Mengenai Tembok Berlin, Trotskyite, dan Stalin Yang Menunggu Kebenaran

Sungguh, aku triggered sejak melihat judulnya saja. Ambil judul Runtuhnya Tembok Jerman dan Runtuhnya Stalinisme, tetapi sama sekali tidak memberikan argumentasi jelas, malah menyebarkan propaganda anti-komunis. Hal-hal mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Jerman, atau khususnya Republik Demokratik Jerman, hanya dibahas sedikit sekali. Kuliah ini hanya sekadar propaganda anti-Stalin belaka yang tidak menarik. Berikut adalah beberapa kenyataan yang ada.

Pertama, tuduhan totaliter pada Stalin (Stalinisme), telah dibuktikan oleh penelitian-penelitian terakhir, adalah kebohongan yang diproduksi barat kapitalis, kaum revisionis (seperti Khrushchev dalam Pidato Rahasia nya), oposisi kanan (yang mana Trotsky menjadi bagian), dan pemerintah fasis (yang mana Trotsky berkolaborasi dengan mereka). Akses ke sumber-sumber penting yang menyatakan hal ini dapat ditemukan di bagian akhir tulisan ini. Aku tidak menyatakan bahwa Stalin adalah suci, bebas dari segala kesalahan. Aku mengakui beberapa kesalahan dari Stalin dan pemerintah Soviet pada masa itu, tetapi kesalahan-kesalahan tersebut haruslah diakui tidak termasuk kejahatan sebagaimana dituduhkan.

“The common or “mainstream” view of Stalin as a bloodthirsty tyrant is a product of two sources: Trotsky’s writings of the 1930s and Nikita Khrushchev’s “Secret Speech” to the XX Party Congress in February, 1956. This canonical history of the Stalin period – the version we have all learned — is completely false. We can see this now thanks mainly to two sets of archival discoveries: the gradual publication of thousands of archival documents from formerly secret Soviet archives since the end of the USSR in 1991; and the opening of the Leon Trotsky Archive at Harvard in 1980 and, secondarily, of the Trotsky Archive at the Hoover Institution (from where I have just returned).” – Grover Furr, “The Ukrainian Famine: Only Evidence Can Disclose the Truth”

Kedua, pemecahan Jerman menjadi Timur dan Barat bukanlah kehendak Stalin, melainkan kapitalis-kapitalis barat yang ingin menguasai industri-industri besar yang ada di bagian barat negeri itu. Stalin hanya meminta Jerman dimerdekakan sebagai negara netral dengan tanggung jawab membayar kerugian perang pada Uni Republik-Republik Sosialis Soviet.

The creation of the GDR was a reaction to the creation of the Federal Republic of Germany in 1949, after the Western-controlled sectors of Berlin introduced a separate currency so as to undermine the economic stability of the Eastern side. Contrary to what is taught in the capitalist education system, the Soviet Union and its allies never wanted a partitioned Germany, instead favouring a unified but neutral state. But in 1952 the Soviet proposals for German reunification were rejected by the West, under its chancellor, Konrad Adenauer. West Germany was later armed and financed by the United States. – Graham Harrington, “The Berlin Wall, thirty years later”

Ketiga, Tembok Berlin berdiri pada masa Khrushchev. Tembok itu didirikan pada tahun 1961 sebagai opsi terakhir atas dasar kepentingan melindungi rakyat Jerman Timur dari kehilangan orang-orang terpelajar yang dibutuhkan untuk pembangunan masyarakat yang sejahtera. Kesempatan bisnis dan godaan upah yang lebih tinggi mengakibatkan migrasi yang menurunkan populasi sebesar 10 persen. Alasan lain juga adalah ancaman spionase dan sabotase oleh CIA dan BND (intelijen Jerman Barat). Tentu jika memungkinkan, berbagai penghalang, pemisah antara Barat dan Timur ini tidak pernah ada. Paradigma anti-komunis mencoba mengatakan bahwa tembok ini adalah penjara, tetapi latar belakang dari didirikannya tembok ini adalah sebagai pelindung.

“By 1961, the East German government decided that defensive measures needed to be taken, otherwise its population would be depleted of people with important skills vital to building a prosperous society. East German citizens would be barred from entering West Germany without special permission, while West Germans would be prevented from freely entering the GDR. The latter restriction was needed to break up black market currency trading, and to inhibit espionage and sabotage carried out by West German agents. [27] Walls, fences, minefields and other barriers were deployed along the length of the East’s border with the West. Many of the obstacles had existed for years, but until 1961, Berlin – partitioned between the West and East – remained free of physical barriers. The Berlin Wall – the GDR leadership’s solution to the problems of population depletion and Western sabotage and espionage — went up on August 13, 1961. [28]” – Stephen Gowans, “Democracy, East Germany and the Berlin Wall”

Keempat, mengenai keterkaitan kejadian ini dengan stalinisme, aku juga merasa itu adalah tuduhan absurd. Sebenarnya apa itu stalinisme? Apakah barangkali kata Stalinisme merujuk pada rezim sosialis di berbagai negeri dengan partai berideologi marxis-leninis, yang tidak menerapkan teori-teori Trotsky? Tentu saja, seorang Bolshevik, seorang komunis tidak akan mengikuti Trotskyisme. Teori Trotsky adalah kombinasi antara Bolshevisme dan Menshevisme. Ia mengambil dari Bolshevik perjuangan revolusioner proletarian dan pengambilan kekuasaan oleh kaum buruh, tetapi dari Menshevik, ia mengambil posisi “menolak” peran kaum tani dalam revolusi, atau dengan kata lain menolak “kediktatoran proletarian dan tani demokratik” yang merupakan gagasan Lenin, seorang Bolshevik.

“A whole decade—the great decade of 1905-15—has shown the existence of two and only two class lines in the Russian revolution. The differentiation of the peasantry has enhanced the class struggle within them; it has aroused very many hitherto politically dormant elements. It has drawn the rural proletariat closer to the urban proletariat (the Bolsheviks have insisted ever since 1906 that the former should be separately organised, and they included this demand in the resolution of the Menshevik congress in Stockholm). However, the antagonism between the peasantry, on the one hand, and the Markovs, Romanovs and Khvostovs, on the other, has become stronger and more acute. This is such an obvious truth that not even the thousands of phrases in scores of Trotsky’s Paris articles will “refute” it. Trotsky is in fact helping the liberal-labour politicians in Russia, who by “repudiation” of the role of the peasantry understand a refusal to raise up the peasants for the revolution!” – V.I. Lenin, “On the Two Lines in the Revolution” (1915)

Kelima, tuduhan “sosialisme di satu negeri” mengabaikan internasionalisme sangatlah tidak Marxis dan Leninis. Revolusi sosialis memanglah akan mendunia, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk revolusi terjadi di satu negeri terbelakang (mata rantai terlemah dari imperialisme).

“Revolusi di satu negeri tidak harus merupakan permulaan dari Revolusi Dunia, tapi revolusi dunia akan terus berjalan karena dimulai dengan kemenangan baru di negeri-negeri di mana kapitalisme lemah untuk satu periode waktu sejarah yang panjang. Kematangan tak merata dari kondisi untuk meletusnya revolusi meniadakan terjadinya revolusi secara bersamaan di tiap negeri” – Tatiana Lukman, 2016, “Trotskyisme? Sosialisme di Satu Negeri atau Revolusi Permanen?” hlm. 143

Terakhir, aku hanya ingin mengatakan bahwa pembelaanku terhadap Stalin didasarkan ketersediaanku melakukan kritik diri mengenai posisiku. Aku dulu sempat menjadi pengikut Trotsky untuk waktu yang sebentar sebelum aku mempelajari Marxisme-Leninisme. Aku juga kenal beberapa kawan sosialis yang pemikirannya banyak mengambil dari Trotsky. Aku diam saja karena tidak ingin menyulut konflik. Awalnya aku mengambil judul “Kebodohan Trotskyite” karena rasa kesal, namun kemudian aku ralat. Tetapi, sungguh, aku pikir para pengikut Trotsky harus mau menerima berbagai ‘kebenaran-kebenaran’ mengenai Stalin dan Trotsky yang awalnya untukku sendiri tidak menyenangkan.

Beberapa sumber penting:

Penelitian oleh Grover Furr yang dituangkan dalam buku-bukunya, Khrushchev lied : the evidence that every “revelation” of Stalin’s (and Beria’s) “crimes” in Nikita Khrushchev’s infamous “secret speech” to the 20th party congress of the Communist Party of the Soviet Union on February 25, 1956, is provably false (tautan baca ke Internet Archiev),

Blood Lies: The Evidence that Every Accusation against Joseph Stalin and the Soviet Union in Timothy Snyder’s Bloodlands Is False (tautan baca ke The Materialist Reader’s Omnibus),

Stalin and the Struggle for Democratic Reform (tautan baca ke Cultural Logic: A Journal of Marxist Theory & Practice: bagian pertama, bagian kedua),

The Murder of Sergei Kirov: History, Scholarship and the Anti-Stalin Paradigm (tautan beli ke Erythrós Press and Media), dan

The Mystery of the Katyn Massacre: The Evidence, The Solution (tautan beli ke Erythrós Press and Media)

Tulisan oleh Jules Humbert-Droz berjudul Nikolai Bukharin on the Use of Individual Terror Against Stalin (tautan baca ke Revolutionary Democracy)

Presentasi Grover Furr di 7th World Socialism Forum, World Socialism Research Center berjudul Trotsky’s Lies – What They Are, and What They Mean (tautan baca ke Grover Furr’s Home Page)

Tulisan oleh Grover Furr dan Vladimir Bobrov berjudul Bukharin’s “Last Plea”: Yet Another Anti-Stalin Falsification (tautan baca ke Grover Furr’s Home Page) dan

Stalin’s Justice: Not Subject to Appeal (tautan baca ke Grover Furr’s Home Page)

Tulisan oleh Grover Furr dalam jurnal Cultural Logic: A Journal of Marxist Theory & Practice berjudul Evidence of Leon Trotsky’s Collaboration with Germany and Japan (tautan baca) dan

Nikolai Bukharin’s First Statement of Confession in the Lubianka (tautan baca)

Tulisan oleh Grover Furr dalam jurnal Socialism and Democracy berjudul The “Official” Version of the Katyn Massacre Disproven?: Discoveries at a German Mass Murder Site in Ukraine (tautan baca)

Tulisan oleh Grover Furr berjudul New Light On Old Stories About Marshal Tukhachevskii : Some Documents Reconsidered (tautan baca Grover Furr’s Home Page)

Tulisan oleh D.N. Pritt berjudul The Zinoviev Trial (tautan baca ke Revolutionary Democracy)

Tulisan oleh D.N Pritt dan Pat Sloan The Moscow Trial Was Fair (tautan baca ke Marxists Internet Archieve)

Otobiografi oleh Joseph E. Davies, Mission To Moscow (tautan baca ke Internet Archieve)

Tulisan oleh Mark Tauger berjudul Stalin, Soviet Agriculture and Collectivization dalam buku Food and Conflict in Europe in the Age of the Two World Wars, yang disunting oleh Frank Trentmann dan Flemming Just (tautan baca ke New Cold War: News and Analysis of the Multipolar World)

Tulisan oleh Mark Tauger berjudul Natural Disaster and Human Actions in the Soviet Famine of 1931–1933 dalam jurnal The Carl Beck Papers in Russian and East European Studies (tautan baca)

Tulisan oleh Mark Tauger berjudul The 1932 Harvest and the Famine of 1933 dalam jurnal Slavic Review edisi 1991 (tautan baca ke New Cold War: News and Analysis of the Multipolar World)

Tulisan oleh Harry Haywood berjudul Trotsky’s Day in Court dalam bukunya, Black Bolshevik: Autobiography of an Afro-American Communist (tautan baca ke Marxists Internet Archieve)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s