Endless chain of revenge

Scouting is ran by the 2nd graders and their leader is my classmate. I still remember a moment when I realized the dark side of this extracurricular. Some of them in my class were discuss something. It seemed they would do something, but they were look for a proper reason to protect themselves. They planned to use similar reason which their upper class used when they were 1st graders, “We felt the same thing as you when we were 1st graders”, surely something like that.
Actually I cared nothing about their conversation. But when I heard this by accident, I felt really angry. I imagined if this keeps repeat. I couldn’t hold myself, I shouted “If you do that, there will and endless chain of revenge.” They dumbfounded and I have forgotten what happens next, but I still remember there was a girl supported my selfish ideal.
I do understand a little how their feelings are. They didn’t like what their upper class did to them in the past. But they couldn’t express it and end up did a revenge to their underclassmen. As ignorant I never care to something like this, however I can’t accept this. This case somehow remains me to Kagerou Days song.
So, I really hope this cycle can be stopped. It’s for the future sake.

Penggolongan peminat (masalah) enerji

Saya membelah peminat (masalah) enerji menjadi dua golongan berdasarkan input (masukan) dan output (keluaran), yaitu (peminat) penyediaan dan penghematan enerji dan penggunaan dan pemanfaatan enerji. Penggolongan ini mempermudah (terutama saya sendiri) mengenali arah minat mereka. Untuk saya sendiri termasuk golongan penyediaan dan penghematan energi. Penggolongan ini bukan khusus membedakan sehingga masih tampak umum.

Ingin dipandu kemana pendidikan Indonesia?

Belum lama saya mendengar perkataan salah satu guru di sekolah saya, yang intinya adalah perbedaan pendidikan di Indonesia dan negara lain. Saat itu saya berbicara pada diri sendiri, “Berhenti membedakan,” saya ingin berhenti membedakan Indonesia dengan negara lain.
Secara ringkas, pendidikan di Indonesia sangat kompetitif, sedangkan di negara lain mengutamakan society (istilah yang biasa saya gunakan untuk menyebut ‘masyarakat’).
Karena saya tidak peduli dengan kehidupan sosial, saya tidak menolak kompetisi keras (yang sehat). Namun bagi mereka yang tidak mampu bertahan dari tingginya kompetisi akan terancam. Jadi perubahan ke arah kemasyarakatan lebih baik.

Saya netral

Jadi seperti inikah rasanya menjadi tamu tidak berpengetahuan

Ini bukan pertama kali saya menjadi tamu, namun kali ini menjadi suatu pengalaman. Setiap saya bertamu (mungkin lebih tepat disebut berkunjung) biasanya saya tidak sendirian (sendiri maupun bersama tidak jauh berbeda). Pada kesempatan ini saya merasa bingung tingkat tinggi karena saya yang tidak berpengetahuan cara mengisi kesunyian.
Setelah menyelesaikan urusan (berhubungan dengan pekerjaan rumah), saya menikmati teh hangat yang disediakan ibu dari teman sekelas perempuan (“Terima kasih, saya suka teh”). Catatan kecil, saya tidak tertarik dengan kehidupan romantis (baca: percintaan) di dunia nyata dan saya tidak mengkhawatirkan keanehan diri saya ini. Sebenarnya saya tidak peduli dengan kesunyian (keheningan) karena selalu ada yang saya pikirkan untuk mengisinya. Namun, saya rasa tidak semua orang nyaman dengan situasi seperti ini. Jadi, saya pun bingung sendiri memikirkan apa yang diminati orang di sebelah saya. Untuk menghilangkan stres di saat itu juga, saya teringat pelajaran fisika tentang titik berat. Melihat langit-langit ruang tamunya yang indah, saya membayangkan bagaimana kayu-kayu disusun sehingga dapat mempertahankan langit-langit tersebut sekaligus atap pada keadaannya saat ini, diikuti gerakan-gerakan jari telunjuk. Saya ignorant (acuh, tak perhatian). Saya pun memutuskan untuk pergi setelah keheningan sekitar lima menit (mungkin).
Dalam perjalanan saya masih membayangkan susunan kayu yang telah saya sebut di atas.

Penilaian Ganda

Dalam menilai suatu masalah muncul dua penilaian yang berbanding terbalik. Penilaian awal cenderung Negative Thinking kemudian mencoba Positive Thinking. Penilaian akhir cenderung Penilaian Positif, karena sebuah

pandangan bahwa berprasangka buruk itu tidak baik. Paling tidak itulah saya sejak sekian waktu yang lalu, meski pun Penilaian Negatif tidak dapat dihindari untuk masalah tertentu.

Saya diandalkan sebagai Tukang Servis Kualitas (Quaility Checker) dalam sebuah penulisan laporan penelitian. Saya harus merevisi beberapa bagian yang tidak dapat ditoleransi, namun sebagian perlu dimintai pendapat anggota
lain. Saya mengirim pesan singkat berisi saran revisi kepada penulis awal (dan hanya dia saja yang nomor telepon seluler saya miliki dari anggota-anggota), namun tidak mendapat jawaban.
Penilaian Negatif muncul pertama kali, “Sepertinya dia tidak begitu peduli.” Sadar bahwa berprasangka buruk itu tidak baik, muncul Penilaian Positif, “Mungkin pulsa habis atau semacamnya, jadi dia tidak dapat membalas pesan.”
Faktanya dia sudah ganti nomor telepon seluler.

Hal yang masih baik dari penilaian ini hanyalah terjadinya terbatas di dalam pikiran saja.

Singkat, Padat, Tidak Jelas

Motto aneh saya dalam memulai diskusi. Mengapa tidak jelas? Alasan utamanya untuk memunculkan keinginan berdiskusi. Tapi bisa juga justru berbanding terbalik dari alasan saya tadi. Yahh.. tidak jelas disini hanya saya gunakan untuk diskusi kecil dengan orang-orang tertentu saja. Saya tahu ini bukanlah hal baik untuk memulai sesuatu.