Komodifikasi atas Gurun Pasir

Banyak acara mengedukasi orang cara jadi kaya dan banyak kesempatan tersedia untuk membunuh keberadaan orang yang tidak ingin kaya. Banyak acara menandakan terpenuhinya hak dan banyak kesempatan merampas kepedulian atas nama pemenuhan hak. Tulisan ini adalah perwujudan dari pikiran saya (penulis), yang masih diberi kesempatan oleh Tuhan sehingga bisa berpikir (sedangkan para buruh kita terlalu lelah setelah bekerja).

Dunia itu seperti gurun pasir. Kepanasan dan kedinginan, plus kelaparan, memang menyiksa tetapi masih ada hujan dan pohon-pohon, serta bahkan surga genangan air. Tetapi manusia berpikir. Gurun pasir itu berhasil sebagiannya diubah jadi surga ternikmat di dunia. Hanya saja, ada tembok transparan. Kenikmatan itu ada di depan mata tetapi tidak dapat diraih. Beruntunglah orang-orang yang sudah berada di sisi dalam. Lebih parah, yang di sisi dalam “juga” saling membunuh. Sebagai orang yang (masih) percaya Tuhan, mungkin ini adalah dosa manusia karena berusaha tahu dan melampaui batas.

Apa yang tertulis di paragraf sebelumnya tidak merujuk fenomena yang sekarang disebut oleh Albert Einstein (Why Socialism?) “kejahatan terburuk kapitalisme” atau Dede Mulyanto (Geneologi Kapitalisme: Antropologi dan Ekonomi Politik Pranata Eksploitasi Kapitalistik) “akumulasi dalam anarki” (judul bab 4). Tetapi saya melihat ada suatu fenomena dunia yang statis terus ada bahkan sejak Adam dan Hawa (Eve) tinggal di bumi. Seperti, Qabil (Cabil) yang membunuh saudaranya demi mendapat tubuh perempuan yang ‘lebih cantik’. Sebagai catatan, tubuh adalah bagian dari gurun pasir karena pasir sama dengan tanah dan (menurut Islam) Adam diciptakan dari tanah, plus Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam. Mungkin ini bisa jadi inspirasi untuk pengejar nomena (esensi).

Kritisisme itu terkadang menghampakan. Analogi “gurun pasir” ini sebenarnya terinspirasi Jean Baudrillard “Amerika adalah Gurun Pasir” yang saya temukan di buku Akhyar Yusuf Lubis, Postmodernisme: Teori dan Metode. Setelah membaca bagian buku itu, kehampaan menggerogoti diri saya selama seminggu. Setelah seminggu itu, saya jatuh kembali ke hingar-bingar gurun pasir. Terus terang, kehampaan itu sedikit terasa ketika menulis ini. Namun, berfilsafat adalah mencintai kebijaksaan. Hampa sebentar sebagai refleksi tidak apa-apa tetapi sebaiknya jangan kebablasan.

Saya tidak ingin menjadi sok tahu tetapi, jika kita lihat masalah politik global, seorang Sigmund Freud pun mengaku sedih melihat imperialisme Israel (baca di Tirto.id, Yahudi yang Anti-Zionis, Yahudi yang Pro-Palestina). Dan bukan bermaksud mempromosikan” jalan kiri”, negara-negara dan partai-partai, tidak lupa individu-individu, sosialis (disebut komunis juga tidak apa-apa) sangat aktif membela Palestina. Melihat ini, saya jadi teringat waktu semester lalu ketika saya didebat adik saya yang masih belajar di bangku Sekolah Menengah Pertama kelas 3 karena mengatakan bahwa manusia adalah akar dari segala masalah di dunia yang maka masalah akan terselesaikan dengan ketiadaan manusia. Argumen dia mungkin rada antroposentris karena melihat dunia sebagai diciptakan oleh Yang Maha Kuasa untuk manusia. Lupakan kiri-kanan sejenak, cobalah tonton video Youtube Egoistic Altruism oleh Kurzgesagt – In a Nutshell!

Iklan

Hidup Dalam Arus Kompetensi

“Aku penakut, maka aku ‘like’ dan ‘retweet’. Aku penakut, jadi harus selalu mengutip. Aku takut waktuku tak lama lagi, takut belum sempat berucap sekali pun.” – Muhamad Hardiyanto @HardAkito

Kutipan di atas adalah tweet saya (penulis) yang saya sematkan. Apa artinya? Artinya saya seorang yang gagal. Gagal untuk merasakan pengalaman hidup sebagaimana yang ditentukan. Dengan tanda harga yang rendah melekat di punggung.

Apa yang tertulis di paragraf sebelumnya, silakan abaikan! Tidak, abaikan keseluruhan tulisan ini! Karena memanglah tidak berguna, toh tidak berkontribusi pada pertambahan kapital. Yah, jika saja Anda sadar bahwa alam telah menulis hukumnya sendiri: (menurut bahasa manusia) bencana dan kiamat.

“Aku tidak pernah menyukai kehidupan normal. Jam kerja tetap, eksistensi waktu, di mana seluruh kegiatan kalian terhenti karena suara bel; di mana semua dipersiapkan dari awal hingga akhir selama berabad-abad dari generasi ke generasi.” —Gustave Flaubert, 2017, Memoirs of A Madman hal. 21

Kegilaan adalah berpikir di luar struktur berpikir orang tidak gila. Oleh karenanya, orang tidak gila akan kesulitan memahami pikiran orang gila. Dan oleh karenanya juga, orang tidak gila akan kesulitan memahami mengapa orang gila bangga dan bahagia dengan kegilaannya. Seperti, kenapa saya merasakan kenikmatan eksistensial dengan menulis ini?

Menjadi gila, namun, tidak selalu membahagiakan. Jati dirinya mungkin bahagia, tetapi struktur berbahagia yang mapan senantiasa menjatuhkan dari segala arah. Seperti, kenyataan bahwa saya belum pernah merasakan IP mencapai 3; kenyataan akan CV yang kosong karena tidak mengalami menjadi bagian organisaasi; kenyataan tentang kebisuan di hadapan wawancara; kenyataan atas waktu yang tak lama lagi.

Dari perspektif manusia-manusia yang mengenal sejak saya masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, saya tampak bodoh. Dari sudut pandang manusia-manusia yang mengenal sejak saya masuk Sekolah Menengah Atas, saya punya nilai tidak rendah. Seperti, kenyataan bahwa saya menulis, untuk pementasan kelas se-SMA, naskah drama tragedi eksklusif bertema gelap tentang kedewaan, pengulangan waktu, dan keberadaan; kenyataan akan menjadi kamus Inggris-Indonesia yang berjalan; kenyataan tentang kecintaan pada nuklir dan pikiran anti-kendaraan-bermotor; kenyataan atas self-proclaim sebagai tukang diperintah yang paling loyal.

“Yang membedakan manusia beradab dengan yang primitif terutama adalah prudensi, atau dalam istilah yang agak lebih luas, berwawasan ke depan.” — Bertrand Russel, 2002, Sejarah Filsafat Barat hal. 18

Mengikuti arus kompetensi berarti berusaha mengamankan kepastian akan masa depan. Saya adalah manusia (in-)kompeten yang hidup dalam diskursus bernama “pemberontakan”. Ah~!

Mengapa aku ke kiri?

Mengapa aku pindah haluan ke Sosialisme (Demokratis)?

Pada masa SMA dulu, aku penggilanya liberalisme-kapitalis. “Kesengsaraanmu (kemlaratan) adalah kesalahanmu,” pikir saya dulu.

Aku beruntung ketika kuliah dapat “pencerahan”, kenal ilmu sosial-politik dan filsafat. “Wah, gila ini! Harus diubah ini!” Sebenarnya dari dulu, bahkan sejak kelas 5 SD, aku sudah merasa ada yang ganjil atau tidak benar dengan masyarakat ini tetapi tidak tahu apa sebenarnya yang salah itu. “Kenapa orang-orang seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya diriku dulu. Karena aku tipe orang yang suka memberontak (radikal), negara yang condong ke “kanan”, kapitalisme, ini perlu putar setir ke “kiri”, sosialisme.

Ketika aku belajar sosialisme, aku lihat sosialisme (negara) yang ada di USSR (Uni Soviet) tidaklah tepat. Membunuh kebebasan individu adalah salah. Itu tidak sesuai dengan filsafat negara Indonesia, yaitu Pancasila. Pancasila menghargai tiap individu sebagai bagian dari masyarakat: masyarakat dibentuk oleh individu dan individu hanya akan berharga ketika menjadi bagian dari masyarakat (kata buku LKS PKn SMA).

Kebetulan melihat dinamika politik di AS (Amerika Serikat) yang ada “Democratic Socialism”, aku merasa “wow” dengan yang satu ini, sosialisme yang menghargai kebebasan individu (dengan imbuhan kata “demokratis”). Kecewaku adalah cita-cita mulia sosialis untuk keadilan sosial terlanjur dapat “citra buruk” dari kegagalan sosialis terdahulu dan orang partai komunis yang “kehilangan arah”.

Kapitalisme yang sangat jelas “ketidaksempurnaannya” menjadi seolah-olah seperti hukum alam yang tak dapat ditolak. Berbeda dengan sosialisme-komunisme yang adalah “ciptaan manusia”, kapitalisme itu muncul secara alami sebagai produk modernisasi-industrialisasi. Namun, yang sekadar ciptaan manusia itulah yang telah membuka mata orang, yang telah berkontribusi menggeser pikiran orang untuk tidak memeluk “kapitalisme murni”.

Sosialisme adalah “counter hegemony”-nya kapitalisme. Jika orang tidak diberitahu alternatif bahwa ada jalan “kiri” selain jalan “kanan”, orang akan beranggapan jalan yang ada hanya satu itu saja. Namun, sosialis tidaklah merasa yang paling benar, sosialis tidak antikritik. Aku masih terbuka untuk alternatif lain karena mungkin saja tidak hanya ada kanan dan kiri (mungkin masih ada depan dan belakang atau atas bawah atau yang ada di dimensi ke-empat, entahlah).

Pancasila menjamin keadilan sosial tetapi kapitalisme (hampir) tidak. Alasan itu menjadi motivasi (etis) saya menentang “keserakahan kapitalis”, selain itu, juga ada dampak lingkungan dari eksploitasi sumber daya alam. Aku menyambut baik hadirnya neokapitalisme, yaitu versi yang lebih berkeadilan dan mempersatukan (hutang sosial nol) dari kapitalisme. Meskipun aku bukan orang pintar dan orang bejo, aku juga (berusaha) berinovasi.

Mengangkat kembali guyonan lamaku: “Aku belum mau mati. Negaraku masih seperti ini.”

Tanggal dan bulan lahirku sama seperti Karl Marx 😀

My sexuality

Coming out? I’m a queer.

I never expected I will come to a conclusion that I am a queer. People who reject traditional gender identities and seek a broader and deliberately ambiguous alternative to the label LGBT may describe themselves as queer (Wikipedia, “Queer”). I’m 19 now (birthdate: May 5). In my old post (“I’m Indonesian but I love Yuri”), I told my story concerning sexuality. When I was 14, I was falling in love (having a romantic feeling) to a male friend. At the same time, I was liking a female friend. I still have a feeling for them, yet I never confess (I will! But my feelings are rather different now so it’s not to get a yes). That post was my self-proclaim as a yuri fan. I liking yuri has no influence on me liking the two since it happened before my proclaim.

How did I come this conclusion? I kept asking myself about my sexuality (more precisely my sexual orientation). Once I entered university, I got chances studying this (no, I actually studied yuri @_@” ). This kind of logic (what logic?) below took me to this conclusion.

  • Am I a heterosexual? I doubt I am. I do see some girls (&womans \(~o~)/ ) attractive, but I develop no romantic feeling.
  • Am I a gay? I doubt I am. I do see some guys attractive, but no difference.
  • Am I a bi? No. The two above explain it.
  • Interested being a trans? “I adore females! I want to become like them!” That’s me in elementary school. I still like cute (feminine) things, but I’m not sure. I’m grateful the way I am now.

What left is queer. It’s likely I don’t fit to any stated above (so it’s my only choice (°-°) ). I love yuri and read lots of yuri texts. Yeung Kayi’s thesis (2017), “Alternative Sexualities/Intimacies? Yuri Fans Community in Chinese Context” explains it. Briefly, I embrace an alternative sexuality, a pure relationship named Yuri love. A pure relationship involves mutual self-disclosure to each other in which their trust is built upon communication and the mutual disclosure (Giddens, 1991 in Kayi, 2017: 125).

What is queer, anyway? =_= I don’t really understand what it is. It’s just what the logic (what logic!?) leads me. I have tendencies to care my relationship with males more than females. Does it mean I am a gay? I’M A GAY! SERIOUSLY! But if we see homosexuality (and heterosexuality) as a continuum, everyone is gay (and heterosexual) at some point. Is it necessary to make this distinction in the first place? Yes, but…

Asexual? I think… I’m.. not an asexual. No. I read lots of R-18 manga, after all (@_@).

Celotehan tertulis – Pendidikan bag.1

Ketika membicarakan pendidikan, itu sungguh membuat kepalaku pusing. Mengapa tidak? Ada kurikulum.. karakter.. kompetensi.. blah blah.. menyebalkan. Namun saya peduli dengan ini. Ada perbedaan antara pekerja dan pelajar. Masalahnya adalah ‘belajar’ dianggap ‘pekerjaan’ atau ‘kebutuhan’. Keduanya sebenarnya bukan masalah besar.

Mengapa tidak setiap orang rajin? Itu susah bagiku untuk menjelaskan. Apakah pelajar yang menghabiskan waktu untuk hal non Akademis itu berarti dia malas? Apakah pelajar yang hebat di akademis dan buruk di non Akademis disebabkan karena pelajar tersebut rajin? Entahlah. Jika ‘belajar’ adalah ‘pekerjaan’, siswa belajar untuk mencapai target. Jika ‘belajar’ adalah ‘kebutuhan’, siswa belajar untuk mendapat apa yang dibutuhkannya. Mereka sama, kelihatannya.

Itu bukan masalahnya, ya? Bagaimana dengan ‘kebiasaan’ dan ‘kesukaan’? Akan bagus jika setiap pelajar belajar karena itu adalah ‘kebiasaan’ atau ‘kesukaan’, benar? Apa kita membicarakan No Game No Life? Pelajar dengan ‘kebiasaan’ belajar lebih seperti.. pelajar yang biasa membaca atau semacamnya, aku pikir. Umumnya orang mempelajari sesuatu karena dia menyukai sesuatu itu.

Suka, ya? Orang menyukai sesuatu.. “Ini menarik.” “Menakjubkan.” “Itu menyenangkan.” Jika aku mengambil bagian “Itu menyenangkan”, maka.. aku akan melihat-lihat pendidikan di negaraku. Untuk menyukseskan pendidikan, Indonesia mencoba sebuah konsep.. ‘kelas yang menyenangkan’. Bukan ide buruk sebenarnya. Tetapi apa yang ‘menyenangkan’? Apakah itu sesuatu yang membuat siswa menikmati kelas atau sekedar pelelepasan stres? Aku tidak tahu, aku bukan siswa yang merasakan kurikulum 2013 terevisi.

Jika aku mengambil bagian “Ini menarik”, maka.. aku akan melirik masa lalu sedikit. Biarkan aku berimajinasi! Seorang siswa terjun ke dunia keputusasan, namun dia menemukan sebuah harapan yang memberinya sayap untuk meninggalkan keputusasaan itu. Harapan itu adalah “Pelajaran ini menarik”.

Apa yang telah aku lakukan? Aku seharusnya mengerjakan pekerjaan rumahku, bukannya membuang waktu melakukan ini? Harus bagaimana lagi, sangat lama sejak aku menerbitkan pos semacam ini. Mari lanjutkan!

..

Kanzen Chouaku Lolita Complex [Kairiki Bear][GUMI][Indonesian Translation v.1]

hqdefault

“Kompleks Lolita Pengajaran Moral”

 

Dalam kepala yang pusing
Ada ilusi membara
Di depanku ada gadis cantik, muda, dan masih suci

Hasrat terbelenggu yang menakjuban
Dan sentuhan juga nafsu bukan main
Kenyataan aku tidak kuasai lagi
Hanya ingin membebaskan kenikmatan ini

[Nah, gadis kecil, sendirian ke manakah kamu pergi?]
Kata bayangan hitam mencoba menggapai gadis itu
Di jalan ada orang dengan palu keadilan
Keadilan bagi umat manusia

Lalalila loli lolila
Aku datang untuk menjernihkan ilusi yang kotor
Dasar lolicon ini!
Semua hasrat vulgar itu diriku pasti akan menghancurkan mereka
Dasar lolican ini!

Tangan kecil, wajah yang mungil
Mulut kecil, kaki yang kecil
Lengan kecil, dada yang mungil
Yang mungil tubuhnya

Jari kecil, telinga mungil
Hidung kecil, lutut yang kecil
Ketiak kecil, leher mungil
Yang kecil dan mungil

Melanjutkan pencarian
Tanpa sebuah pengecualian, termasuk semua teman lamaku

Lalalila loli lolila
Aku akan memperbaiki akar yang busuk mengubah
Dasar lolicon ini!
Dengan hati yang sudah tidak lagi waras dirimu terlambat untuk malu
Dasar lolicon ini!

Lalalila loli lolila
Aku datang untuk menjernihkan ilusi yang kotor
Dasar lolicon ini!
Semua hasrat vulgar itu diriku pasti akan menghancurkan mereka
Dasar lolican ini!

Mereka yang telah kehilangan hal penting
Orang-orang dewasa pun menjerit
[Anak kecil ku suka!]
[Loliconlah diriku!]
[Orang mesum] itu sebenarnya dirimu

Lalalila loli lolila
Aku datang untuk menjernihkan ilusi yang kotor
Dasar lolicon ini!
Semua hasrat vulgar itu diriku pasti akan menghancurkan mereka
Dasar lolican ini!

Lalalila loli lolila
Pikiranmu yang berhenti entah kenapa
Itu pasti akanlah aku hapus
Dengan hati yang sudah tidak lagi waras kau terlambat

Dasar lolican ini!
Dasar lolican ini!
Dasar lolican ini!

Jinzou Enemy [Jin/Shizen no TekiP][Hatsune Miku][Indonesian Translation v.1]

mikuartificialenemy

“Musuh Buatan”

“hari yang hilang di dalam mimpi
terulang-ulang
itu tidak ada artinya.”
kalimat yang menakjubkan

kamu pun juga
“mencintai suatu yang tidak nyata”
dikatakan jarimu, namun
mulutmu itu tidak mengatakan apapun

seorang tanpa suara dan wajah
merasakan sesuatu dengannya terhubung
namun itulah
pasti bukan cinta berbalas

bagaimanapun hari ini
satu hari telah mencapai akhir
bertingkah seperti sedang hidup
kamu lakukan kemudian tidur

ah membosankannya
walaupun mengalihkan mata milikmu
menutupnya kau tak akan bisa melakukan
hei,
dirimu tak mau mengakui hal semacam itu
hari ini juga wajahmu menjijikkan
melihat gambar diriku tertayang di layar?

itu bukanlah rencana yang terbaik
pasti kau mengetahuinya
setiap hari-hari yang gelap
ditenggelamkan itu menyakitkan

bukan kebohongan kenyataan itu apa
tak paham, ayolah bersama
di dunia yang tiap orang telah dirancang
bagaimana untuk hidup?

di tempat yang menyangkal dirimu itu
artinya tidak ada, bukan?
katakan “tidak” pada semua
lihatlah diriku saja, ya

“ah menakjubkannya”
tanganmu bertepuk, ku melihatnya
semua kebohongan dan luar penuh dengan sampah
hei, sekiranya itu menyakitkan
menguburnya, dirimu
kenapa sekarang berbalik dengan wajah yang dingin
padaku kau melihat?

itu bukanlah rencana yang terbaik
pasti kau juga tahu itu
apa yang saat ini ada pasti
kesendirian tanpa akhir

di ruangan tanpa cahaya bersinar
keseharian yang terulang
mulai meruntuhkannya, yang milikku
kebisingan bergema

“ini sama sekali aku tak mengerti”
berteriak diriku padamu
“mainan yang hanya bisa berbicara, aku
bosan,” katanya

Enmei Chiryou [Neru][Kagamine Rin/IA][Indonesian Translation v.1 (85%)]

life_prolonging_treatment

“Operasi Perpanjangan Hidup”

Ketidaksadaran memenuhi tubuh ini
Ini hanya ini, ada kebahagiaan
Lihatlah ke barat, boneka dimainkan
Lihatlah ke timur, operasi mengalami kesulitan

Sungguh aneh
Kepalaku ?
Hidup menyesakkan napas tak paham
Tergila diriku oleh sepasang pisau
Yang tak tercabut ?

Kegelapan di antara mesin dan harga diri pasien
? saling menyakitinya
Operasi yang suram, tidak jelas, tersembunyi
Terserah, dari sini bawa aku pergi
[Lihat, tampak mengantuk]

Nadi tak biasa menggetarkan jembatan
Suara jemu ku, menyerukannya
Terus terang tertendang ke samping
Langit aku menertawakannya

Tertinggal di tabel pengoperasian
Diriku yang kemarin sedang menangis
Keajaiban, hari esok bergantung padanya
Apakah yang seharusnya diharapkan?

Kebebasan dari mata masa depan, gejalanya telah memuncak
Diri kita mengira akan bertemu lagi dan saling berpelukan
Utopia yang hilang, bangsal pengasingan
Sesuatu sejak lama ku sadari

Cukup mengatakan hari ini dan esok itu pasti jadi lebih mudah, ya ‘kan?
[Semua akulah yang bersalah] [Semua akulah yang bersalah]
Orang dewasa yang selama ini aku mimpikan, aku tak bisa menjadi dirinya
Begitulah, harus menjadi apa diriku?

Hidup, panjangkan hidupku
Bukti, bukti permasalahan
Penyesalan, penyakit penyesalan
Bagaimana?

Kanashimi no Nami ni Oboreru [Neru][Kagamine Len][Indonesian Translation v.1 (90%)]

kanashimi_no_nami_ni_oboreru

“Tenggelam di Ombak Kesedihan”

Tungkai dan lengan tumbuh keduanya
Yang bisa ku cintai juga tumbuh dua, dan tiga
Jadilah anak yang pintar

Mereka tumbuh dengan kelajuan yang bodoh
Tidak perlu untukku membuangnya?

Itulah mengapa untuk banyak dicintai
Diriku yang tamak ini akan, suatu hari

Berhenti untuk mencintai diriku yang kaku ini
Aku pun memutuskan itu  diriku  diriku

Hidup yang dianugerahi oleh Tuhan
Ini telah aku terima dari ibuku  diriku

Tidak aku gunakan seperti orang lain
Aku buang bersama tumbukan sampah

Tanpa seorang yang berharap kepadaku
Pengangkatan tirai telah menghampiri

Tirai yang terangkat di pertunjukan drama kehidupan
Tanpa seorang penonton pun

Aku tenggelam di ombak kesedihan
Aku tenggelam di ombak kesedihan

Tampaknya hatiku ini menderita penyakit serius
Tiada obat yang bisa melawan  apalagi

Memalukan mengakuinya dengan kehidupan semacam ini
Untuk ke dokter ku tak punya uang

Itulah mengapa luka ???????  suatu hari
Kekosongan yang menetes dari luka itu meluap
Seperti aku yang sedang muntah

Gadis berambut panjang membaca di pojok kelas
Gadis yang selalu dingin itu dihormati

Karena aku menyukai dirinya, aku pun diejek
Menerima perundungan

Aku tenggelam di ombak kesedihan
Aku tenggelam di ombak kesedihan

Sorakan di Odakyuu keberangkatan pertama setiap pagi terdengar
Aku melompat lagi ke kakiku, itu membunuh hari-hariku

Demi bisa hidup, demi bisa makan
Banyak hal penting milikku yang telah aku jual

Tidak peduli berapa lama waktu berlalu, lubang besar ini
Tak akan pernah terisi

Aku tenggelam di ombak kesedihan
Aku tenggelam di ombak kesedihan
Aku tenggelam di ombak kesedihan
Aku tenggelam di ombak kesedihan