Kuli dan Perjuangan Kelas

Tentu tidaklah ada yang salah dengan menjadi kuli, dan tentulah tidak salah untuk pekerja mengambil alih nilai-lebih mereka yang selama ini dicuri oleh bos-bos sebagai “laba” dengan memanfaatkan institusi negara yang dalam sejarah lahir memang untuk mengamankan pencaplokan hasil kerja orang lain. Dengan kata lain, institusi negara tidaklah pernah netral. Bahwa kapitalis dapat mengambil sebagian (besar) nilai dari hasil kerjamu bukan karena hak yang datang dari Sesuatu Di Luar Sana Yang Maha Tinggi, tetapi karena institusi negara dengan hukum perundangan-undangan nya dan lembaga koersif (polisi, tentara) memastikan proses pencurian nilai ini lancar-lancar saja. Jika ini normal, dulu perbudakan itu normal, kenapa tidak menciptakan kenormalan baru? Menciptakan tatanan yang tidak mengenal “penindasan manusia oleh manusia”, menjadikan tatanan semacam itu NORMAL. Nggak ada yang akan menyalahkan mu untuk memperjuangkan itu. Sebagaimana kapitalisme lahir dari perjuangan melawan feodalisme, berjuanglah melawan Kapital.

Kapital (modal) dan upah (minimum) tidak pernah bisa damai. Ketika terjadi krisis, kapitalis tidak peduli upahmu dan nasib keluarga mu. Mereka lebih memilih mengamankan kapital mereka, entah itu dengan menekan upah atau melempar mu keluar dari sumber penghidupan. Ketika pekerja menuntut, kapitalis menggunakan lembaga koersif negara (polisi) untuk meredam segala upaya protes, mogok, sabotase, dan perlawanan lainnya. Tidak ada yang salah dengan perlawanan. Karena sesungguhnya tidak ada hubungan yang setara antara kapital dengan kerja upahan. Mereka akan selamanya berseteru sampai salah satunya dikalahkan. Apakah kamu sebagai pekerja mau menjadi pihak yang dikalahkan? Mengalah pada penindas mu?

Pertentangan kelas sungguhlah adanya. Orang-orang yang menolaknya (entah dengan sadar atau tidak) sebenarnya hanya mempertahankan keadaan yang ada (status quo). Tidaklah mengherankan jika sekarang ketika ekonomi global sedang menuju krisisnya, kapitalis finansial yang tidak lagi bisa mengamankan kepentingan mereka dengan cara-cara demokratis, akhirnya memilih jalan menjadikan FASIS institusi negara. Di sinilah menjadi nyata bentuk dari kediktatoran kelas borjuasi. Apalagi di zaman imperialisme, hal ini tidaklah hanya sekadar kepentingan borjuasi nasional tetapi juga kaum monopoli transnasional. Siapa yang harus kamu lawan sudahlah jelas. Sesama pekerja bersolidaritas, hindari perpecahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s