Feminis Marxis Seharusnya Inklusif Transgender: Tentang Kasus Partai Komunis Britania Raya (Marxis-Leninis)

Ada sebuah posisi yang mengejutkanku dari Partai Komunis Britania Raya (Marxis-Leninis), yaitu bahwa mereka menolak transgenderisme. Mengenai posisi tersebut, aku baru mengetahuinya ketika menonton video berikut, perbincangan Caleb Maupin dengan Joti Brar, seorang anggota dari partai tersebut. Hal ini juga sebenarnya disampaikan dalam kongres ke-8 partai tersebut yang tulisan mengenai ini ada di situs jejaring partai itu berjudul The reactionary nightmare of ‘gender fluidity’.

Perbincangan ini sebenarnya cukup bagus. Ia membahas banyak hal tentang marxisme dan posisi partai komunis ini dalam beberapa masalah. Pada menit ke-28 dari video, Maupin mencoba mengangkat masalah transgender dan meminta Brar untuk memberi penjelasan mengenai posisi kontroversial dari partainya mengenai hal tersebut. Aku menonton kembali video ini, khusus di bagian masalah itu, dan menemukan beberapa hal yang menjadi argumen CPGB (ML) untuk menolak “ideologi transgenderisme”.

Permasalahan yang menjadi fokus sebenarnya adalah ideologi (bukan orang-orang transgender) yang ditimpakan (pushed) ke orang-orang bahwa “You are what you think you are” (kamu adalah apa yang kamu pikirkan). Sebagai seorang marxis, Joti Brar melihat bahwa ideologi transgenderisme ini merupakan sebuah konsepsi yang idealis dan bukannya materialis. Ia juga sempat menyebut “I think, therefore I am” (aku memikirkan, maka itulah aku) yang merupakan pernyataan Rene Descartes. Menurut Brar, seorang marxis tidak melihat kenyataan sebagai sesuatu yang dipikirkan melainkan sebagai apa yang ada secara material dan ‘kenyataan material’-lah yang menjadi dasar bagi pemikiran marxis. Jadi, ada materi, lalu otak kita menginterpretasinya, muncullah ide. Dari sini, kita tahu bahwa Brar paham betul mengenai posisi materialis-nya marxis.

Mengenai gender, ia melihat itu sebagai sesuatu yang tidak berbeda dengan seks (jenis kelamin). Stereotip gender-lah yang menurut dia seharusnya dipahami, yang mana ini merupakan sebuah konstruk sosial yang sebagian memiliki dasar material (tubuh) dan sebagian lainnya tidak. Ide transgender tampak menerima dan bahkan mendorong stereotip mengenai maskulinitas dan femininitas ini daripada melawannya. Dia menyatakan bahwa penampilan seorang transpuan yang sebegitu memaksakan femininitas yang terseksualisasi justru merupakan hal yang menekan (opresif) bagi perempuan-perempuan pekerja biasa yang ‘terlahir sebagai perempuan’ karena sesungguhnya yang diharapkan oleh semua perempuan adalah hilangnya stereotip-stereotip ini dari sejarah manusia ke depannya.

Sampai di sini, ini menjadi sebuah kritisisme yang menarik mengenai perjuangan pembebasan LGBT. Tetapi! Tambak bagiku, CPGB (ML) mengalami suatu macam ketakutan berlebihan pada pemikiran-pemikiran baru yang dicurigainya sebagai ideologi-ideologi borjuis yang akan memiliki tujuan melemahkan perjuangan rakyat pekerja di dunia. Sebenarnya partai ini mengambil posisi yang tepat, sebagaimana sosialis-sosialis pada umumnya, dengan melakukan perlawanan terhadap ‘politik identitas’. Hanya saja, aku akan menggunakan pada kesempatan ini saja (karena aku tidak sepakat dengannya) istilah ‘reduksionisme kelas’ untuk menjelaskan posisi CPGB (ML). Adalah benar melihat internasionalisme proletarian sebagai hal penting karena pada dasarnya semua rakyat pekerja di dunia dari berbagai negeri, dari berbagai latar belakang etnik, agama, ras dll, termasuk juga seksualitas, sedang berhadapan dengan musuh yang sama, yaitu bourgeoisie. Yang menjadi masalah adalah pengabaian pada pengalaman spesifik dari orang-orang yang berbeda ini. Ada beberapa alasan mengenai ini yang aku rasa diketahui oleh kawan-kawan yang barangkali masih memiliki keraguan dalam mengambil posisi yang tepat.

Gender perlu dipisahkan dengan seks karena konstruk gender biner yang kita kenal merupakan sesuatu yang dapat dikatakan baru dalam perjalanan sejarah manusia, bukan hal yang ada sejak masyarakat (komunisme) primitif. Itu berarti ia tidak berkaitan langsung dengan sifat alami manusia atau dasar tubuh biologis. Penindasan terhadap kelompok LGBTQIA+, khususnya pada zaman kapitalisme, berkaitan erat dengan bentuk institusi keluarga yang menguntungkan bagi efisiensi reproduksi tenaga kerja (dan pasukan cadangannya) jika dipertahankan. Sherry Wolf (2009, Haymarket Books) dalam bukunya Sexuality and Socialism: History, Politics, and Theory of LGBT Liberation menulis penjelasan yang bagus mengenai ini.

“LGBT oppression, like women’s oppression, is tied to the centrality of the nuclear family as one of capitalism’s means to both inculcate gender norms and outsource care for the current and future generations of workers at little cost to the state…In addition, the oppression of LGBT people under capitalism, like racism and sexism, serves to divide working-class people from one another, especially in their battles for economic and social justice….women’s oppression derives from the structure of the family, in which the reproduction and maintenance (child care, housework, cooking, etc.) of the current and future generations of workers are foisted upon individual families rather than being the responsibility of society. Capitalism depends on privatised reproduction to raise the next generation of workers at little expense to itself. Likewise, the oppression of LGBT people stems from the implicit challenge that sexual minorities pose to the nuclear family and its gender norms.” (dikutip dari Communist Party of India (Marxist-Leninist) Liberation, “Marxism, The Bolshevik Revolution and LGBT Liberation”)

(Penindasan LGBT, sebagaimana penindasan perempuan, berkaitan dengan sentralitas dari keluarga inti sebagai salah satu cara kapitalisme untuk baik menanamkan norma-norma gender dan penemuan sumber dari luar untuk menghidupi generasi-generasi pekerja-pekerja saat ini dan masa depan dengan biaya rendah bagi negara… Sebagai tambahan, penindasan orang-orang LGBT di bawah kapitalisme, seperti rasisme dan seksisme, berguna untuk memecah rakyat kelas pekerja dari satu sama lain, khususnya dalam pertarungan mereka untuk keadilan sosial dan ekonomi… penindasan perempuan berasal dari struktur keluarga, yang mana reproduksi dan pemeliharaan (pengurusan anak, kerja rumah tangga, memasak, dll) dari generasi-generasi pekerja-pekerja saat ini dan masa depan dipaksakan kepada tiap-tiap keluarga daripada menjadi tanggung jawab dari masyarakat. Kapitalisme bergantung pada reproduksi yang diprivatisasi untuk membesarkan generasi pekerja-pekerja berikutnya dengan biaya rendah bagi [berjalannya proses produksi dalam] dirinya. Seperti halnya, penindasan orang-orang LGBT timbul dari tantangan implisit yang minoritas-minoritas seksual tujukan pada keluarga inti dan norma-norma gendernya.)

Tulisan oleh Partai Komunis India (Marxis-Leninis) Pembebasan yang menjadi sumber kutipan di atas menyebutkan bagaimana revolusi sosialis 1917 di tanah Rusia sangat peka terhadap beragam pengalaman ketertindasan dari kelas pekerja. Misalnya, mengenai masalah seksualitas, negara tidak akan campur tangan sama sekali selama tidak ada yang dirugikan. Ini memberi kita kejelasan seberapa pentingnya keberpihakan sosialis pada kelompok LGBT.

It declares the absolute noninterference of the state and society into sexual matters, so long as nobody is injured, and no one’s interests are encroached upon. [Penekanan sesuai sumber asli]

([Undang-Undang Soviet] menyatakan non-interferensi sepenuhnya dari negara dan masyarakat mengenai masalah-masalah seksual, selama tidak ada seseorang yang terluka, dan tidak ada kepentingan-kepentingan seorangpun yang diganggu.)

CPI (ML) Liberation juga mengkritisi pemerintahan Soviet pada masa Stalin yang mengkriminalisasi kembali homoseksual. Mengutip Sherry Wolf, kembalinya kebijakan yang patriarkal dan homofobik berkaitan erat dengan kepentingan Uni Republik-Republik Sosialis Soviet untuk memiliki ketersediaan tenaga kerja sebesar-besarnya yang berarti membutuhkan tingkat kelahiran yang tinggi. CPI (ML) Liberation menilai ini sepatutnya bisa dihindari, berpendapat cara lain dapat dipilih bahkan dengan mempertimbangkan keadaan URSS pada masa itu.

Aku pikir aku akan mengakhiri di sini. Sebagai penutup, aku ingin mengatakan bahwa kepekaan kita pada pengalaman-pengalaman dari pekerja-pekerja dengan latar belakang berbeda adalah penting. Selain sebagai wujud solidaritas antara pekerja-pekerja, ia juga penting untuk terwujudnya internasionalisme proletarian, persatuan semua pekerja di dunia, yang dengan itu perjuangan kita tidak terpecah belah.

“United We Stand, Divided We Fall – An Injury to One is an Injury to All.” (dikutip dari Communist Party USA, “Proletarian internationalism”)

(Bersatu Kita Tegak, Terbelah Kita Jatuh – Satu Luka bagi Satu Orang adalah Luka bagi Semuanya.)