Apa yang tidak tepat dari Marxis untuk menolak teori patriarki: Sebuah kritik terhadap kritik

Ilustrasi oleh Party9999999 (tautan ke DeviantArt)

Aku menulis ini dimotivasi dari mengetahui posisi sebuah organisasi sosialis di Indonesia yang menolak teori patriarki [1]. Aku memahami kontribusi Marxisme pada penjelasan akan ketertindasan perempuan [2], tetapi aku pikir ini adalah sebuah posisi yang tidak produktif, yang alasannya akan aku utarakan nanti. Pada awalnya menulis ini menjadi sesuatu yang tidak mendesak untukku, tetapi melihat pos-pos di Facebook yang sungguh menunjukkan kedangkalan pemahaman akan feminisme (yang ini banyak didukung laki-laki pula) membuatku ingin segera merespons ini.

Kembali ke persoalan utama, untuk menjawab ini aku uraikan dahulu argumen mereka mengenai patriarki dan alasan menolaknya, kemudian aku menunjukkan ketidaksepakatanku atas itu.

Pertama, definsi patriarki. Mengutip Encyclopedia of Feminism (1986), “patriarki adalah struktur politik universal yang memprivilesekan para laki-laki dengan mengorbankan kaum perempuan.” Lebih lanjut, mengutip Bloodworth (1990), patriarki merupakan “sistem sosial dimana kaum laki-laki memegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran-peran kepemimpinan politik, privilese sosial, dan menguasai properti/hak milik dengan secara spesifik menyingkirkan sebagian besar perempuan, atau menyatakan terdapat perbedaan fundamental antara laki-laki dan perempuan yang darinya kaum laki-laki memperoleh kekuasaan.” Tidak setuju dengan ini, kelaslah yang dipandang sebagai asal usul ketertindasan perempuan, “kenyataannya garis kelas membelah segalanya, termasuk dalam hal ini, jenis kelamin”.

Apa yang diambil di sini sebagai definisi dari patriarki adalah benar. Haruslah diakui bahwa pada kenyataannya dalam sejarah panjang kehidupan manusia, laki-lakilah yang mendominasi sekalipun pernah ada satu masa jauh di masa lampau di mana ‘dunia manusia’ lebih adil dari sekarang ini [3]. Penindasan perempuan memang memiliki keterkaitan dengan hadirnya masyarakat kelas, tetapi ide bahwa penindasan perempuan dapat dihapuskan dengan hanya menghapuskan masyarakat kelas, menciptakan masyarakat tanpa kelas, sungguhlah sebuah kebutaan dalam memahami pengalaman ketertindasan yang spesifik dialami perempuan, terutama yang tidak berkaitan langsung dengan kelas.

Kedua, akar penindasan perempuan. Seksisme, diskriminasi antara jenis kelamin yang berbeda, dinyatakan sebagai akar dari penindasan dan bukannya patriarki. Idenya berpusat pada keluarga inti (batih) dan kepentingan kapitalisme untuk mempertahankannya, yaitu bahwa “kapitalisme berkepentingan mengontrol tubuh perempuan untuk mereproduksi suplai tenaga kerja di masa depan, baik sebagai buruh berupah rendah, maupun sebagai sasaran eksploitasi seksual dan komodifikasi tubuh perempuan,” mirip dengan apa yang aku kutip untuk tulisan “Feminis Marxis Seharusnya Inklusif Transgender: Tentang Kasus Partai Komunis Britania Raya (Marxis-Leninis).”

Ide tentang seksisme tentulah benar dan aku tidak menolak ini. Seksisme dapat memberikan kita penjelasan mengenai eksklusi perempuan dari kehidupan yang umumnya dikuasai laki-laki, seperti politik dan hukum. Tetapi, cukupkah itu untuk menjelaskan asal-usul kekerasan terhadap perempuan, misalnya? Mengapa perempuanlah yang menjadi target kekerasan (pelecehan dan pemerkosaan) terlepas dari asal usul kelasnya? Seksisme barangkali punya pengaruh di sini, meskipun menggunakan alasan ini saja terkesan memaksakan. Pendekatan ke kriminologi marxis sebagaimana aku kutip untuk tulisan “Mencurigai sesuatu di balik paedophilia” sepertinya lebih baik dalam menjelaskan ini daripada sekadar teori seksisme, yaitu kaitan antara kompetisi dengan dominasi, ideologi dibalik apa yang kita konsumsi, dan ketidaksetaraan ekonomi.

Namun, kekerasan laki-laki terhadap perempuan lebih berkaitan pada kenyataan bahwa laki-laki masih mendominasi di dalam kehidupan privat dan publik. Kekerasan itu timbul dari dan/atau untuk berkuasanya laki-laki [4]. Pembebasan perempuan hanya dimungkinkan dengan membongkar struktur patriarkis. Ya! Sebagaimana “tak ada pembebasan perempuan tanpa perjuangan kelas dan tak ada perjuangan kelas tanpa pembebasan perempuan.”, dalam menjelaskan ketertindasan perempuan, Marxisme membutuhkan Feminisme dan begitu pula sebaliknya. Menurutku, pernyataan oleh Ruth Indiah Rahayu dalam wawancara yang diterbitkan di situs Indoprogess berikut sangatlah perlu direfleksikan [5].

“Dengan melihat pengalaman sejarah, titik temu Marxisme dan Feminisme ada pada analisa kapitalisme, tetapi seringkali terjadi titik lepas pada analisa patriarki terhadap reproduksi dan seksualitas. Meski di dalam agenda sosialisme disepakati untuk menghancurkan patriarki, tetapi bahkan di dalam pengalaman negara sosialis, gerakan dan partai kelas pekerja yang mendambakan sosialisme, patriarki hidup di dalam kesadaran dan tindakannya.  Kekecewaan ini pernah menghantui Aleksandra Kollontai, atau aktivis perempuan sosialis awal abad 20, termasuk di negara-negara mantan jajahan di Amerika Latin, Asia dan Afrika sampai dewasa ini. Cerita di Indonesia dapat ditulis secara khusus mengenai hal ini. Maka saya tegaskan, persoalan patriarki inilah yang menjadi ancaman keterpecahan gerakan perempuan dan gerakan kelas pekerja, atau antara perjuangan kelas dan pembebasan perempuan.”

Aku hanya dapat menemukan dua itu karena aku tidak bisa mendapatkan akses ke tulisan lengkap mereka yang diterbitkan di ‘koran perjuangan’ mereka. Tetapi, sekiranya pembaca bisa memahami apa yang aku coba katakan di sini. Tulisan ini hanya dimaksudkan untuk mengingatkan kawan-kawan sosialis untuk berhati-hati mengambil sikap dan aku pikir tulisan ini tidak membuatku kurang Marxis atau Leninis karena aku menemukan diriku memiliki banyak kesetujuan dengan Marx-Engels dan Lenin dan mendukung perjuangan kawan-kawan sosialis. Sejujurnya aku hampir terjatuh pada posisi yang mirip dengan kasus ini. Pertemuanku dengan buku Sylvia Walby berjudul “Theorizing Patriarchy” (Indonesia: Teorisasi Patriarki) membantuku untuk mempertimbangkan kembali posisi tersebut.

Sebagai penutup, aku ingin mengutip pernyataan Marx di tulisan “Introduction to A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right” (Pengenalan kepada Kontribusi untuk Kritik terhadap Filsafat Hak Hegel):

“The weapon of criticism cannot, of course, replace criticism of the weapon, material force must be overthrown by material force; but theory also becomes a material force as soon as it has gripped the masses.”

(Senjata kritisisme tidak dapat, tentunya, menggantikan kritisisme dengan senjata, kekuatan material harus digulingkan oleh kekuatan material; tetapi teori juga menjadi sebuah kekuatan material seketika ia telah menggemgam massa.”