-pemilik privat. Kia haruslah tidak lupa fungsi-fungsi negara dalam dunia borjuis.

Negara adalah sebuah institusi yang mengelola perlindungan negeri, mengelola pemeliharaan “ketertiban”; ia adalah suatu aparatus untuk mengumpulkan pajak. Negara kapitalis tidak banyak berurusan dengan ekonomi dalam artian yang ketat dari kata tersebut; yang terakhir tidaklah ada di tangan Negara. Sebaliknya, Negara berada di tangan-tangan ekonomi kapitalis. Itulah mengapa saya takut kendati kemampuan-kemampuan dan enerjinya, Roosevelt tidak adakn mencapai tujuan yang Anda sebutkan, jika memang itu adalah tujuannya. Mungkin, dalam perjalanan beberapa generasi akan menjadi mungkin untuk mencapai tujuan ini entah bagaimana; tetapi saya pribadi berpikir bahwa bahkan ini tidaklah sangat mungkin..

Wells: Mungkin, saya percaya lebih kepada interpretasi ekonomis dari politik daripada Anda. Kekuatan-kekuatan besar besar yang mengarahkan pada organisasi yang lebih baik, untuk komunitas yang berfungsi lebih baik, yang adalah untuk sosialisme, telah dihadirkan ke dalam tindakan oleh penemuan dan sains modern. Organisasi, dan regulasi tindakan individual, telah menjadi kebutuhan mekanis, terlepas dari teori-teori sosial. Jika kita mulai dengan Negara mengendalikan bank-bank dan kemudian diikuti oleh kontrol pada transportasi, pada industri-industri besar dari industri secara umum, pada perdagangan, dll, suatu macam kendali mencakup semuanya seperti itu akan sepadan pada kepemilikin Negara atas semua cabang ekonomi nasional. Ini akan menjadi proses dari sosialisasi. Sosialisme dan individualisme tidaklah bertentangan seperti hitam dan putih..

Ada banyak tahap-tahap menengah di antara mereka..

Ada individualisme yang berbatasan dengan perampokan, dan ada disiplin dan organisasi yang merupakan padanan dari sosialisme. Pengenalan ekonomi terencana bergantung, pada suatu taraf besar, atas penyelenggara-penyelenggara ekonomi, atas intelek teknis berketrampilan, yang, langkah demi langkah, dapat dipengaruhi kepada prinsip sosialis atas organisasi. Dan ini adalah yang paling penting. Krena organisasi datang sebelum sosialisme. Ini adalah fakta paling penting.

Tanpa organisasi ide sosialis adalah sekadar ide.

Stalin: Tidak ada, dan pasti tidak ada, kontras yang tidak dapat didamaikan antara individu dan kolektif, antara kepentingan-kepentingan orang individual dan kepentingan-kepentingan kolektif. Pastilah tidak ada kontas semacam itu karena kolektivisme, sosialisme, tidak menolak, tetapi menggabungkan kepentingan-kepentingan individu dengan kepentingan-kepentingan kolektif. Sosialisme tidak mengabstraksi dirinya sendiri dari kepentingan-kepentingan individu. Masyarakat sosialis sendiri dapat sebaik-baiknya memuaskan kepentingan-kepentingan pribadi. Lebih dari itu; masyarakat sosialis sendiri dapat dengan kuat menjaga kepentingan individu. Dalam artian ini, tidak ada kontras yang tidak dapat didamaikan antara “individualisme” dan sosialisme. Tetapi dapatkah kita menolak kontras antara kelas-kelas, antara kelas berproperti, kelas kapitalis, dan kelas yang bekerja keras, kelas proletarian?

Di sisi lain kita memiliki kelas berproperti yang memiliki bank-bank, pabrik-pabrik, tambang-tambang, perkebunan-perkebunan di wilayah koloni. Orang-orang ini hanya melihat kepentingan-kepentingan mereka, usaha mereka mengejar laba.

Mereka tidak tunduk pada keinginan kolektif; mereka bekerja keras untuk menempatkan lebih rendah setiap kolektif sesuai keinginan mereka. Di sisi lain kita memiliki kelas orang miskin, kelas tereksploitasi, yang tidak memiliki usaha, pabrik, atau bank, yang dipaksa hidup dengan menjual tenaga kerjanya kepada kapitalis-kapitalis yang kekurangan kesempatan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan paling mendasarnya. Bagaimana mungkin kepentingan-kepentingan dan usaha-usaha yang bertentangan seperti itu dapat didamaikan? Sejauh yang saya ketahui, Roosevelt tidak berhasil mencari jalan perdamaian antara kepentingan-kepentingan ini. Dan adalah tidak mungkin, sebagaimana pengalaman telah menunjukkan. Secara kebetulan, Anda tahu situasi di Amerika Serikat lebih baik daripada saya yang tidak pernah berada di sana dan saya mengamati keadaan-keadaan Amerika terutama dari literatur. Tetapi saya memiliki beberapa pengalaman dalam perjuangan untuk sosialisme, dan pengalaman ini memberi tahu saya bahwa jika Roosevelt membuat suatu percobaan nyata untuk memuaskan kepentingan-kepentingan kelas proletarian dengan pengorbanan kelas kapitalis, yang terakhir akan menaruh presiden lain di tempatnya. Kapitalis-kapitalis akan berkata: Presiden-presiden datang dan presiden-presiden pergi, tetapi kami berjalan terus; jika presiden itu atau ini tidak melindungi kepentingan-kepentingan kami, kami akan mencari yang lain. Apa bisa presiden menentang keinginan kelas kapitalis?

Wells: Saya keberatan pada klasifikasi yang disederanakan atas umat manusia pada kaya dan miskin. Tentu saja ada sebuah kategori orang yang bekerja keras hanya untuk laba. Tetapi bukankah orang-orang ini dianggap sebagai gangguan di Barat sebegitu halnya di sini? Apakah tidak ada banyak orang di Barat yang mana laba bukan sebagai tujuan akhir, yang memiliki sekian banyak kekayaan, yang ingin menginvestasikan dan mendapatkan laba dari investasinya, tetapi yang tidak menganggap ini sebagai tujuan utama? Mereka menganggap investasi sebagai suatu keperluan yang sukar. Apakah tidak banyak penyelenggara-penyelenggara ekonomi, insinyur-insinyur yang berbakti dan mahir, yang kegiatan-kegiatannya didorong oleh sesuatu selain laba? Menurut pendapat saya ada banyak sekali kelas orang-orang mahir yang mengakui bahwa sistem saat ini tidaklah memuaskan dan yang ditakdirkan memainkan suatu peran besar dalam masyarakat sosialis masa depan. Selama beberapa tahun terakhir saya telah banyak terlibat dan telah berpikir mengenai kebutuhan mengadakan propaganda mendukung sosialisme dan kosmopolitanisme di antara lingaran-lingkaran luas insinyur-insinyur, penerbang-penerbang, orang-orang teknis militer, dll. Adalah tidak berguna untuk mendekati lingkaran-lingkaran ini dengan propaganda perang kelas dua jalur. Orang-orang ini memahami kondisi dunia. Mereka memahami bahwa dunia adalah kekacauan berdarah, tetapi mereka menganggap antagonisme perang kelas Anda sebagai omong kosong.

Stalin: Anda keberatan pada klasifikasi yang disederhanakan mengenai umat manusia kepada kaya dan miskin. Tentu saja ada sebuah lapisan tengah, ada intelek-intelek teknis yang Anda telah sebutkan dan di antara yang sangat jujur dan sangat baik. Di antara mereka ada juga orang-orang yang keji dan tidak jujur, ada semua macam orang-orang di antara mereka, Tetapi pertama kali dari semua umat manusia dibagi ke dalam kaya dan miskin, ke dalam pemilik-pemilik properti dan dieksploitasi; dan untuk mengabstraksi dirinya dari pembagian fundamental dan dari antagonisme antara miskin dan kaya berarti mengabstraksikan dirinya dari kenyataan fundamental. Saya tidak menyangkal keberadaan strata tengah menengah, yang baik mengambil sisi satu atau yang lain dari dua kelas-kelas yang bertentangan ini, atau justru mengambil sebuah posisi netral atau semi-netral dalam perjuangan ini. Tetapi, saya ulangi, untuk mengabstaksi dirinya dari pembagian fundamental ini di dalam masyarakat dan dari perjuangan fundamental antara dua kelas utama ini berarti mengabaikan kenyataan-kenyataan. Perjuangan sedang berlangsung dan akan terus berlanjut. Hasil akhirnya akan ditentukan oleh kelas proletarian, kelas pekerja.

Wells: Apakah tidak banyak orang yang tidak miskin, tetapi bekerja dan bekerja secara produktif?

Stalin: Tentu saja, ada pemilik-pemilik tanah kecil, seniman, pedagang-pedagang kecil, tetapi bukanlah orang-orang ini yang menentukan nasib dari suatu negara, tetapi massa yang bekerja keras, yang memproduksi semua hal yang masyarakat butuhkan.

Wells: Tetapi ada sangat banyak macam kapitalis. Ada kapitalis-kapitalis yang hanya berpikir tentang laba, atau menjadi kaya; tetapi ada juga mereka yang siap berkorban. Ambilah si tua Morgan untuk contoh. Dia hanya berpikir tentang laba; dia adalah parasit bagi masyarakat, sederhananya, dia hanya mengakumulasi kekayaan. Tetapi ambil Rockefeller. Dia adalah penyeleggara yang brilian; dia telah menetapkan sebuah contoh bagaimana mengelola pengantaran minyak yang layak ditiru. Atau ambil Ford. Tentu saja Ford egois. Tetapi apakah dia bukan seorang penyelenggara produksi yang dirasionalisasi yang sangat antusias yang darinya Anda bisa mengambil pelajaran? Saya ingin menekankan kenyataan bahwa akhir-akhir ini sebuah perubahan penting dalam opini terhadap URSS telah terjadi di negeri-negeri berbahasa Inggris. Alasan untuk ini, pertama dari semua, adalah posisi Jepang dan peristiwa-peristiwa di Jerman. Tetapi ada alasan-alasan lain di samping alasan yang timbul dari politik internasional. Ada sebuah alasan amat besar yaitu, pengakuan oleh banyak orang atas fakta bahwa sistem berdasarkan laba privat sedang roboh. Di bawah keadaan-keadaan ini, tampak bagi saya, kita harus tidak membawa ke garis terdepan antagonisme antara dua dunia, tetapi harus berusaha keras menggabungkan semua gerakan-gerakan konstruktif, semua kekuatan-kekuatan konstruktif dalam satu garis sebanyak mungkin. Tampak bagi saya lebih ke Kiri daripada Anda, Pak Stalin; saya pikir sistem lama ini lebih dekat kepada akhirnya daripada yang Anda pikirkan.

Stalin: Berbicara mengenai kapitalis-kapitalis yang berusaha keras hanya untuk laba, hanya untuk menjadi kaya, saya tidak ingin mengatakan bahwa mereka adalah orang yang paling tidak berguna, tidak mampu untuk hal lainnya. banyak dari mereka tidak diragukan mempunyai bakat mengelola yang hebat, yang saya tidak membayangkan untuk sangkal. Kami orang-orang Soviet belajar banyak dari kapitalis-kapitalis. Dan Morgan, yang Anda karakterisasikan secara sangat tidak mendukung, tidak diragukan adalah seorang penyelenggara yang baik, mahir. Tetapi jika Anda memaksudkan orang-orang yang siap membangun ulang dunia, tentu saja, Anda tidak akan dapat menemukan mereka di dalam deretan-deretan dari mereka yang dengan setia melayani tujuan laba. Kami dan mereka berdiri pada kutub-kutub yang berlawanan. Anda menyebutkan Ford. Tentu saja, dia adalah penyelenggara produksi yang mahir. Tetapi tidakkah Anda tahu sikapnya kepada kelas pekerja?

Tidakkah Anda tahu seberapa banyak pekerja yang ia lempar ke jalanan? Kapitalis dibalikkan untuk laba; dan tidak ada kekuatan di bumi yang dapat mengoyakkannya dari itu. Kapitalisme harus dilenyapkan, bukan oleh “penyelenggara-penyelenggara” produksi bukan oleh intelek-intelek teknis, tetapi oleh kelas pekerja, karena strata yang disebutkan di muka tidak meainkan sebuah peran yang independen. Insinyur-insinyur, penyelenggara produksi tidak bekerja sesuai keinginannya, tetapi sebagaimana ia diperintahkan, dengan suatu cara yang melayani-melayani kepentingan-kepentingan majikan-majikannya. Ada pengecualian tentu saja; ada orang-orang di lapisan ini yang telah dibangunkan dari kemabukan kapitalisme. Intelek-intelek teknis dapat, dibawah kondisi-kondisi tertentu, mempertunjukkan keajaiban-keajaiban dan sangat menguntungkan umat manusia. Tetapi itu juga dapat menyebabkan kerugian besar. Kami orang-orang Soviet belum memiliki pengalaman kecil dari intelektual teknis.

Setelah Revolusi Oktober, sekian seksi dari intelektual teknis menolak menjadi bagian dalam kerja membangun masyarakat baru; mereka menentang pekerjaan ini dan menyabotnya.

Kami melakukan semua yang kami mungkin lakukan utnuk membawa kaum terpelajar teknis ke dalam pekerjaan konstruksi ini; kami mencoba cara ini dan itu. Bukan waktu yang sebentar berlalu sebelum kaum terpelajar teknis kami setuju secara aktif menyumbang pada sistem baru. Hari ini seksi terbaik dari kaum terpelajar ini berada di deretan terdepan dari pembangun-pembangun masyarakat sosialis. Memiliki pengalaman ini kami jauh dari meremehkan sisi-sisi baik dan jahat kaum terpelajar dan kami tahu bahwa di satu sisi ia dapat merugikan, dan di sisi lain ia dapat mempertunjukkan “keajaiban-keajaiban.” Tentu saja, berbagai hal akan berbeda jika adalah mungkin, dalam satu tembakan, secara spiritual mengoyakkan kaum terpelajar teknis jauh dari dunia kapitalis. Tetapi itu adalah utopia.

Apakah ada banyak kaum terpelajar yang akan berani melepaskan diri dari dunia borjuis dan mulai bekerja untuk membangunulang masyarakat? Apa Anda pikir ada banyak orang semaca ini, katakan, di Inggris atau di Perancis? Tidak, ada beberapa yang akan berkemauan memisahkan diri dari majikan-majikan mereka dan mulai membangun kembali dunia.

Lagipula, dapatkah kita kehilangan pandangan dari kenyataan bahwa untuk mengubah dunia adalah diperlukan untuk memiliki kekuasaan politik? Tampak bagi saya, Pak Wells, bahwa Anda sangat meremehkan pertanyaan mengenai kekuasaan politik, yang itu sepenuhnya keluar dari konsepsi Anda.

Apa yang dapat mereka, bahwa dengan niat-niat terbaik di dunia, lakukan jika mereka tidak mampu mengangkat pertanyaan mengenai perebutan kekuasaan, dan tidak mempunyai kekuasaan? Paling baik mereka dapat membantu kelas yang mengambil kekuasaan, tetapi mereka tidak dapat mengubah dunia sendiri. Ini hannya dapat dilakukan oleh sebuah kelas besar yang akan mengambil tempat kelas kapitalis dan menjadi tuan berdaulat seperti yang terakhir sebelumnya. Kelas ini adalah kelas pekerja. Tentu saja., bantuan dari kaum terpelajar teknis harus diterima; dan yang terakhir pada gilirannya, harus dibantu. Tetapi itu tidak harus dianggap bahwa kaum terpelajar dapat memainkan sebuah peran historis yang independen. Perubahan dunia adalah sebuah proses yang menyakitkan, rumit, dan besar. Untuk tugas ini sebuah kelas yang besar. Kapal-kapal besar berlayar jauh.

Wells: Ya, tetapi untuk pelayaran jauh seorang kapten dan ahli navigasi adalah dibutuhkan.

Stalin: Itu benar; tetapi yang pertama kali dibutuhkan untuk sebuah pelayaran jauh adalah sebuah kapal besar. Apalah ahli navigasi tanpa sebuah kapal? Seorang pria menganggur,

Wells: Kapal besar itu adalah kemanusiaan, bukan sebuah kelas.

Stalin: Anda, Pak Wells, dengan terang memulai dengan asumsi bahwa semua manusia adalah baik. Saya, namun, tidak lupa bahwa ada banyak orang-orang keji. Saya tidak percaya pada kebaikan borjuisasi.

Wells: Saya ingat situasi mengenai kaum terpelajar teknis beberapa abad dahulu. Pada waktu itu kaum terpelajar teknis adalah kecil dalam jumlah, tetapi ada begitu banyak yang harus dilakukan dan setiap insinyur, teknisi dan intelektual menemukan kesempatannya. Itulah mengapa kaum terpelajar teknis adalah kelas revolusioner paling kecil. Sekarang, namun, ada berlimpah-limpah kaum terpelejar teknis, dan mentalitas mereka telah berubah sangat tajam. Pria berketrampilan, yang dahulunya tidak akan mendengarkan pembicaraan revolusioner, sekarang sangat tertarik dengan ini. Belakangan ini saya makan malam dengan Royal Society, masyarakat ilmiah Inggris kami yang besar. Pidato presiden adalah sebuah pidato untuk kontrol ilmiah dan perencanaan sosial. Tiga puluh tahun lalu, mereka tidak akan mendengarkan apa yang saya katakan pada mereka sekarang. Hari ini, pria yang menjadi kepala dari Royal Society memegang pandangan revolusioner dan bersikeras untuk reorganisasi ilmiah masyarakat manusia. Mentalitas berubah. Propaganda perang kelas belum mengikuti fakta-fakta ini.

Stalin: Ya, saya tahu ini, dan ini adalah untuk dijelaskan oleh kenyataan bahwa masyarakat kapitalis sekarang berada dalam kebuntuan. Kapitalis-kapitalis sedang mencari, tetapi tidak dapat menemukan jalan keluar dari kebuntuan ini yang akan cocok dengan martabat kelas ini, ocok dengan kepentingan-kepentingan kelas ini. Mereka dapat, sampai batas tertentu, merangkak keluar dari krisis dengan lutut-lutut dan tangan-tangan mereka, tetapi mereka tidak dapat menemukan sebuah jalan keluar yang memungkinkan mereka berjalan keluar darinya dengan kepala terangkat tinggi, sebuah jalan keluar yang tidak akan secara fundamental mengganggu kepentingan kapitalisme. Ini, tentu saja, diwujudkan oleh lingkarang-lingkaran luas kaum terpelajar teknis. Sebagian besar seksi darinya sedang mulai menyadari komunitas dari kepentingan-kepentingannya dengan mereka dari kelas yang mampu menunjukkan jalan keluar dari kebuntuan.

Wells: Anda dari semua orang tahu sesuatu tentang revolusi-revolusi, Pak Stalin, dari sisi praktisnya. Apakah massa sesungguhnya bangkit? Apakah bukan kebenaran yang terbuktikan bahwa semua revolusi diciptakan oleh minoritas?

Stalin: Untuk membawa suatu revolusi sebuah minoritas terkemuka adalah dibutuhkan; tetapi minoritas yang paling giat, berbakti, dan berbakat akan tidak berdaya jika ia tidak bergantung pada sedikitnya dukungan pasif dari jutaan.

Wells: Sedikitnya pasif? Mungkin bawah sadar?

Stalin: Sebagian juga semi naluriah dan setengah sadar, tetapi tanpa dukungan dari jutaan, minoritas terbaik tidaklah berkuasa.

Wells: Saya mengamati propaganda komunis di Barat dan tampak bagi saya bahwa di dalam kondisi-kondisi modern propaganda ini terdengar sangat kuno, karena adalah propaganda insureksioner. Propaganda yang mendukung penggulingan sistem sosial adalah seluruhnya sangat baik ketika diarahkan melawan tirani. Tetapi di bawah kondisi-kondisi modern, ketika sistem sedang runtuh bagaimanapun, penekanan harus diletakkan pada efisiensi, pada kompetensi, pada produktivitas, dan bukan pada insureksi.

Tampak bagi saya bahwa nada insureksioner adalah usang. Propaganda komunis di Barat adalah gangguan untuk orang-orang berpikiran konstruktif.

Stalin: Tentu saja sistem lama sedang runtuh dan membusuk. Itu benar. Tetapi adalah benar pula bahwa usaha-usaha baru sedang dilakukan oleh metode-metode lain, dengan segala cara, untuk melindungi, untuk menyelamatkan sistem yang sekarat ini.

Anda mengambil sebuah kesimpulan yang salah dari sebuah postulat yang benar.

Anda benar menyatakan bahwa dunia lama sedang runtuh.

Tetapi Anda salah dalam berpikir bahwa ia akan runtuh atas kemauannya sendiri. Tidak, pergantian satu sistem sosial kepada yang lain adalah sebuah proses revolusioner yang panjang dan rumit. Ia bukanlah suatu proses yang spontan, tetapi sebuah perjuangan, ia adalah sebuah proses yang terhubung dengan perselisihan kelas-kelas. Kapitalisme sedang membusuk, tetapi ia harus tidak dibandingkan secara sederhana dengan sebuah pohon yang telah membusuk sampai pada batas tertentu pasti akan jatuh ke tanah dengan sendirinya. Tidak, revolusi, pergantian satu sistem sosial kepada yang lain, selalu haruslah sebuah perjuangan, sebuah perjuangan yang kejam dan menyakitkan, sebuah perjuangan hidup dan mati. Dan setiap waktu orang-orang dari dunia baru mewarisi kekuasaan mereka harus melindungi diri mereka melawan usaha-usaha dunia lama untuk mengembalikan kekuasaan lama secara paksa; orang-orang dunia baru ni selalu harus dalam keadaan waspada, selalu harus siap untuk menangkis serangan-serangan dunia lama terhadap istem baru.

Ya, Anda benar ketika mengatakan bahwa sistem sosial lama sedang runtuh; tetapi bukan runtuh karena kemauannya sendiri. Ambil Fasisme sebagai contoh.

Fasisme adalah sebuah kekuatan reaksioner yang sedang mencoba mempertahankan sistem lama dengan cara-cara kekerasan. Apa yang akan Anda lakukan dengan fasis-fasis ini? Berselisih dengan mereka? mencoba meyakinkan mereka? Tetapi ini tidak akan memiliki dampak pada mereka sama sekali. Komunis-komunis tidak sedikitpun mengidealkan metode-metode kekerasan. Tetapi mereka, Komunis-komunis, tidak ingin dikejutkan, mereka tidak dapat mengandalkan dunia lama secara sukarela meninggalkan panggung, mereka melihat bahwa sistem lama dengan kekerasan sedang mempertahankan dirinya, dan itulah mengapa Komunis-komunis berkata pada kelas pekerja: Jawab kekerasan dengan kekerasan; laukan semua yang kalian dapat untuk mencegah tatanan lama yang sekarat dari menghancurkan kalian, jangan izinkannya menempatkan belenggu ke tangan-tangan kalian, ke tangan-tangan yang dengan itu kalian akan menggulingkan sistem lama. Seperti yang Anda lihat, Komunis-komunis memandang pergantian sistem sosial lama kepada yang lain, bukan secara sederhana sebagai sbuah proses dama dan spontan, tetapi sebagai sebuah proses yang keras, panjang, dan rumit. Komunis-komunis tidak dapat mengabaikan fakta-fakta ini.

Wells: Tetapi lihatlah apa yang sedang terjadi sekarang di dunia kapitalis. Keruntuhan bukanlah sesuatu yang sederhana; ia adalah pecahnya kekerasan reaksioner yang sedang merosot ke gangsterism. Dan tampak bagi saya bahwa ketika ia mengenai sebuah konflik dengan kekerasan tidak cerdas dan reaksioner, sosialis-sosialis dapat mengatas pada hukum, dan alih-alih menganggap polisi sebagai musuh mereka seharusnya mendukungnya dalam perlawanan terhadap reaksioner-reaksioner. Saya pikir bahwa adalah tidak berguna beroperasi dengan metode-metode sosialisme insureksioner lama.

Stalin: Atas nama konstitusi ia mengambil jalan kekerasan, memenggal kepala raja, membubarkan Parlemen, menangkap beberapa dan memenggal kepala yang lain!

Atau ambil sebuah contoh dari sejarah kami. Apakah tidak jelas untuk waktu yang lama sistem tsaris membusuk, dan runtuh? Tetapi berapa banyak darah yang harus ditumpahkan dalam tujuan untuk menggulingkannya?

Dan bagaimana dengan Revolusi Oktober? Apakah ada tidak banyak orang yang tahu bahwa kami sendiri, Bolshevik-bolshevik, sedang menunjukkan jalan keluar satu-satunya yang benar?

Apakah itu tidak jelas bahwa kapitalisme Rusia telah runtuh?

Tetapi Anda tahu seberapa besar perlawanannya, seberapa banyak darah yang harus ditumpahkan untuk melindungi Revolusi Oktober dari semua musuhnya, internal dan eksternal.

Atau ambil Perancis pada akhir abad ke-18.

Jauh sebelum tahun 1789 adalah jelas bagi banyak orang betapa busuknya kekuasaan kerajaan, sistem feodal itu. Tetapi sebuah insureksi bersifat luas, sebuah perselisihan kelas-kelas adalah tidak, dan tidak dapat dihindari. Mengapa? Karena kelas-kelas yang harus meninggalkan panggung sejarah adalah yang terakhir teryakinkan bahwa peran mereka berakhir. Adalah tidak mungkin meyakinkan mereka mengenai ini. Mereka pikir bahwa celah-celah di dalam bangunan besar yang sedang runtuh dari tatanan lama dapat diperbaiki dan diselamatkan. Itulah mengapa kelas-kelas yang sekarat mengambil senjata dan mempergunakan setiap cara-cara untuk menyelamatkan keberadaan mereka sebagai sebuah kelas yang berkuasa.

Wells: Tetapi ada tidak sedikit ahli-ahli hukum yang menjadi kepala dari Revolusi Perancis Besar.

Stalin: Apakah Anda menyangkal peran dari kaum terpelajar dalam gerakan-gerakan revolusioner? Apakah Revolusi Perancis Besar sebuah revolusinya ahli-ahli hukum dan bukan sebuah revolusi rakyat, yang mencapai kemenangan dengan membangkitkan massa luas orang-orang melawan feodalisme dan memperjungan kepetingan-kepentingan Third Estate? Dan apakah ahli-ahli hukum di antara pemimpin-pemimpin Revolusi Perancis Besar bertindak menurut hukum-hukum tatanan lama? Apakah mereka tidak mengenalkan hukum-hukum revolusioner borjuis baru?

Pengalaman yang kaya dari sejarah mengajarkan bahwa sampai sekarang tidak satupun kelas yang secara sukarela menciptakan jalan untuk kelas lain. Tidak ada contoh semacam itu dalam sejarah manusia. Komunis-komunis telah mempelajari pelajaran sejarah ini. Komunis-komunis akan menyambut kepergian secara sukarela dari borjuasi. Tetapi perubahan keadaan yang semacam itu adalah mustahil; itulah pengalaman yang ajarkan. Itulah mengapa Komunis-komunis ingin bersiap untuk yang terburuk dan menyerukan pada kelas pekerja untuk waspada, bersiap untuk pertarungan. Siapa yang menginginkan kapten yang menidurkan kewaspadaan tentaranya, seorang kapten yang tidak mengerti bahwa musuh tidak akan menyerah, bahwa ia harus dilindas? Untuk menjadi seorang kapten semacam itu berarti membohongi, mengkhianati kelas pekerja. Itulah mengapa saya pikir bahwa apa yang tampak bagi Anda kuno adalah pada faktanya sebuah ukuran kelayakan revolusioner untuk kelas pekerja.

Wells: Saya tidak menyangkal bahwa paksaan harus digunakan, tetapi saya pikir bentuk-bentuk perjuangan harus menyesuaikan sedekat mungkin kepada kesempatan-kesempatan yang dihadirkan hukum-hukum yang ada, yang harus dilindungi melawan serangan-serangan reaksioner. Tidak ada perlunya untuk mengacaukan sistem lama karena ia sedang cukup mengacaukan dirinya sendiri sebagaimana semestinya. Itulah mengapa tampak bagi saya insureksi melawan tatanan lama, melawan hukum, adalah usang; kuno. Sekali-kali, saya dengan sengaja melebih-lebihkan guna membawa kebenaran secara lebih jelas. Saya dapat merumuskan pokok pandangan saya sebagai berikut:

pertama, saya mendukung ketertiban; kedua, saya menyerang sistem yang ada saat ini sejauh ia tidak dapat menjamin ketertiban; ketiga, saya pikir bahwa propaganda perang kelas dapat memperasingkan dari sosialisme benar-benar orang-orang berpendidikan itu yang mana sosialisme butuhkan.

Stalin: Guna mencapai sebuah tujuan besar, sebuah tujuan sosial penting, ada harus sebuah kekuatan utama, sebuah sokongan, sebuah kelas revolusioner. Selanjutnya adalah perlu untuk mengelola bantuan dari sebuah kekuatan pembantu; dalam hal ni kekuatan pembantu ini adalah Partai, yang mana kekuatan-kekuatan terbaik dari kaum terpelajar berada. Baru saja Anda berbicara tentang “orang-orang berpendidikan.” Tetapi apa yang ada di pikiran orang-orang berpendidikan ini? Apaah ada tidak banyak orang-orang berpendidikan di sisi tatanan lama di Inggris pada abad ke-17, di Perancis pada akhir abad ke-18, dan di Rusia pada kala Revolusi Oktober? Tatanan lama memiliki di dalam dinasnya banyak orang-orang berpendidikan tinggi yang melindungi tatanan lama, yang menentang tatanan baru. Pendidikan adalah sebuah senjata yang dampaknya ditentukan oleh tangan-tangan yang menggunakannya, oleh siapa yang akan dihantamnya.

Tentu saja, proletariat, sosialisme, butuh orang-orang berpendidikan tinggi. Secara jelas, orang-orang dungu tidak dapat membantu proletariat berjuang untuk sosialisme, untuk membangun sebuah masyarakat baru. Saya tidak meremehkan peran dari kaum terpelajar; sebaliknya, saya menekankan itu. Pertanyaannya, namun, kaum terpelajar mana yang sedang kita diskusikan?

Karena ada berbagai macam kaum terpelajar.

Wells: Tidak akan ada revolusi tanpa sebuah perubahan radikal dalam sistem pendidikan. Adalah cukup untuk mengutip dua contoh: Contoh dari Republik Jerman, yang tidak menyentuk sistem pendidikan lama, dan maka tidak pernah menjadi sebuah republik; dan contoh Partai Buruh Inggris, yang kurang kepastian untuk mendesak sebuah perubahan radikal dalam sistem pendidikan.

Stalin: Itu adalah sebuah pengamatan yang tepat.

Izinkan saya menjawab tiga pokok Anda.

Pertama, hal yang utama untuk revolusi adalah keberadaan sebuah sokongan sosial. Sokongan revolusi ini adalah kelas pekerja.

Kedua, sebuah kekuatan pembantu adalah dibuthkan, yang mana Komunis-komunis sebut sebuah Partai. Dalam partai ada pekerja-pekerja pandai dan elemen-elemen kaum terpelajar teknis yang secara dekat terhubung dengan kelas pekerja, Kaum terpelajar dapat menjadi kuat jika ia bergabung dengan kelas pekerja.

Jika ia menentang kelas pekerja ia menjadi orang yang tidak berarti.

Ketiga, kekuasaan politik adalah diperlukan sebagai sebuah tuas untuk perubahan. Kekuatan politik baru menciptakan hukum-hukum baru, tantanan baru, yang adalah tatanan revolusioner.

Saya tidak mewakili segala macam tatanan. Saya mewakili tatanan yang sesuai dengan kepentingan-kepentingan kelas pekerja. Jika, namun, hukum-hukum apapun dari tatanan lama dapat digunakan sesuai kepentingan-kepentingan perjuangan untuk tatanan baru, hukum-hukum lama haruslah dimanfaatkan.

Saya tidak dapat menolak postulat Anda bahwa sistem saat ini harus diserang sejauh ia tidak menjamin ketertiban yang dibutuhkan untuk orang-orang.

Dan, pada akhirnya, Anda salah jika Anda pikir bahwa Komunis-komunis dipikat kekerasan. Mereka akan sangat senang hati untuk menjatuhkan metode-metede kekerasan jika kelas penguasa setuu memberikan jalan bagi kelas pekerja. Tetapi pengalaman sejarah menyatakan yang berlawanan dengan sebuah asumsi semacam itu.

Wells: Ada sebuah kasus di sejarah Inggris, namun, mengenai sebuah kelas secara sukarela menyerahkan kekuasaannya kepada kelas lain. Pada masa antara tahun 1830 dan tahun 1870, aristokrasi, yang pengaruhnya masih sangat besar pada akhir abad ke-18, secara sukarela, tanpa sebuah perjuangan berat, menyerahkan keuasaan kepada borjuis, yang berfungsi sebagai dukungan sentimentil dari monarki. Kemudian, perpindahan kekuasaan membawa pada pendirian kekuasaan oligarki finansial.

Stalin: Tetapi Anda telah tanpa terasa melintas dari pertanyaan-pertanyaan revolusi ke pertanyaan-pertanyaan reforma. Ini bukanlah hal yang sama. Tidakkah Anda berpikir bahwa gerakan Chartis memainkan sebuah peran besar dalam Reforma di Ingris pada abad ke-19?

Wells: Chartis-chartis berbuat sedikit dan menghilang tanpa meninggalkan sebuah jejak.

Stalin: Saya tidak setuju dengan Anda. Chartis-chartis, dan gerakan pemogokan yang mereka organisir, memainkan sebuah peran besar; mereka memaksa kelas penguasa membuat sejumlah kelonggaran mengenai waralaba, mengenai pelenyapan yang disebut “wilayah-wilayah busuk,” dan menenai beberapa pokok-pokok dari “Charter”.

Chartisme memainkan sebuah peran sejarah yang penting dan memaksa seksi dari kelas-kelas berkuasa untuk membuat kelonggaran-kelonggaran tertentu, reforma-reforma, guna mencegah guncangan-guncangan besar. Secara umum, haruslah dikatakan bahwa dari semua kelas-kelas berkuasan, baik aristokrasi, dan borjuasi, terbukti yang paling pintarm paling fleksibel, dari sudut pandang kepentingan-kepentingan kelas mereka, dari sudut pandang menjaga kekuasaan mereka. Ambil sebagai sebuah contoh, dari sejarah modern, pemogokan umum di Inggris pada tahun 1926. Hal pertama yang akan dilakukan oleh tiap borjuasi manapun di hadapan peristiwa semacam itu, ketika Dewan Umum Serikat-Serikat Buruh mengajak mogok, adalah menangkap pemimpin-pemimpin serikat buruh.

Borjuasi Inggris tidak melakukan itu, dan ia bertindak dengan pandai dari sudut pandang kepentingan-kepentingannya sendiri.

Saya tidak dapat membayangkan sebuah strategi fleksibel semacam itu digunakan oleh borjuasi di Amerika Serikat, Jerman atau Perancis. Guna menjaga kekuasaan mereka, kelas-kelas berkuasa Britania Raya tidak pernah mengingkari kelonggaran-kelonggaran kecil, reforma-reforma. Tetapi akan menjadi sebuah kesalahan untuk berpikir bahwa reforma-reforma ini adalah revolusioner.

Wells: Anda memiliki sebuah pendapat yang tinggi mengenai kelas-kelas penguasa negeri saya daripada saya sendiri. Tetapi adalah perbedaan besar antara sebuah revolusi kecil dan sebuah reforma besar? Bukankah sebuah reforma adalah sebuah revolusi kecil?

Stalin: Menerima tekanan dari bawah, tekanan dari massa, borjuasi dapat kadang-kadang menyerahkan reforma-reforma parsial sementara tetap pada basis sistem sosial-ekonomi yang ada.

Berlaku seperti ini, ia memperhitungkan bahwa kelonggaran-kelonggaran ini pelu guna menjaga kekuasaan kelasnya. Ini adalah esensi reforma. Revolusi, namun, berarti perpindahan kekuasaan dari satu kelas kepada yang lain. Itulah mengapa adalah tidak mungkin menggambarkan reforma apapun sebagai revolusi. Itulah mengapa kita tidak dapat mengandalkan perubahan sistem-sisem sosial yang bertempat sebagai sebuah transisi yang tidak tampak dari satu sistem kepada yang lain dengan cara-cara reforma-reforma, dengan kelas penguasa membuat kelonggaran-kelonggaran.

Wells: Saya sangat berterimakasih kepada Anda untuk perbincangan ini yang berarti begitu banyak bagi saya. Dalam menjelaskan hal-hal kepada saya Anda barangkali mengingat bagaimana Anda telah menjelaskan dasar-dasar sosialisme di dalam lingkaran-lingkaran ilegal sebelum revolusi. Pada hari ini hanya ada dua orang yang mana pendapatnya, yang mana setiap kata, berjuta mendengarkan: Anda, dan Roosevelt. Yang lainnya dapat berkotbah sebanyak yang mereka suka; apa yang mereka katakan tidak akan dicetak atau diindahkan.

Saya tidak dapat namun mengapresiasi apa yang telah dilakukan di negeri Anda; saya baru sampai kemarin. Tetapi saya telah melihat wajah-wajah bahagia dari pria-pria dan wanita-wanita sehat dan saya tahu bahwa sesuatu yang sangat besar sedang dilakukan di sini. Kontras dengan tahun 1920 sungguh menakjubkan.

Stalin: Lebih banyak yang dapat telah dilakukan dahulu mendapati kami Bolshevik-bolshevik yang lebih pandai.

Wells: Tidak, jika umat manusia lebih pandai. Akan menjadi sebuah hal bagus untuk menemukan sebuah rencana lima tahunan untuk membangun ulang otak manusia yang tentunya kekurangan banyak hal-hal yang dibutuhkan untuk sebuah tatanan sosial yang sempurna.

(Tawa.)

Stalin: Tidakkah Anda berniat tinggal untuk Kongres Serikat Penulis Soviet?

Wells: Sayangnya, saya ada banyak janji untuk dipenuhi dan saya dapat tinggal di URSS hanya untuk seminggu.

Saya datang untuk menemui Anda dan saya sangat puas dengan perbincangan kita. Tetapi saya berniat berdiskusi dengan penulis-penulis Soviet demikian karena saya dapat menemui kemungkinan afiliasi mereka dengan klub PEN. Ini adalah organisasi international penulis-penulis yang didirikan oleh Galsworthy; setelah kematiannya saya menjadi ketua. Organisasi masih lemah, tetapi ia punya cabang-cabang di banyak negeri. Ia bersikeras pada penyampaian pendapat bebas ini – bahkan pendapat oposisi.

Saya harap dapat mendiskusikan pokok ini dengan Gorky. Saya tidak tahu jika anda siap tetapi untuk sebegitu banyak kebebasan di sini.

Stalin: Kami Bolshevik-bolshevik menyebutnya “kritisisme diri.” Ia sangat luas digunakan di URSS. Jika ada sesuatu yang dapat saya lakukan untuk membantu Anda saya akan senang untuk melakukannya.

Wells: (Mengekspresikan rasa terima kasih.)

Stalin: (Mengekspresikan rasa terima kasih atas kunjungannya.)

Ketika dosen liberal menyamakan sosialisme dengan Nazi

Sungguh mengejutkan bagi saya ketika mendengar seorang dosen bergelar doktor tidak bisa membedakan antara sosialisme dengan nazisme atau fasisme. Pertama, aku tahu bahwa ada begitu banyak propaganda kebohongan tentang komunisme dan rezim sosialis yang disebarkan oleh barat kapitalis, jadi aku bisa mengerti kekeliruan pengetahuan sejarah. Kedua, aku tidak habis pikir orang yang bergelar doktor tidak mampu memahami perbedaan fondasi filosofis dari sosialisme dan fasisme. Ketiga, orang ini tidak tahu bahwa kanan jauh dan kiri senantiasa sebenarnya saling memusuhi.

Dosen ini cukupb idealis (dalam artian oposisi dengan materialisme). Aku memberi hormat pada dosen ini karena usahanya untuk menunjukkan ketidakadilan sosial yang disembunyikan. Terutama, saya berterimakasih karena telah diberikan pengetahuan mengenai praktik eksploitasi anak di balik program-program penyiaran, tentang kritiknya terhadap KPI yang berpihak pada pemilik media, dan pendiriannya yang teguh pada prinsip kerakyatan bahwa media sebagaimana diatur oleh undang-undang harus sebesar-besarnya dimanfaatkan untuk kebaikan publik.

Beliau menyatakan dalam slide presentasinya bahwa eksploitasi anak merupakan komodifikasi. Ini pernyataan yang bagus, namun, hanya saja aku berharap ada kesadaran kelas di sini. Bahwa semua pekerja upahan dihadapan kapital tidak ada bedanya dengan komoditas. Harapan itu sirna ketika mendekati akhir kuliah, seperti di singgung di paragraf pertama, ia menyatakan sosialisme yang menjadi ciri orde lama sama seperti Nazi karena media digunakan untuk kepentingan propaganda.

Pada akhirnya, aku mengambil kesimpulan bahwa sang dosen adalah seorang liberal sosial. Ini terbukti pada gagasan-gagasan idealis nya tentang hak-hak tetapi menghindari analisis kelas. Ia tahu bahwa komodifikasi manusia itu buruk, tetapi tidak menyatakan bahwa komodifikasi ini harus dihapuskan. Mengakui bahwa media sepatutnya industri (budaya) harus dikontrol agar melayani kepentingan publik, tetapi tidak mempertimbangkan bahwa kepentingan pemilik industri yang menghamba pada laba adalah bertentangan dengan kepentingan publik.

Pada intinya, sebuah gejala yang dialami semua liberal adalah bahwa mereka tahu ketidakadilan sosial itu buruk, tetapi menganggap penyebabnya (kapitalisme) sebagai baik.

Tulisan (lawas) tentang menjadi hidup

Book is love, book is life

Ketika aku masih seorang siswa SD kelas 4, aku katakan pada diriku sendiri, “Kalau bisa, aku tidak ingin bekerja. Aku ingin kuliah saja. Tapi mungkin aku tetap harus bekerja.” Aku berpikir mempelajari matematika. Aku, karena, dikenal sebagai si pandai matematika waktu itu. Meskipun nilai matematika ujian nasional SMA ku membuktikan aku adalah orang lemah di subjek itu.
Pada masa pemberontakanku, akhir masa SMP dan awal masa SMA, aku menjadi antisosial. Warnet dan perpustakaan mungkin bisa dikatakan tempat favorit. Aku suka bermain dan membaca, meskipun lebih sering bermain. Karena tidak ada hal lain yang berarti. Setelah bisa mengakhiri masa pemberontakan, aku mengurangi waktuku yang kuberikan untuk bermain dan membaca. Tapi aku tetap menyukainya, terutama keinginanku untuk membaca menjadi semakin besar. “Aku ingin memiliki perpustakaan sendiri, jadi aku bisa menghabiskan waktu hidupku membaca koleksiku,” pikirku.
Gambaranku tentang dunia perkuliahan ketika aku masih SMA adalah di mana orang-orang mengabdikan diri pada buku dan ilmu pengetahuan. Ekspektasi itu dicemari, meskipun. Orang-orang terlalu mempedulikan pengalaman-pengalaman yang terencana untuk pencapaian apa yang mereka sebut kesuksesan. Aku ingin mengutuk, tapi tidak aku lakukan karena itu berlawanan dengan idealisme. Itulah kebebasan.
Aku hampir tidak pernah memikirkan masa depan secara detail, hanya membuat suatu gambaran abstrak yang sepertinya bagus jika bisa tercapai. Dan karenanya, aku bisa mengalir menjelajahi kehidupan. Aku tidak begitu mempermasalahkan aku menjadi apa. Selama aku hidup dan bisa mengalami kehidupan, aku baik dengan itu.

Kuli dan Perjuangan Kelas

Tentu tidaklah ada yang salah dengan menjadi kuli, dan tentulah tidak salah untuk pekerja mengambil alih nilai-lebih mereka yang selama ini dicuri oleh bos-bos sebagai “laba” dengan memanfaatkan institusi negara yang dalam sejarah lahir memang untuk mengamankan pencaplokan hasil kerja orang lain. Dengan kata lain, institusi negara tidaklah pernah netral. Bahwa kapitalis dapat mengambil sebagian (besar) nilai dari hasil kerjamu bukan karena hak yang datang dari Sesuatu Di Luar Sana Yang Maha Tinggi, tetapi karena institusi negara dengan hukum perundangan-undangan nya dan lembaga koersif (polisi, tentara) memastikan proses pencurian nilai ini lancar-lancar saja. Jika ini normal, dulu perbudakan itu normal, kenapa tidak menciptakan kenormalan baru? Menciptakan tatanan yang tidak mengenal “penindasan manusia oleh manusia”, menjadikan tatanan semacam itu NORMAL. Nggak ada yang akan menyalahkan mu untuk memperjuangkan itu. Sebagaimana kapitalisme lahir dari perjuangan melawan feodalisme, berjuanglah melawan Kapital.

Kapital (modal) dan upah (minimum) tidak pernah bisa damai. Ketika terjadi krisis, kapitalis tidak peduli upahmu dan nasib keluarga mu. Mereka lebih memilih mengamankan kapital mereka, entah itu dengan menekan upah atau melempar mu keluar dari sumber penghidupan. Ketika pekerja menuntut, kapitalis menggunakan lembaga koersif negara (polisi) untuk meredam segala upaya protes, mogok, sabotase, dan perlawanan lainnya. Tidak ada yang salah dengan perlawanan. Karena sesungguhnya tidak ada hubungan yang setara antara kapital dengan kerja upahan. Mereka akan selamanya berseteru sampai salah satunya dikalahkan. Apakah kamu sebagai pekerja mau menjadi pihak yang dikalahkan? Mengalah pada penindas mu?

Pertentangan kelas sungguhlah adanya. Orang-orang yang menolaknya (entah dengan sadar atau tidak) sebenarnya hanya mempertahankan keadaan yang ada (status quo). Tidaklah mengherankan jika sekarang ketika ekonomi global sedang menuju krisisnya, kapitalis finansial yang tidak lagi bisa mengamankan kepentingan mereka dengan cara-cara demokratis, akhirnya memilih jalan menjadikan FASIS institusi negara. Di sinilah menjadi nyata bentuk dari kediktatoran kelas borjuasi. Apalagi di zaman imperialisme, hal ini tidaklah hanya sekadar kepentingan borjuasi nasional tetapi juga kaum monopoli transnasional. Siapa yang harus kamu lawan sudahlah jelas. Sesama pekerja bersolidaritas, hindari perpecahan.

Mencurigai sesuatu di balik paedophilia

Ketertarikanku pada masalah ini berawal dari menemukan orang membagikan album gambar komik “Loli and FBI” di Facebook (tidak lagi dapat diakses). Gambar-gambar itu menunjukkan bagaimana seorang petugas FBI yang pada akhirnya tidak dapat menahan diri ketika anak perempuan yang ikut bersamanya terus-menerus menggoda petugas tersebut secara seksual. Petugas itu tidak jadi melakukan hubungan seksual dengan anak tersebut karena petugas lain yang melihatnya bertindak segera. Petugas pertama lari dan petugas kedua mengejarnya. Sedangkan, anak perempuan itu menertawai mereka di bangku mobil. Aku bagikan album itu dengan komentar:

1. Kalau digoda dan itu membuatmu tidak nyaman, bilang penggoda untuk berhenti dan tidak melakukannya. Tolak dengan baik-baik.
2. Seks hanya boleh dilakukan dengan persetujuan dari dua atau lebih pihak yang akan melaksanakannya, termasuk bagaimana melakukan.

Tentu, ini kontroversial. Apakah adanya persetujuan (consent) antara seorang anak dan seorang yang dewasa dapat menjadikan hubungan seksual di antara mereka dibenarkan? Pribadi, aku perlu menyondongkan jawabanku pada pilihan “Tidak” daripada “Ya” berdasarkan pertimbangan kondisi sosial-politik saat ini. Tetapi, aku perlu juga untuk mengutarakan sesuatu yang umumnya tersembunyi dari wacana paedophilia. Ini terinspirasi oleh pernyataan Slavoj Žižek (yang aku tidak paham konteksnya apa):

You see, the Lacanian solution to this problem would be to find the bigger ideological picture. What is the meaning of this comfort and happiness, is that truly what freedom consist of?

Ketimpangang kuasa

Menganalisa hubungan kuasa atau subjek-objek dalam sebuah hubungan dapat membantu kita dalam memahami apakah hubungan antara subjek-subjek setara atau tidak. Lalu, apakah hubungan kuasa antara seorang anak dan seorang dewasa yang bernafsu pada tubuh anak-anak setara? Itu sangat mungkin tidak setara. Tentu, saya tidak menggolongkan semuanya karena ada, misalnya, kasus unik di mana seorang yang mengakui mengunduh gambar-gambar pelecehan anak melaporkan dirinya sendiri ke polisi [2]. Pelaporan dirinya sendiri menunjukkan usaha dia untuk tidak mengobjektivikasi tubuh anak-anak (lebih lanjut). Masalah objektivikasi tubuh akan dibahas nanti pada masalah seksualisasi tubuh.

Pendidikan seks adalah penting untuk mengajarkan anak-anak tentang tubuhnya, hubungan sosial, perilaku tidak pantas, dan pelecehan. Hal ini dikemukakan oleh UNESCO [3]. Ketidaktahuan anak akan hal tersebut dapat menyebabkan mereka rentan untuk dijerumuskan oleh kaum predator anak ke penindasan tubuh (pelecehan). Inti dari ketimpangan kuasa adalah bahwa anak-anak tidak dilihat sebagai subjek yang memiliki kehendak sendiri. Fenomena yang lebih mengejutkan adalah ketika seorang pedofil mencoba menormalkan penindasan tubuh itu dengan menyatakan bahwa anak-anak menyukainya dan menyalahkan budaya yang melarangnya [4].

Seksualisasi tubuh anak-anak

Paedophilia menurut ilmu psikologi adalah kondisi di mana seorang individu cenderung atau hanya menyukai anak-anak pra-remaja (13 tahunan atau kurang). Hal yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua yang melakukan pelecehan terhadap anak adalah pedofil [5]. Maka, label “pedofil” pada pelaku pelecehan terhadap anak adalah salah. Konsekuensi buruk dari pelabelan sembarangan ini adalah tersembunyi kenyataan bahwa ada sesuatu yang lain (daripada paedophilia) yang menyebabkan pelecehan tersebut marak terjadi.

“If I could talk to those companies, I would tell them that makeup, hair, clothes, do not make you look beautiful, it doesn’t make you perfect and it doesn’t give you the most confidence in the world.” (Faith, dikutip langsung dari video percakapan di atas)

Seksualisasi adalah reduksi manusia sebagai objek seksual dengan hanya memandang karakteristik-karakteristik fisik tertentu yang dianggap seksual [7]. Estetika tubuh rentan untuk dieksploitasi oleh orang-orang dewasa, sebagaimana tercermin di media. Eksploitasi ini terutama terjadi di dalam periklanan di mana iklan mengarahkan orang-orang untuk memiliki hasrat (seksual) tinggi pada estetika tubuh yang menyelubungi komoditi sehingga ingin memiliki dan mengkonsumsinya. Ini menjadi lebih buruk ketika pornografi anak dimasukkan ke dalam daftar. Di dalam pornografi anak, tubuh anak secara vulgar ditundukkan sebagai obyek pemuas dahaga seks.

Apakah pendidikan seks merupakan bagian dari seksualisasi tubuh? Seks dalam pendidikan seks tidak dicitrakan sebagaimana dalam pornografi. Ia mengajak anak untuk memahami tubuh dan potensi dari tubuh itu sebagaimana adanya. Yang diperlukan bukanlah menyembunyikan seks, tetapi memahami rasa ingin tahu anak dan meresponnya dengan bijak [8]. Sebagai kritik diri, aku, sebagaimana yang tertulis di paragraf pertama, barangkali telah ikut berkontribusi pada seksualisasi tubuh anak. Aku akan berusaha untuk tidak melakukan itu lagi.

Patriarki

Kenyataan bahwa sebagian besar korban pelecehan seksual adalah perempuan (termasuk transgender) menandakan kondisi budaya yang patriarkal di mana posisi laki-laki adalah dominan sedangkan perempuan berada di posisi submisif [9]. Dalam budaya patriarki, kehadiran (eksistensi) perempuan adalah hanya sebagai pendamping, pelengkap, atau pendukung laki-laki. Maka, akan langsung ditolak oleh kaum reaksioner, ide-ide yang mendukung pembebasan perempuan untuk menuntut kesetaraan pada laki-lakinya, hidup mandiri, tertarik pada dan/atau memilih perempuan lain daripada laki-laki (biseksual, lesbian) atau berubah menjadi laki-laki (Female-to-Male).

Perlawanan terhadap patriarki tidaklah mudah. Sebegitu mengakarnya, laki-laki (yang berusaha menjadi) feminis, bahkan, masih bisa terperangkap dalam bingkai patriarki. Hal ini tercermin oleh seorang politisi Demokrat Amerika Serikat yang pro-choice, Joe Biden. Dari gambar di atas, kita dapat mengetahui bahasa tubuhnya yang mencerminkan dominasinya. Ia sama sekali tidak menunjukkan keterbukaan dan penerimaan. Justru, itu tampak seperti ia sedang menekan dan mengancam perempuan di hadapannya. Itu dapat menimbulkan kecurigaan apakah Biden, barangkali, hanyalah seorang politisi oportunis yang sedang mencari suara dari kalangan yang mendukung aborsi [10].

Kapitalisme

Dengan mengaplikasikan perspektif Marxis pada kriminologi, kita dapat mengetahui bagaimana kapitalisme itu sendiri memiliki sifat krimonogenik (menyebabkan kejahatan). Beberapa hal berikut menunjukkan bagaimana kapitalisme berdampak pada hubungan sosial di masyarakat [11].

  1. Budaya kompetisi yang toksik untuk kepentingan pribadi/laba/uang. Kepentingan komunitas dan perlindungan alam berada di prioritas bawah;
  2. Konsumerisme. Orang-orang dipaksa untuk mengkonsumsi sebanyak mungkin dan mengikuti gaya hidup yang sebenarnya tidak dapat diraih oleh sebagian besar orang; dan
  3. Ketidaksetaraan ekonomi. Kekayaan sebagian kecil orang, pada kenyataannya, didapat dari pemiskinan sebagian besar orang.

Lalu, bagaimana hubungannya dengan pelecehan terhadap anak? Pertama, kompetisi erat kaitannya dengan dominasi. Hubungan sosial saat ini tidak didasari atas kesetaraan individual dan saling bantu (mutual aid). Dalam hubungan semacam itu, yang kuat akan menindas yang lemah. Anak-anak yang umumnya lebih lemah rentan menjadi target penindasan. Kedua, apa yang kita konsumsi selalu ideologis. Žižek mengingatkan kita tentang kenyataan sehari-hari yang ideologis dan keluar darinya hampir tidak mungkin. Konten yang menjadikan tubuh seksual (seksualiasi) melalui media sebegitu mudah diakses dan bisa jadi telah ternormalkan sehingga tidak disadari. Ketiga, aku tidak begitu tahu. Tentu, keadaan ekonomi punya pengaruh pada tindak kejahatan [12]. Ada juga apa yang disebut kekerasan finansial di mana korban dipaksa bergantung secara ekonomi pada pelaku sehingga dapat dikontrol [13]. Tetapi jika ingin mengambil jarak lebih lanjut, penawaran dan permintaan atas eksploitasi seksual, khususnya anak, membutuhkan reduksi manusia sebagai properti. Maka, barangkali, penghancuran properti diperlukan untuk membebaskan subjek manusia dari ketertindasan.

Apa yang dapat dilakukan?

Jawabannya adalah membalikkan apa yang dikemukakan di atas: wujudkan kesadaran kesetaraan, hentikan seksualisai tubuh, bentuk budaya feminis, dan wujudkan tatanan sosialis.

Sumber gambar unggulan pos ini: http://edupost.id/parenting/kesalahan-pola-asuh-anak-picu-kekerasan-seksual/

Lupakan Postmodernisme: Persoalan Nilai, Tanda, dan Dunia Virtual

Tulisan ini merupakan ekspresi dari perdebatan antara diriku yang imajiner dan orang-lain-tak-dikenal yang juga imajiner (untuk bagian 1 dan 2 saja). Inti pembelaannya adalah bahwa tidak ada keterputusan dari modernisme yang memisahkannya dengan postmodernisme (saya teringat Anthony Giddens ketika menulis ini). Dasarnya adalah bahwa “kapital senantiasa beranak cucu kapital”. Fokusku adalah mengenai ‘nilai-tanda’ (Jean Baudrillard). Apakah konsepsi ‘nilai’ Marx telah dikacaukan dengan kehadiran jenis nilai baru ini (selain nilai-tukar dan nilai-guna)?

Nilai-tanda adalah bagian dari nilai-guna

Aku adalah laki-laki secara biologis. Seandainya saya adalah seorang konservatif yang berpandangan bahwa laki-laki harus mengikuti standar maskulinitas (kelaki-lakian), maka saya akan memilih, (misalnya) ketika membeli baju, sebuah baju yang merepresentasikan maskulinitas. Dalam hal ini saya membeli baju berdasarkan pertimbangan bahwa baju maskulin tersebut memiliki nilai yang lebih tinggi daripada baju non-maskulin. Dengan kata lain, desain baju yang secara konotatif merujuk pada maskulinitas (sebuah tanda) lebih dikehendaki (memiliki nilai). Dari contoh ini, desain–yang dalam kasus ini menjadi tanda–seolah-olah punya nilai sendiri di luar kegunaan baju sebagai baju yang menutupi tubuh (nilai-guna).

Mari pertimbangkan penyimpulan ini! Aku membeli baju itu karena aku laki-laki dengan mengasumsikan baju itu merepresentasikan kelaki-lakian. Kenapa harus kelaki-lakian? Karena aku adalah seorang konservatif dalam kasus ini. Lalu apa hubungannya baju maskulin dengan aku yang konservatif? Yah.. sederhananya, aku tidak mungkin (dianggap) konservatif jika mengenakan pakaian yang ditujukan untuk gender perempuan. Yang terjadi adalah bahwa baju maskulin itu perlu dan berguna untuk menegaskan ‘kondisi pikiran’ (pengetahuan, ideologi). Sebagaimana seorang marxis menghindari hal-hal yang menandakan fasisme, seorang konservatif juga akan menghindari hal-hal yang bisa menjadi tanda anti-konservatifisme. Sebuah tanda dikehendaki bukan karena ia memiliki nilai lebih (atau berbeda) dibanding tanda lain; ia dikehendaki karena ia memiliki kegunaan untuk apa saja yang mungkin terpikirkan oleh penggunanya (secara tidak sadar ketika menjadi ideologi).

Komodifikasi tanda melalui pemasaran

Bagaimana menjelaskan kebergunaan tanda (dan penandaan) sebagai bagian dari nilai-guna? Aku pernah memiliki ketertarikan untuk membeli sebuah buku tapi dihadapkan pada cover buku itu yang kurang menarik. Kenapa sampul sebegitu dipertimbangkan oleh pemasar? Simply, karena ada permintaan (oleh konsumen yang suka melihat cover) untuk komoditi diproduksi menurut suatu cara konstruksi pertandaan tertentu. Bagian terpenting dari kapitalisme adalah komoditi (tentunya) yang bisa laku di pasar. Di sinilah pemasaran bergerak dengan segala sumber dayanya untuk membangun jembatan antara komoditi dan konsumen. Dalam hal ini, segala macam perwujudan dari strategi pemasaran dan promosi (periklanan, personal selling, direct marketing, sales promotion, public relations, corporate image, blabalbalbalba…) pada dasarnya tidak terlepas dari komoditi karena ia merupakan bagian dari hasil kerja sosial para pekerja departemen pemasaran dalam proses produksi keseluruhan dari komoditi (dengan konstruksi tanda dan penandaan tertentunya). Seandainya ada strategi yang sederhana, murah, dan efektif dalam misinya menguasai pasar, pemasar pasti akan memilih itu karena tujuan akhirnya adalah terbelinya komoditi oleh konsumen [Referensi: Karl Marx, “Wage, Labour, and Capital” dan “Capital” bab 1].

Dunia virtual: komodifikasi data

Ada yang bilang kaum gamers adalah kelompok yang paling tertindas. Mengenai kasus ini, saya sepakat dengan komentar seorang warga Youtube, The Panda di video azureScapegoat “The Marxist Views on Gender, LGBT, Art and Alienation“, yang menyatakan bahwa para pemain permainan video seharusnya memilih partai berhaluan kiri dan tidak jatuh pada ide meritokrasi neoliberal [screen capture komentar]. Pemain-pemain games (yang sebagian besar berasal dari kelas pekerja) justru mengambil sikap yang tidak menguntungkan diri mereka sendiri ketika memilih percaya pada pencapaian pribadi (seperti habis uang gaji untuk gacha, misalnya).

“…data is itself without value; it is only when it becomes information that it realizes that value.” – Gordon Hull dalam tulisannya, “Big Data, Commodification and Original Accumulation

Segala hal yang ada di dunia virtual tidak terlepas dari data. Data itu sendiri bukanlah sesuatu seperti atom yang telah ada bahkan sebelum adanya kita (sebagai kesatuan dari atom-atom). Data diciptakan (ke dunia virtual), maka ada proses produksi (di dunia nyata) yang menciptakannya. Ia memiliki ciri seperti tanda, yaitu bahwa ada penandaan (computer programming) dibalik data yang membentuknya menjadi sebuah teks (perangkat lunak, berkas-berkas digital). Kehadiran data, namun, tidak dapat dipisahkan dengan teknologi. Dalam hal ini, teknologilah yang menghubungkan kita dengan data. Sebagai suatu hal yang non-material, data dan/atau perangkat lunak yang terbentuk darinya sebenarnya adalah suatu gajala yang sekaligus dapat menimbulkan gejala lain. Gejala-gejala itu dapat diterima indera melalui teknologi. Maka, komodifikasi data bisa dikatakan sebagai komodifikasi atas gejala-gejala yang ditimbulkan dari operasi teknologi.

Komodifikasi data terletak pada pembatasan akses untuk publik. Ada data yang bisa diakses bebas dan gratis tetapi ada juga yang baru dapat diakses setelah mendapat izin dari pemilik atau pemrogram (produser, kreator) data baik itu individu, kelompok, atau organisasi. Izin tersebut dapat diterima baik dengan atau tanpa membayar. Ketika aku membeli sebuah game di sebuah layanan media distribusi digital, aku menukar sejumlah uang dengan akses pada sebuah perangkat lunak permainan video (yang berizin legal). Sebagai data, perangkat lunak tidak memiliki kuantitas-komoditas-terproduksi. Yang diperjualbelikan sebenarnya adalah akses pada data. Setelah proses produksi pertama sebuah perangkat lunak selesai, ia selanjutnya bisa direproduksi tanpa batas (di dalam dunia virtual). Satu-satunya batas adalah perlunya listrik (yang dibeli dari PLN) untuk mengalir ke perangkat keras agar segala aktivitas virtual berjalan. Jadi, komodifikasi data membutuhkan listrik (kesimpulan macam apa ini).

Penjelasan yang rada aneh di atas disebabkan oleh usahaku untuk tidak keluar dari wilayah virtual. Jika kita hubungkan antara dunia virtual dan dunia nyata, kita akan tahu bahwa komodifikasi data sebenarnya disebabkan pemusatan kapital di tangan kapitalis-kapitalis pemilik usaha di bidang perangkat lunak dan/atau keras. Hal yang unik mungkin adalah sarana produksi data (komputer) lebih terdesentralisasi karena ia bersamaan merupakan sarana konsumsi data. Dalam proses produksi game, misalnya, tim/perusahaan produksi yang tidak menjadi bagian dari perusahaan major label mengumpulkan dana dari fundraising karena tidak memiliki cukup banyak modal. Aku pribadi penasaran bagaimana sekiranya industri permainan video beroperasi di dalam masyarakat sosialis. Karena permainan video sedikit berbeda dibandingkan perangkat lunak utilitas, ia mungkin akan diperlakukan berbeda dengan perangkat lunak sumber terbuka. Modding (untuk penampilan, suara, dsb) untuk senang-senang memang tidak masalah, tetapi menyunting isi permainan (cerita, status karakter, dll) tentu sebuah bentuk perusakan terhadap permainan tersebut. Yang mungkin dibagikan dari game dan semua perangkat lunak lainnya tidak lain adalah bahasa pemrograman sebagai struktur paling dasar dalam pengkodean data. Dengan kata lain, pendidikan ilmu komputer yang tidak dikomodifikasi.

Ketika berbicara mengenai dunia virtual, ia tidak lepas dari perkembangan kontemporer yang disebut sebagai kecerdasan buatan (artificial intelligence). Namun, ia mungkin akan dibahas oleh aku pada kesempatan lain. Video tentang AI yang terakhir aku lihat adalah pernikahan dua AI: Alexa dan Siri. Menontonnya membuatku terharu.. Sebagai penutup, aku sajikan sebuah candaan:

“Seseorang menanyakan apa yang aku lakukan. Aku katakan bahwa aku sedang membaca buku. Padahal, aku tidak memegang buku tetapi ponsel pintar. Apakah aku benar-benar membaca buku? Ataukah aku membaca simulasi buku melalui ponsel pintar?

Posmodernisme berbahaya bagi Marxisme

Aku adalah orang yang berangkat dari Postmodernisme sebelum mendalami Marxisme. Dalam hal ini, posisiku selalu mencoba untuk mempertahankan postmodernisme, berusaha menyelaraskannya dengan Marxisme seperti yang aku lakukan di subversi kiri. Tetapi aku dihadapkan dengan narasi-narasi marxis yang cenderung menentangnya (termasuk debat Zizek vs Peterson). Salah satunya misalnya dari podcast berjudul “Legacies of Postmodernism” oleh saluran langganan Aufhebunga Bunga di mana pembicara-pembicara menunjukkan beberapa hal berikut:

Postmodernisme menjauhkan kelas pekerja dari perjuangan kelas

Aku pribadi merasa postmodernisme tidak pernah menempatkan diri sebagai penggerak perubahan. Ia bisa mengobrak-abrik dan membongkar segala wacana dan kekuasaan di baliknya, tetapi tidak pernah mengungkapkan bahwa hal-hal tersebut dapat dan perlu diubah (secara radikal). Ia justru menjerumuskan orang-orang pada kesenangan akan ilusi-ilusi yang diciptakan dalam kapitalisme lanjut (late capitalism).

Postmodernisme digunakan oleh kaum kanan untuk membuat narasi anti-kiri

Postmodernisme memang dalam dirinya sendiri dipengaruhi oleh marxisme tetapi juga menyerang marxisme dengan mengalihkan perhatian ke masalah budaya daripada ekonomi. Kecenderungan untuk menghindari fokus pada masalah ekonomi menjadikannya dapat digunakan oleh kaum kanan untuk menyerang marxisme.

Postmodernisme mengaburkan kebenaran

Kebenaran tidak lagi dijunjung tinggi dalam postmodernisme. Postmodern merayakan kematian kebenaran (tunggal-transedental). Aku agak positif dalam hal bahwa ia mengingatkan akan kesukaan orang untuk truth claim. Namun, ia menjadi problematis ketika ia menggiring pikiran orang untuk percaya bahwa realitas yang kacau (chaotic) adalah alamiah dan bukan konstruksi (atau konsekuensi).

Postmodernisme melestarikan kapitalisme

Aku memberi sedikit pertimbangan mengenai imposibilisme. Tanpa perubahan struktural yang berarti, kapitalisme tidak akan pernah bisa diruntuhkan. Postmodernisme erat kaitannya dengan pesimisme terhadap narasi besar (grand narrative). Maka, ia tidak akan punya daya cukup kuat untuk perubahan struktural dan jatuh pada reformis (demokrat sosial) atau lebih buruk lagi menerima kapitalisme (liberal).

Sebenarnya masih ada hal-hal lain mengenai postmodernisme yang tidak sejalan dengan marxisme tetapi aku pikir beberapa yang aku sebut di atas cukup untuk pengantar. Juga, sebenarnya aku ingin menulis tentang Brexit tetapi (sangat) kekurangan bahan karena tidak begitu mengikuti. Mengenai postmodernisme, ia masih menarik bagiku sebagai bagian dari kajian budaya populer. Sebagai penutup, aku bertanya:

“Tidakkah masalah untuk menjadi marxis sekaligus wibu?”

Bonus: