Tulisan (lawas) tentang cinta

Eureka dari Eureka Seven, Perempuan Fiksional Pertama yang Aku Jatuh Cinta Padanya

Sudut pandang lebih luas dalam memahami cinta

Cinta bukanlah sesuatu yang selalu ditujukan pada yang hidup dan nyata. Maka, mencintai “seorang” karakter fiksional adalah suatu bentuk cinta yang murni. Aku belum mengenal, pada waktu itu, aturan sosial yang membatasiku siapa atau apa yang “seharusnya” aku cintai.

Perempuan fiksional ini, Eureka, pertama kali, aku melihatnya di televisi. Saluran televisinya adalah Global TV dan nama programnya adalah Eureka Seven. Tiap pagi, sekitar pukul 04.00, aku bangun untuk menonton Eureka Seven.  Aku terpaku padanya dan hatiku berdegup kencang, seperti ketika aku melihat perempuan nyata pertama yang aku cintai. “Sepertinya aku jatuh cinta padanya.”

Laki-laki sekolah dasar kelas 4, aku, sangat menikmati perasaan baru ini. Seperti halnya aku malu untuk mengakui perasaan suka pada perempuan yang nyata, aku juga menyembunyikan perasaan sukaku pada Eureka. Aku hanya menceritakan pada, seingatku, dua orang laki-laki teman sekelas. Itu pun, menurut pandanganku sekarang, tampak seperti aku sedang mengungkapkan diri sebagai penggemar dari Eureka. Namun, ketika aku pikirkan kembali, aku mungkin sekedar menjadi penggemar selama ini. Meskipun perlu diingat, perasaan ini adalah murni. Bahkan, setelah sekian lama, perasaan ini masih belum pudar sepenuhnya.

Membicarakan cinta, aku pikir kita bisa membagi cinta sebagai perasaan dan nafsu. Aku, akhir-akhir ini, menyebut mereka sebagai philia dan eros. Cinta murni yang aku maksud disini adalah cinta yang di mana perasaan ada sebagai yang dominan. Aku pikir kita dapat merasakan cinta karena kita memiliki nafsu dan ia mempengaruhi apa yang kita cintai dan bagaimana kita mencintai (menunjukkan cinta). Aku beranggapan Eureka adalah perempuan yang cantik (menurut aku sekarang, imut). Alasan ini menjadi latar belakang dari cintaku baik pada Eureka dan perempuan nyata, yang merupakan bentuk nafsu dari cinta berdasarkan penilaian estetik. Maka, philia dan eros tidak dapat dipisahkan. Namun, aku beranggapan adalah lebih baik memahami cinta sebagai philia sebelum eros.

Cintaku pada Eureka telah membawaku pada hal-hal baru. Untuk mendapat akses pada episode-episode yang terlewat, aku mulai mencari-cari melalui internet. Kegiatan mencari-cari melalui internet ini telah membuatku mengenal fansub  dan nantinya budaya pop Jepang secara luas. Maka, sepatutnya, selama cinta kita adalah murni, kita tidak membatas-batasi apa yang “seharusnya” kita cintai dengan menganggap hal-hal tertentu adalah tidak seharusnya dicintai. Dengan cara ini, kita menjadi lebih jujur dalam mengekspresikan diri, khusunya cinta.

Referensi

Kontributor Wikipedia. Love (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Love diakses pada tanggal 10 Maret 2018)

Sebagian perjalanan Muhamad H. memahami cinta

Cinta: Sebuah konsep yang berkembang

Kali ini, aku menampilkan sebuah pengalaman dari sudut pandang seorang laki-laki Muhamad H. Siapakah Muhamad H.? Ia adalah aku. Dalam kesempatan ini, aku ingin menunjukkan bagaimana pemahamanku mengenai cinta terus berubah sepanjang waktu aku hidup. Ini akan fokus pada beberapa titik penting perubahan terjadi. Tiap orang memiliki kisah mereka masing-masing dan inilah kisahku.

Anak-anak

Masa di taman kanak-kanak adalah begitu menyenangkan. Aku mengenal lebih banyak teman, tidak hanya mereka yang di sekitar. Aku beranggapan, pada titik ini, bahwa aku mengenal sebuah konsep cinta sebagai pertemanan. Aku mencintai teman-temanku dan tidak ingin berpisah dari mereka. Ketakutanku untuk berpisah terlihat pada pilihan sekolah dasarku yang sangat dekat dengan taman kanak-kanak itu. Meskipun, aku sadar, kemudian, bahwa tidak semua anak mendaftar di sekolah dasar pilihanku.

Ada satu kejadian yang masih kuingat sampai sekarang, kejadian yang tidak begitu menyenangkan. Dasar diriku yang pesimistis! Kami sedang bermain, laki-laki menjadi semacam monster yang menakuti perempuan lain. “Huwraahh.. Huwraahh..,” kataku mengejar anak-anak perempuan. Beberapa anak laki-laki menggambari  wajah mereka, salah satu yang masih aku ingat adalah gambar kucing. Aku tertarik untuk mencobanya, tetapi ideku jauh berbeda dan tergolong gila. Aku mengambil banyak spidol dalam satu genggaman dan mencoret-coret wajahku. Aku tidak tahu seperti apa wajahku, tetapi aku begitu percaya diri melanjutkan permainan. Meskipun, nantinya, aku menangis karena malu.  Bukanlah teman-teman yang membuatku menangis tetapi wajah-wajah orang dewasa yang aku pahami sebagai merendahkan juga mengasihani. Teman-teman tertawa, tetapi aku tidak melihatnya sebagai suatu ejekan. Aku pikir mereka menganggap diriku lucu dan kreatif, bahkan dengan bangganya aku anggap itu suatu pujian. Aku rasa ini adalah pertanda bahwa cintaku pada mereka membuatku dapat berpikir positif.

Kita telah melihat pengalamanku dalam cinta yang memiliki kecenderungan positif, tetapi yang selanjutnya akan menjadi sebuah tragedi. Kelas 5 SD adalah masa di mana perkembanganku sampai pada puncaknya atau masa keemasan. Namun, apakah pantas disebut ‘keemasan’ jika di titik inilah perasaan dan cintaku mengalami kemunduran besar? Dengan kata lain, di titik inilah aku menjadi sangat rasional. Suatu hari, aku diganggu seorang teman kelas. Ia sudah melakukan ini berkali-kali, yang dalam istilah hari ini mungkin akan disebut bullying (perundungan). Tetapi, kata ‘perundungan’ tidak pernah ada di kamusku sampai sekarang. Aku melihatnya sebagai kejahilan. Aku menjadi tidak sabar dan mencoba menghajarnya sambil menangis. Aku sering menangis ketika aku masih anak-anak. Wali kelas yang kembali dari luar menemukan kami yang berkelahi dan mengusir kami pulang. Setelah kejadian itu, aku seperti menjadi seorang filsuf. Aku mempertanyakan kehidupan sosial yang ada yang tidak ideal, apa sebenarnya tujuan keberadaanku, bagaimana membuat dunia menjadi lebih baik. Aku tenggelam dalam pikiranku dan kehilangan kepercayaan pada orang lain.

Remaja

Bersekolah di sekolah menengah pertama yang jauh dari tempat tinggal membuatku percaya diri untuk memulai dari awal, meskipun tampaknya tidak berjalan baik. Ketakutan dan ketidakpercayaan dari masa lalu masih membayangiku dalam berhubungan. Di titik ini, aku menjadi stabil, tidak terlalu rasional dan emosional, tetapi sangat berhati-hati dan lebih suka mencari wilayah aman (dan nyaman). Satu kejadian khusus di sekolah menengah pertama adalah aku menyukai (mencintai) secara romantis seorang laki-laki, meskipun pada saat yang sama ada perempuan yang aku cintai. Aku tidak nyaman dengan perasaan baru ku ini, mencintai sesama jenis, bahkan kedua jenis. Tetapi, aku berusaha menyemangati diriku, mengatakan “aku tidak aneh, aku unik.” Cara berpikir seperti ini sangat membantu mengatasi homofobiaku nantinya. Perasaanku pada keduanya telah memudar, tetapi tetap berkesan sampai sekarang.

Jika kisah akhir masa anak-anakku adalah puncak kemunduran, kisah akhir masa remajaku adalah puncak kemajuan. Ketika kelas satu sekolah menengah atas, aku adalah seorang anti-sosial, penyendiri, pembolos (ke perpus, tetapi jarang). Perwajahan seorang Muhamad H. yang demikian itu seketika hancur ketika ia menangis tanpa menahan diri sama sekali di kelas ketika cerita seorang guru bimbingan konseling mengingatkannya pada hubungannya dengan ayah yang tidak baik. Meskipun, dalam hati aku juga tanpa henti mengutuk semua orang atau dengan kata lain, aku meluapkan seluruh perasaan yang senantiasa dipendam. Satu hal yang menarik bersamaan dengan kejadian ini adalah aku mendapat pengumuman bahwa aku mendapat nilai sempurna di sebuah ulangan mata pelajaran dan sebuah hadiah. Di titik inilah konsep cintaku mengenai keluarga mekar dan aku membangun kembali cintaku tentang pertemanan. Setelah kejadian ini, aku merasa teman-teman tidak memperdulikan seperti apa diriku sebelumnya.  Aku mulai mendapatkan kembali kepercayaan pada orang lain dan menemukan apa yang penting dari berhubungan.

Dewasa

“18 tahun sudah tergolong dewasa, bukan?” Bagian ini menekankan pada sudut pandangku saat ini, ketika menulis ini. Memasuki jenjang pendidikan tinggi di universitas telah membawaku berpikir lebih luas dan mendalam, kritis. Aku ingin memahami cinta pada diri manusia, khususnya pada sesama manusia.