kOmUnIsMe IdEoLoGi GaGal

Orang bilang komunisme adalah ideologi gagal.

Pandangan yang menyatakan komunisme –Marxisme-Leninisme, kata “komunisme” sendiri sebenarnya dapat digunakan untuk merujuk banyak hal– sebagai ideologi gagal berpusat pada ide bahwa hari ini tidak ada lagi ‘negara-negara komunis’ (/sosialis) atau negara-negara yang benar-benar mengamalkan komunisme. Uni Republik-Republik Sosialis Soviet (URSS) dan ‘rezim-rezim komunis’ Eropa Timur telah runtuh. Demokrasi liberal telah menang. Yang disebut negara-negara komunis hari ini telah melakukan reforma-reforma berorientasi ekonomi pasar, membuka kesempatan untuk produksi privat dalam skala luas yang maka dari itu ‘menyerah’ kepada kapitalisme. Lebih lanjut, komunisme hanya memberi janji dan tidak benar-benar memenuhi kebutuhan orang-orang. Orang-orang di negara komunis hidup dalam kelaparan dan ketakutan. Komunisme selalu melahirkan diktator totalitarian. Banyak orang yang dibunuh di bawah rezim komunis. Agama dimusuhi dan orang-orang dipaksa menjadi atheis (/nonreligious). Jauh lebih dalam lagi, banyak partai-partai komunis di negara-negara kapitalis hari ini telah meninggalkan perjuangan revolusioner, seperti perang rakyat (dalam kasus Maois), dan memilih ikut serta dalam pemilu parlemen dan bersaing dengan partai bourgeois lainnya. Dan barangkali masih ada begitu banyak alasan lainnya baik yang didasarkan pada kenyataan dan yang tidak didasarkan pada kenyataan atau sekadar kebohongan yang senantiasa diproduksi dan direproduksi oleh bourgeoisie untuk mengontrol hati dan pikiran orang-orang.

Aku pikir tidak. Ada banyak contoh revolusi yang berhasil.

Revolusi berhasil yang paling diketahui adalah URSS. URSS memang tidak dapat bertahan sampai hari ini, namun, posisinya dalam perjalanan sejarah harus dikatakan sebegitu signifikan. Kehadirannya adalah yang pertama membuktikan bahwa tahap awal dari komunisme atau masa transisi menuju komunisme dapat dicapai. Itu menunjukkan bahwa setelah kapitalisme akan ada komunisme atau dengan kata lain, kelas buruh memiliki dunia untuk dimenangkan! Kuba komunis adalah salah satu negara yang suka dipuja-puji orang-orang kiri. Referendum terakhir di sana membuktikan sesuatu yang jauh lebih demokratik daripada negara-negara yang melabeli dirinya “negara demokratis”. Republis Sosialis Vietnam, sekalipun telah melakukan reforma-reforma pasar, misalnya reforma Doi Moi, masih dibela orang-orang komunis. Republik Rakyat Tiongkok hanya dibela oleh orang-orang komunis yang lebih moderat. Kelompok yang lebih radikal, seperti Maois, memegang pandangan anti-revisionis yang ketat dan memandang RRT sebagai sosio-imperialis.

Ada banyak orang percaya pada ‘sihir’ (/sains)-nya dan berjuang untuk pembebasan diri mereka.

Pandangan umum memposisikan orang-orang yang mendukung komunis sebagai ‘orang bodoh’ yang tersihir, tetapi bagi mereka yang terlibat dalam perjuangan, apa yang dilakukannya adalah jalan yang benar yang didasarkan pada teori yang benar pula (tidak berarti praktiknya selalu benar). Di tanah Indonesia sendiri, ada revolusi komunis sekalipun tidak berhasil.

Bahkan orang-orang yang telah ‘terbebaskan’ dari komunisme justru mengharapkannya kembali.

Setelah pembubaran URSS dan runtuhnya Tembok Berlin, rakyat di negeri-negeri ini menyambut “kebebasan” yang mereka idamkan sejak lama. Tetapi, mengalami “kebebasan” itu sendiri orang-orang yang sama justru menjadi kecewa. “Kebebasan” demokrasi liberal dan kapitalisme ternyata berbeda dengan apa yang mereka harapkan. Di bawah “kebebasan” ini mereka kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga yang tidak mungkin mereka dapat dalam basis produksi privat, ketika tanah-tanah, industri-industri, dan layanan publik yang penting (seperti kesehatan) diprivatisasi (saya tidak akan membahas perubahan-perubahan yang terjadi sejak Khruschev di sini). Apa yang terjadi selanjutnya adalah nostalgia ramai-ramai.

Komunisme ada di sana dan di sini, di dalam pikiran dan terwujud dalam perjuangan. Dan ia berhasil.

Apinya masih menyala sampai hari ini dan belum akan atau barangkali tidak akan padam sebelum kelas buruh terbebaskan dari belenggunya.

Maka dari itu, kelas penguasa, bourgeoisie, hidup dalam ketakutan. Mereka dihantui.

Bourgeoisie terlalu cepat mendeklarasikan akhir dari sejarah. Pada kenyataan, sejarah tidaklah setia kepadanya.

Karena ia berhasil, bourgeoisie harus melancarkan berbagai upaya untuk mensabotasenya, merusaknya, dan menghancurkannya. Mereka mengirim agen-agen intelijen untuk mempelajari dan melancarkan sabotase dan perang psikologis. Mereka mengirim tentara-tentara untuk membunuhi orang-orang yang melawan dan memadamkan perjuangan.

Pengadilan Moskow 1936-37-38 dilaksanakan untuk mengadili orang-orang yang ingin menghancurkan, atau minimal melemahkan URSS dari dalam dengan terorisme dan sabotase. Tembok Berlin dibangun dengan tujuan pengawasan daerah perbatasan, terutama untuk menghalangi keluar-masuk agen-agen intelijen asing. Perang Vietnam dan Perang Korea: perang melawan okupasi imperialis Amerika Serikat. Kudeta fasis di beberapa negeri, termasuk Indonesia, mendapat dukungan Central Intelligence Agency (CIA).

Mereka harus melakukan semua ini karena ideologi ini sebegitu berhasil dan kuat. Adalah bahwa ia tidak akan runtuh dengan sendirinya. Orang-orang yang mengalami revolusi yang berhasil tahu bahwa mereka tidak boleh kembali ke keadaan sebelum revolusi. Mereka tidak akan melepaskan ‘kebebasan’ ini untuk kembali hidup dieksploitasi di bawah kapitalisme. Mereka bangun dan melawan. Mereka akan mempertahankan revolusi.

Perlukah saya menjelaskan ini setelah semua yang di atas?