MLPD: No Chance for Anticommunism!

Marxist Leninist Party of Germany (MLPD) creates a six-part film series “No Chance for Anticommunism!” Four parts have been released. The English version of this series, as well as the German original, can be watched on their Youtube channel.

No chance for anti-communism! | English versions

“Anticommunism is a deeply undemocratic, intolerant and reactionary world outlook. There will be no socialist revolution and no victory over capitalism without overcoming it.” – Opening statement of Stefan Engel for “Lenin like a red rag to a bull?”

Feminis Marxis Seharusnya Inklusif Transgender: Tentang Kasus Partai Komunis Britania Raya (Marxis-Leninis)

Ada sebuah posisi yang mengejutkanku dari Partai Komunis Britania Raya (Marxis-Leninis), yaitu bahwa mereka menolak transgenderisme. Mengenai posisi tersebut, aku baru mengetahuinya ketika menonton video berikut, perbincangan Caleb Maupin dengan Joti Brar, seorang anggota dari partai tersebut. Hal ini juga sebenarnya disampaikan dalam kongres ke-8 partai tersebut yang tulisan mengenai ini ada di situs jejaring partai itu berjudul The reactionary nightmare of ‘gender fluidity’.

Perbincangan ini sebenarnya cukup bagus. Ia membahas banyak hal tentang marxisme dan posisi partai komunis ini dalam beberapa masalah. Pada menit ke-28 dari video, Maupin mencoba mengangkat masalah transgender dan meminta Brar untuk memberi penjelasan mengenai posisi kontroversial dari partainya mengenai hal tersebut. Aku menonton kembali video ini, khusus di bagian masalah itu, dan menemukan beberapa hal yang menjadi argumen CPGB (ML) untuk menolak “ideologi transgenderisme”.

Permasalahan yang menjadi fokus sebenarnya adalah ideologi (bukan orang-orang transgender) yang ditimpakan (pushed) ke orang-orang bahwa “You are what you think you are” (kamu adalah apa yang kamu pikirkan). Sebagai seorang marxis, Joti Brar melihat bahwa ideologi transgenderisme ini merupakan sebuah konsepsi yang idealis dan bukannya materialis. Ia juga sempat menyebut “I think, therefore I am” (aku memikirkan, maka itulah aku) yang merupakan pernyataan Rene Descartes. Menurut Brar, seorang marxis tidak melihat kenyataan sebagai sesuatu yang dipikirkan melainkan sebagai apa yang ada secara material dan ‘kenyataan material’-lah yang menjadi dasar bagi pemikiran marxis. Jadi, ada materi, lalu otak kita menginterpretasinya, muncullah ide. Dari sini, kita tahu bahwa Brar paham betul mengenai posisi materialis-nya marxis.

Mengenai gender, ia melihat itu sebagai sesuatu yang tidak berbeda dengan seks (jenis kelamin). Stereotip gender-lah yang menurut dia seharusnya dipahami, yang mana ini merupakan sebuah konstruk sosial yang sebagian memiliki dasar material (tubuh) dan sebagian lainnya tidak. Ide transgender tampak menerima dan bahkan mendorong stereotip mengenai maskulinitas dan femininitas ini daripada melawannya. Dia menyatakan bahwa penampilan seorang transpuan yang sebegitu memaksakan femininitas yang terseksualisasi justru merupakan hal yang menekan (opresif) bagi perempuan-perempuan pekerja biasa yang ‘terlahir sebagai perempuan’ karena sesungguhnya yang diharapkan oleh semua perempuan adalah hilangnya stereotip-stereotip ini dari sejarah manusia ke depannya.

Sampai di sini, ini menjadi sebuah kritisisme yang menarik mengenai perjuangan pembebasan LGBT. Tetapi! Tambak bagiku, CPGB (ML) mengalami suatu macam ketakutan berlebihan pada pemikiran-pemikiran baru yang dicurigainya sebagai ideologi-ideologi borjuis yang akan memiliki tujuan melemahkan perjuangan rakyat pekerja di dunia. Sebenarnya partai ini mengambil posisi yang tepat, sebagaimana sosialis-sosialis pada umumnya, dengan melakukan perlawanan terhadap ‘politik identitas’. Hanya saja, aku akan menggunakan pada kesempatan ini saja (karena aku tidak sepakat dengannya) istilah ‘reduksionisme kelas’ untuk menjelaskan posisi CPGB (ML). Adalah benar melihat internasionalisme proletarian sebagai hal penting karena pada dasarnya semua rakyat pekerja di dunia dari berbagai negeri, dari berbagai latar belakang etnik, agama, ras dll, termasuk juga seksualitas, sedang berhadapan dengan musuh yang sama, yaitu bourgeoisie. Yang menjadi masalah adalah pengabaian pada pengalaman spesifik dari orang-orang yang berbeda ini. Ada beberapa alasan mengenai ini yang aku rasa diketahui oleh kawan-kawan yang barangkali masih memiliki keraguan dalam mengambil posisi yang tepat.

Gender perlu dipisahkan dengan seks karena konstruk gender biner yang kita kenal merupakan sesuatu yang dapat dikatakan baru dalam perjalanan sejarah manusia, bukan hal yang ada sejak masyarakat (komunisme) primitif. Itu berarti ia tidak berkaitan langsung dengan sifat alami manusia atau dasar tubuh biologis. Penindasan terhadap kelompok LGBTQIA+, khususnya pada zaman kapitalisme, berkaitan erat dengan bentuk institusi keluarga yang menguntungkan bagi efisiensi reproduksi tenaga kerja (dan pasukan cadangannya) jika dipertahankan. Sherry Wolf (2009, Haymarket Books) dalam bukunya Sexuality and Socialism: History, Politics, and Theory of LGBT Liberation menulis penjelasan yang bagus mengenai ini.

“LGBT oppression, like women’s oppression, is tied to the centrality of the nuclear family as one of capitalism’s means to both inculcate gender norms and outsource care for the current and future generations of workers at little cost to the state…In addition, the oppression of LGBT people under capitalism, like racism and sexism, serves to divide working-class people from one another, especially in their battles for economic and social justice….women’s oppression derives from the structure of the family, in which the reproduction and maintenance (child care, housework, cooking, etc.) of the current and future generations of workers are foisted upon individual families rather than being the responsibility of society. Capitalism depends on privatised reproduction to raise the next generation of workers at little expense to itself. Likewise, the oppression of LGBT people stems from the implicit challenge that sexual minorities pose to the nuclear family and its gender norms.” (dikutip dari Communist Party of India (Marxist-Leninist) Liberation, “Marxism, The Bolshevik Revolution and LGBT Liberation”)

(Penindasan LGBT, sebagaimana penindasan perempuan, berkaitan dengan sentralitas dari keluarga inti sebagai salah satu cara kapitalisme untuk baik menanamkan norma-norma gender dan penemuan sumber dari luar untuk menghidupi generasi-generasi pekerja-pekerja saat ini dan masa depan dengan biaya rendah bagi negara… Sebagai tambahan, penindasan orang-orang LGBT di bawah kapitalisme, seperti rasisme dan seksisme, berguna untuk memecah rakyat kelas pekerja dari satu sama lain, khususnya dalam pertarungan mereka untuk keadilan sosial dan ekonomi… penindasan perempuan berasal dari struktur keluarga, yang mana reproduksi dan pemeliharaan (pengurusan anak, kerja rumah tangga, memasak, dll) dari generasi-generasi pekerja-pekerja saat ini dan masa depan dipaksakan kepada tiap-tiap keluarga daripada menjadi tanggung jawab dari masyarakat. Kapitalisme bergantung pada reproduksi yang diprivatisasi untuk membesarkan generasi pekerja-pekerja berikutnya dengan biaya rendah bagi [berjalannya proses produksi dalam] dirinya. Seperti halnya, penindasan orang-orang LGBT timbul dari tantangan implisit yang minoritas-minoritas seksual tujukan pada keluarga inti dan norma-norma gendernya.)

Tulisan oleh Partai Komunis India (Marxis-Leninis) Pembebasan yang menjadi sumber kutipan di atas menyebutkan bagaimana revolusi sosialis 1917 di tanah Rusia sangat peka terhadap beragam pengalaman ketertindasan dari kelas pekerja. Misalnya, mengenai masalah seksualitas, negara tidak akan campur tangan sama sekali selama tidak ada yang dirugikan. Ini memberi kita kejelasan seberapa pentingnya keberpihakan sosialis pada kelompok LGBT.

It declares the absolute noninterference of the state and society into sexual matters, so long as nobody is injured, and no one’s interests are encroached upon. [Penekanan sesuai sumber asli]

([Undang-Undang Soviet] menyatakan non-interferensi sepenuhnya dari negara dan masyarakat mengenai masalah-masalah seksual, selama tidak ada seseorang yang terluka, dan tidak ada kepentingan-kepentingan seorangpun yang diganggu.)

CPI (ML) Liberation juga mengkritisi pemerintahan Soviet pada masa Stalin yang mengkriminalisasi kembali homoseksual. Mengutip Sherry Wolf, kembalinya kebijakan yang patriarkal dan homofobik berkaitan erat dengan kepentingan Uni Republik-Republik Sosialis Soviet untuk memiliki ketersediaan tenaga kerja sebesar-besarnya yang berarti membutuhkan tingkat kelahiran yang tinggi. CPI (ML) Liberation menilai ini sepatutnya bisa dihindari, berpendapat cara lain dapat dipilih bahkan dengan mempertimbangkan keadaan URSS pada masa itu.

Aku pikir aku akan mengakhiri di sini. Sebagai penutup, aku ingin mengatakan bahwa kepekaan kita pada pengalaman-pengalaman dari pekerja-pekerja dengan latar belakang berbeda adalah penting. Selain sebagai wujud solidaritas antara pekerja-pekerja, ia juga penting untuk terwujudnya internasionalisme proletarian, persatuan semua pekerja di dunia, yang dengan itu perjuangan kita tidak terpecah belah.

“United We Stand, Divided We Fall – An Injury to One is an Injury to All.” (dikutip dari Communist Party USA, “Proletarian internationalism”)

(Bersatu Kita Tegak, Terbelah Kita Jatuh – Satu Luka bagi Satu Orang adalah Luka bagi Semuanya.)

Mengenai Tembok Berlin, Trotskyite, dan Stalin Yang Menunggu Kebenaran

Sungguh, aku triggered sejak melihat judulnya saja. Ambil judul Runtuhnya Tembok Jerman dan Runtuhnya Stalinisme, tetapi sama sekali tidak memberikan argumentasi jelas, malah menyebarkan propaganda anti-komunis. Hal-hal mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Jerman, atau khususnya Republik Demokratik Jerman, hanya dibahas sedikit sekali. Kuliah ini hanya sekadar propaganda anti-Stalin belaka yang tidak menarik. Berikut adalah beberapa kenyataan yang ada.

Pertama, tuduhan totaliter pada Stalin (Stalinisme), telah dibuktikan oleh penelitian-penelitian terakhir, adalah kebohongan yang diproduksi barat kapitalis, kaum revisionis (seperti Khrushchev dalam Pidato Rahasia nya), oposisi kanan (yang mana Trotsky menjadi bagian), dan pemerintah fasis (yang mana Trotsky berkolaborasi dengan mereka). Akses ke sumber-sumber penting yang menyatakan hal ini dapat ditemukan di bagian akhir tulisan ini. Aku tidak menyatakan bahwa Stalin adalah suci, bebas dari segala kesalahan. Aku mengakui beberapa kesalahan dari Stalin dan pemerintah Soviet pada masa itu, tetapi kesalahan-kesalahan tersebut haruslah diakui tidak termasuk kejahatan sebagaimana dituduhkan.

“The common or “mainstream” view of Stalin as a bloodthirsty tyrant is a product of two sources: Trotsky’s writings of the 1930s and Nikita Khrushchev’s “Secret Speech” to the XX Party Congress in February, 1956. This canonical history of the Stalin period – the version we have all learned — is completely false. We can see this now thanks mainly to two sets of archival discoveries: the gradual publication of thousands of archival documents from formerly secret Soviet archives since the end of the USSR in 1991; and the opening of the Leon Trotsky Archive at Harvard in 1980 and, secondarily, of the Trotsky Archive at the Hoover Institution (from where I have just returned).” – Grover Furr, “The Ukrainian Famine: Only Evidence Can Disclose the Truth”

Kedua, pemecahan Jerman menjadi Timur dan Barat bukanlah kehendak Stalin, melainkan kapitalis-kapitalis barat yang ingin menguasai industri-industri besar yang ada di bagian barat negeri itu. Stalin hanya meminta Jerman dimerdekakan sebagai negara netral dengan tanggung jawab membayar kerugian perang pada Uni Republik-Republik Sosialis Soviet.

The creation of the GDR was a reaction to the creation of the Federal Republic of Germany in 1949, after the Western-controlled sectors of Berlin introduced a separate currency so as to undermine the economic stability of the Eastern side. Contrary to what is taught in the capitalist education system, the Soviet Union and its allies never wanted a partitioned Germany, instead favouring a unified but neutral state. But in 1952 the Soviet proposals for German reunification were rejected by the West, under its chancellor, Konrad Adenauer. West Germany was later armed and financed by the United States. – Graham Harrington, “The Berlin Wall, thirty years later”

Ketiga, Tembok Berlin berdiri pada masa Khrushchev. Tembok itu didirikan pada tahun 1961 sebagai opsi terakhir atas dasar kepentingan melindungi rakyat Jerman Timur dari kehilangan orang-orang terpelajar yang dibutuhkan untuk pembangunan masyarakat yang sejahtera. Kesempatan bisnis dan godaan upah yang lebih tinggi mengakibatkan migrasi yang menurunkan populasi sebesar 10 persen. Alasan lain juga adalah ancaman spionase dan sabotase oleh CIA dan BND (intelijen Jerman Barat). Tentu jika memungkinkan, berbagai penghalang, pemisah antara Barat dan Timur ini tidak pernah ada. Paradigma anti-komunis mencoba mengatakan bahwa tembok ini adalah penjara, tetapi latar belakang dari didirikannya tembok ini adalah sebagai pelindung.

“By 1961, the East German government decided that defensive measures needed to be taken, otherwise its population would be depleted of people with important skills vital to building a prosperous society. East German citizens would be barred from entering West Germany without special permission, while West Germans would be prevented from freely entering the GDR. The latter restriction was needed to break up black market currency trading, and to inhibit espionage and sabotage carried out by West German agents. [27] Walls, fences, minefields and other barriers were deployed along the length of the East’s border with the West. Many of the obstacles had existed for years, but until 1961, Berlin – partitioned between the West and East – remained free of physical barriers. The Berlin Wall – the GDR leadership’s solution to the problems of population depletion and Western sabotage and espionage — went up on August 13, 1961. [28]” – Stephen Gowans, “Democracy, East Germany and the Berlin Wall”

Keempat, mengenai keterkaitan kejadian ini dengan stalinisme, aku juga merasa itu adalah tuduhan absurd. Sebenarnya apa itu stalinisme? Apakah barangkali kata Stalinisme merujuk pada rezim sosialis di berbagai negeri dengan partai berideologi marxis-leninis, yang tidak menerapkan teori-teori Trotsky? Tentu saja, seorang Bolshevik, seorang komunis tidak akan mengikuti Trotskyisme. Teori Trotsky adalah kombinasi antara Bolshevisme dan Menshevisme. Ia mengambil dari Bolshevik perjuangan revolusioner proletarian dan pengambilan kekuasaan oleh kaum buruh, tetapi dari Menshevik, ia mengambil posisi “menolak” peran kaum tani dalam revolusi, atau dengan kata lain menolak “kediktatoran proletarian dan tani demokratik” yang merupakan gagasan Lenin, seorang Bolshevik.

“A whole decade—the great decade of 1905-15—has shown the existence of two and only two class lines in the Russian revolution. The differentiation of the peasantry has enhanced the class struggle within them; it has aroused very many hitherto politically dormant elements. It has drawn the rural proletariat closer to the urban proletariat (the Bolsheviks have insisted ever since 1906 that the former should be separately organised, and they included this demand in the resolution of the Menshevik congress in Stockholm). However, the antagonism between the peasantry, on the one hand, and the Markovs, Romanovs and Khvostovs, on the other, has become stronger and more acute. This is such an obvious truth that not even the thousands of phrases in scores of Trotsky’s Paris articles will “refute” it. Trotsky is in fact helping the liberal-labour politicians in Russia, who by “repudiation” of the role of the peasantry understand a refusal to raise up the peasants for the revolution!” – V.I. Lenin, “On the Two Lines in the Revolution” (1915)

Kelima, tuduhan “sosialisme di satu negeri” mengabaikan internasionalisme sangatlah tidak Marxis dan Leninis. Revolusi sosialis memanglah akan mendunia, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk revolusi terjadi di satu negeri terbelakang (mata rantai terlemah dari imperialisme).

“Revolusi di satu negeri tidak harus merupakan permulaan dari Revolusi Dunia, tapi revolusi dunia akan terus berjalan karena dimulai dengan kemenangan baru di negeri-negeri di mana kapitalisme lemah untuk satu periode waktu sejarah yang panjang. Kematangan tak merata dari kondisi untuk meletusnya revolusi meniadakan terjadinya revolusi secara bersamaan di tiap negeri” – Tatiana Lukman, 2016, “Trotskyisme? Sosialisme di Satu Negeri atau Revolusi Permanen?” hlm. 143

Terakhir, aku hanya ingin mengatakan bahwa pembelaanku terhadap Stalin didasarkan ketersediaanku melakukan kritik diri mengenai posisiku. Aku dulu sempat menjadi pengikut Trotsky untuk waktu yang sebentar sebelum aku mempelajari Marxisme-Leninisme. Aku juga kenal beberapa kawan sosialis yang pemikirannya banyak mengambil dari Trotsky. Aku diam saja karena tidak ingin menyulut konflik. Awalnya aku mengambil judul “Kebodohan Trotskyite” karena rasa kesal, namun kemudian aku ralat. Tetapi, sungguh, aku pikir para pengikut Trotsky harus mau menerima berbagai ‘kebenaran-kebenaran’ mengenai Stalin dan Trotsky yang awalnya untukku sendiri tidak menyenangkan.

Beberapa sumber penting:

Penelitian oleh Grover Furr yang dituangkan dalam buku-bukunya, Khrushchev lied : the evidence that every “revelation” of Stalin’s (and Beria’s) “crimes” in Nikita Khrushchev’s infamous “secret speech” to the 20th party congress of the Communist Party of the Soviet Union on February 25, 1956, is provably false (tautan baca ke Internet Archiev),

Blood Lies: The Evidence that Every Accusation against Joseph Stalin and the Soviet Union in Timothy Snyder’s Bloodlands Is False (tautan baca ke The Materialist Reader’s Omnibus),

Stalin and the Struggle for Democratic Reform (tautan baca ke Cultural Logic: A Journal of Marxist Theory & Practice: bagian pertama, bagian kedua),

The Murder of Sergei Kirov: History, Scholarship and the Anti-Stalin Paradigm (tautan beli ke Erythrós Press and Media), dan

The Mystery of the Katyn Massacre: The Evidence, The Solution (tautan beli ke Erythrós Press and Media)

Tulisan oleh Jules Humbert-Droz berjudul Nikolai Bukharin on the Use of Individual Terror Against Stalin (tautan baca ke Revolutionary Democracy)

Presentasi Grover Furr di 7th World Socialism Forum, World Socialism Research Center berjudul Trotsky’s Lies – What They Are, and What They Mean (tautan baca ke Grover Furr’s Home Page)

Tulisan oleh Grover Furr dan Vladimir Bobrov berjudul Bukharin’s “Last Plea”: Yet Another Anti-Stalin Falsification (tautan baca ke Grover Furr’s Home Page) dan

Stalin’s Justice: Not Subject to Appeal (tautan baca ke Grover Furr’s Home Page)

Tulisan oleh Grover Furr dalam jurnal Cultural Logic: A Journal of Marxist Theory & Practice berjudul Evidence of Leon Trotsky’s Collaboration with Germany and Japan (tautan baca) dan

Nikolai Bukharin’s First Statement of Confession in the Lubianka (tautan baca)

Tulisan oleh Grover Furr dalam jurnal Socialism and Democracy berjudul The “Official” Version of the Katyn Massacre Disproven?: Discoveries at a German Mass Murder Site in Ukraine (tautan baca)

Tulisan oleh Grover Furr berjudul New Light On Old Stories About Marshal Tukhachevskii : Some Documents Reconsidered (tautan baca Grover Furr’s Home Page)

Tulisan oleh D.N. Pritt berjudul The Zinoviev Trial (tautan baca ke Revolutionary Democracy)

Tulisan oleh D.N Pritt dan Pat Sloan The Moscow Trial Was Fair (tautan baca ke Marxists Internet Archieve)

Otobiografi oleh Joseph E. Davies, Mission To Moscow (tautan baca ke Internet Archieve)

Tulisan oleh Mark Tauger berjudul Stalin, Soviet Agriculture and Collectivization dalam buku Food and Conflict in Europe in the Age of the Two World Wars, yang disunting oleh Frank Trentmann dan Flemming Just (tautan baca ke New Cold War: News and Analysis of the Multipolar World)

Tulisan oleh Mark Tauger berjudul Natural Disaster and Human Actions in the Soviet Famine of 1931–1933 dalam jurnal The Carl Beck Papers in Russian and East European Studies (tautan baca)

Tulisan oleh Mark Tauger berjudul The 1932 Harvest and the Famine of 1933 dalam jurnal Slavic Review edisi 1991 (tautan baca ke New Cold War: News and Analysis of the Multipolar World)

Tulisan oleh Harry Haywood berjudul Trotsky’s Day in Court dalam bukunya, Black Bolshevik: Autobiography of an Afro-American Communist (tautan baca ke Marxists Internet Archieve)

Subversi kiri: bertahap melempar kapitalisme

Tulisan ini didasarkan pada kumpulan pengalaman-pengalamanku yang kacau (tidak teratur) tetapi entah kenapa bisa disambung-sambungkan menjadi sebuah pemikiran. Pertama, aku akan berbicara sedikit tentang sebuah podcast yang pernah aku dengar dari channel Aufhebunga Bunga yang berjudul Übermenschen of Capital. Di bagian pertama (pt. 1), dibicarakanlah masalah entrepreneurship dan hubungannya dengan kapitalisme. Agak sulit mengikuti karena berbahasa Inggris dan cukup mendalam (setingkat Doktor kali ya?), tetapi aku coba ikuti. Ada yang salah dengan entrepreneurship saat ini karena ia dilihat sebagai cara untuk menjadi kaya. Jadi, yang sebenarnya ada adalah kekaguman pada orang-orang kaya yang ini berbahaya karena kekayaan adalah hasil penimbunan dan akumulasi kapital yang berlebihan semacam itu bisa dilihat sebagai penindasan. Ini menjadikan entrepreneurship semacam perlombaan yang kreatif antara orang-orang dengan saling menindas untuk mendapatkan kekayaan. Dalam hal ini, entrepreneurship tidak dilihat sebagai usaha atau perjuangan untuk membangun sebuah usaha tetapi cara-cara yang dapat dilakukan (dengan bentuk penindasan yang kreatif) untuk menjadi kaya. Ia sepatutnya dipahami sebagai usaha untuk membangun usaha secara bersama-sama dan bermanfaat bagi semuanya, setidaknya bagi semua orang yang terlibat dalam membangun usaha itu.

Kedua, halaman Facebook dari anarkis.org eh salah, setelah saya cek, ternyata halaman Facebook K i d a l i s a s i terselubung Ыуат pernah menulis pos yang menunjukkan kira-kira bagaimana sebuah usaha dibangun dalam masyarakat anarkis (dengan contoh yang nyata). Dalam pemahamanku, apa yang ditunjukkan dalam pos ini dekat atau tepat dengan apa yang disebut market socialism. Dalam sosialisme pasar, proses produksi berjalan sesuai kaidah-kaidah sosialis atau sebut saja mode produksi sosialis tetapi hanya saja mekanisme pasar dibiarkan tetap ada untuk munculnya demand atas produk.

Ketiga, sepotong kecil pengetahuan yang berhubungan dengan postmodernisme mengenai consumer society. Dalam masyarakat konsumer, segalanya berjalan secara jauh berbeda dengan jenis masyarakat sebelumnya. Segalanya telah menjadi rumit, misalnya masuknya nilai-tanda ke dalam komoditas dan bagaimana orientasi masyarakat telah bergeser dari memproduksi ke mengkonsumsi produk sebanyak-banyaknya.

Yang pertama mengemukakan masalah entrepreneurship dalam kapitalisme dan masalah itu sepertinya diselesaikan oleh yang kedua dengan apa yang disebut sosialisme pasar dan yang kedua ini nampaknya lebih responsif mengenai keadaan zaman (yang dikemukakan oleh yang ketiga) bahwa masyarakat saat ini (terutama generasi muda) saya yakin tidak akan siap dengan (sebut saja) perekonomian non-pasar. Pada intinya, saya ingin mengatakan bahwa usaha overthrowing capitalism perlu berubah dari cara-cara yang revolusioner dan maskulin ke usaha-usaha yang subversif dan lebih applicable (sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini). Masalah utama mungkin adalah bagaimana terpaan informasi yang ‘ke-kiri-an’ ini (seperti di atas) lebih banyak dapat dimunculkan di media-media arus utama (daripada isu-isu politik dangkal yang tidak jelas). Ini diperlukan agar kita bisa ‘menyelamatkan’ generasi baru dari narasi-narasi kanan. Generasi lama mah sudah terlanjur kacau-balau.

Taktik yang berlingkup lebih luas dan untuk jangka panjang adalah memenangkan subversi, membuat benteng, dan memperluas wilayah. Misalnya, pertama kita memenangkan narasi entrepreneurship yang sosialis(tik). Kemudian, narasi ini dicobapertahankan dari serangan narasi yang kapitalistik bersamaan dengan melakukan perang narasi terhadap sisi-sisi atau wilayah lain. Ide ini terinspirasi pemikiran postmodern Foucault, Giddens, dan Bourdieu (promosi). Menurutku, ketika wakil-wakil rakyat tidak bisa diharapkan apalagi fobia komunisme masih belum dapat disembuhkan, cara-cara seperti ini diperlukan.

PESAN PENTING:

YA MBOK JANGAN BERKELAHI, WAHAI MARXIS DAN ANARKIS! TUJUAN KITA SAMA!

 

Mengapa aku ke kiri?

Mengapa aku pindah haluan ke Sosialisme (Demokratis)?

Pada masa SMA dulu, aku penggilanya liberalisme-kapitalis. “Kesengsaraanmu (kemlaratan) adalah kesalahanmu,” pikir saya dulu.

Aku beruntung ketika kuliah dapat “pencerahan”, kenal ilmu sosial-politik dan filsafat. “Wah, gila ini! Harus diubah ini!” Sebenarnya dari dulu, bahkan sejak kelas 5 SD, aku sudah merasa ada yang ganjil atau tidak benar dengan masyarakat ini tetapi tidak tahu apa sebenarnya yang salah itu. “Kenapa orang-orang seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya diriku dulu. Karena aku tipe orang yang suka memberontak (radikal), negara yang condong ke “kanan”, kapitalisme, ini perlu putar setir ke “kiri”, sosialisme.

Ketika aku belajar sosialisme, aku lihat sosialisme (negara) yang ada di USSR (Uni Soviet) tidaklah tepat. Membunuh kebebasan individu adalah salah. Itu tidak sesuai dengan filsafat negara Indonesia, yaitu Pancasila. Pancasila menghargai tiap individu sebagai bagian dari masyarakat: masyarakat dibentuk oleh individu dan individu hanya akan berharga ketika menjadi bagian dari masyarakat (kata buku LKS PKn SMA).

Kebetulan melihat dinamika politik di AS (Amerika Serikat) yang ada “Democratic Socialism”, aku merasa “wow” dengan yang satu ini, sosialisme yang menghargai kebebasan individu (dengan imbuhan kata “demokratis”). Kecewaku adalah cita-cita mulia sosialis untuk keadilan sosial terlanjur dapat “citra buruk” dari kegagalan sosialis terdahulu dan orang partai komunis yang “kehilangan arah”.

Kapitalisme yang sangat jelas “ketidaksempurnaannya” menjadi seolah-olah seperti hukum alam yang tak dapat ditolak. Berbeda dengan sosialisme-komunisme yang adalah “ciptaan manusia”, kapitalisme itu muncul secara alami sebagai produk modernisasi-industrialisasi. Namun, yang sekadar ciptaan manusia itulah yang telah membuka mata orang, yang telah berkontribusi menggeser pikiran orang untuk tidak memeluk “kapitalisme murni”.

Sosialisme adalah “counter hegemony”-nya kapitalisme. Jika orang tidak diberitahu alternatif bahwa ada jalan “kiri” selain jalan “kanan”, orang akan beranggapan jalan yang ada hanya satu itu saja. Namun, sosialis tidaklah merasa yang paling benar, sosialis tidak antikritik. Aku masih terbuka untuk alternatif lain karena mungkin saja tidak hanya ada kanan dan kiri (mungkin masih ada depan dan belakang atau atas bawah atau yang ada di dimensi ke-empat, entahlah).

Pancasila menjamin keadilan sosial tetapi kapitalisme (hampir) tidak. Alasan itu menjadi motivasi (etis) saya menentang “keserakahan kapitalis”, selain itu, juga ada dampak lingkungan dari eksploitasi sumber daya alam. Aku menyambut baik hadirnya neokapitalisme, yaitu versi yang lebih berkeadilan dan mempersatukan (hutang sosial nol) dari kapitalisme. Meskipun aku bukan orang pintar dan orang bejo, aku juga (berusaha) berinovasi.

Mengangkat kembali guyonan lamaku: “Aku belum mau mati. Negaraku masih seperti ini.”

Tanggal dan bulan lahirku sama seperti Karl Marx 😀