Ketika dosen liberal menyamakan sosialisme dengan Nazi

Sungguh mengejutkan bagi saya ketika mendengar seorang dosen bergelar doktor tidak bisa membedakan antara sosialisme dengan nazisme atau fasisme. Pertama, aku tahu bahwa ada begitu banyak propaganda kebohongan tentang komunisme dan rezim sosialis yang disebarkan oleh barat kapitalis, jadi aku bisa mengerti kekeliruan pengetahuan sejarah. Kedua, aku tidak habis pikir orang yang bergelar doktor tidak mampu memahami perbedaan fondasi filosofis dari sosialisme dan fasisme. Ketiga, orang ini tidak tahu bahwa kanan jauh dan kiri senantiasa sebenarnya saling memusuhi.

Dosen ini cukupb idealis (dalam artian oposisi dengan materialisme). Aku memberi hormat pada dosen ini karena usahanya untuk menunjukkan ketidakadilan sosial yang disembunyikan. Terutama, saya berterimakasih karena telah diberikan pengetahuan mengenai praktik eksploitasi anak di balik program-program penyiaran, tentang kritiknya terhadap KPI yang berpihak pada pemilik media, dan pendiriannya yang teguh pada prinsip kerakyatan bahwa media sebagaimana diatur oleh undang-undang harus sebesar-besarnya dimanfaatkan untuk kebaikan publik.

Beliau menyatakan dalam slide presentasinya bahwa eksploitasi anak merupakan komodifikasi. Ini pernyataan yang bagus, namun, hanya saja aku berharap ada kesadaran kelas di sini. Bahwa semua pekerja upahan dihadapan kapital tidak ada bedanya dengan komoditas. Harapan itu sirna ketika mendekati akhir kuliah, seperti di singgung di paragraf pertama, ia menyatakan sosialisme yang menjadi ciri orde lama sama seperti Nazi karena media digunakan untuk kepentingan propaganda.

Pada akhirnya, aku mengambil kesimpulan bahwa sang dosen adalah seorang liberal sosial. Ini terbukti pada gagasan-gagasan idealis nya tentang hak-hak tetapi menghindari analisis kelas. Ia tahu bahwa komodifikasi manusia itu buruk, tetapi tidak menyatakan bahwa komodifikasi ini harus dihapuskan. Mengakui bahwa media sepatutnya industri (budaya) harus dikontrol agar melayani kepentingan publik, tetapi tidak mempertimbangkan bahwa kepentingan pemilik industri yang menghamba pada laba adalah bertentangan dengan kepentingan publik.

Pada intinya, sebuah gejala yang dialami semua liberal adalah bahwa mereka tahu ketidakadilan sosial itu buruk, tetapi menganggap penyebabnya (kapitalisme) sebagai baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s